Minggu, 11 Juni 2023

Materi Pakan Ternak Unggas : MENENTUKAN KEBUTUHAN ZAT MAKANAN

MENENTUKAN KEBUTUHAN ZAT MAKANAN

 

Pengetahuan Yang Dibutuhkan

  1. Kebutuhan Zat Makanan Baik Makro Maupun Mikro Bagi  Unggas Diidentifikasi

Kebutuhan nutrisi ternak unggas berbeda sesuai dengan jenis unggas, bangsa, umur, fase produksi, dan jenis kelamin. Kebutuhan nutrisi tersebut mencakup protein (protein kasar, asam amino lisine . methionin ) lemak, kandungan energi, Vitamin, mineral terutama Ca, dan P. Bahkan dalam literatur dapat ditemukan estimasi pertambahan bobot badan, konsumsi pakan serta efisiensi penggunaan pakan untuk unggas yang diekspresikan ke dalam Feed Conversion Ratio (FCR). Kebutuhan vitamin dan mineral lainnya umumnya sudah terpenuhi dengan mencampurkan premix (campuran berbagai vitamin dan mineral) ke dalam campuran pakan.

 

  1. Kebutuhan Nutrisi Unggas

 

Pakan unggas disusun dari beberapa bahan pakan semacam biji-bijian, bungkil kedelai, tepung limbah ternak, lemak dan campuran vitamin-mineral.  Bahan pakan tersebut ditambah air akan menghasilkan energi dan nutrisi yang penting untuk pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak unggas. Bahan pakan tersebut adalah protein (asam amino), karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Energi yang dibutuhkan unggas dihasilkan dari pencernaan karbohidrat, lemak dan protein. Pakan unggas juga termasuk bahan yang tidak termasuk nutrisi misalnya pigmen xantofil untuk menambah warna kuning telur, faktor pertumbuhan, dan bahan antimikroba.

 

1). Energi

 

Energi bukan merupakan nutrisi, tetapi merupakan hasil dari proses oksidasi bahan pakan yang akan menghasilkan energi dan nutrisi selama proses metabolisme. Nilai energi dari bahan pakan dapat diekpresikan dengan beberapa cara. Deskripsi tersebut berhubungan dengan nilai energi, termasuk pengukuran (digestible energy, metabolisme energy dll).

 

2). Terminologi Energi

 

Deskripsi singkat terminologi yang paling sering digunakan pada pakan ternak unggas sebagai berikut:

·      Kalori (Cal)

Satu kalori adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram airdari 16,50C menjadi 17,50C. Karena panas spesifik air berubah dengan temperatur maka secara lebih akurat 1 kalori sama dengan 4,184 joules.

·      Kilo Kalori (kcal)

1 kilo kalori sama dengan 1.000 kalori dan merupakan unit yang sering digunakan pada pakan ternak unggas.

·      Joules

Satu joules sama dengan 107 erg (1 erg adalah jumlah energi yang diperlukan untuk mempercepat perpindahan masa 1 gram dengan 1 cm/detik)

 

3). Gross Energy (GE)

 

GE merupakan energi yang dilepaskan sebagai panas jika suatu substansi dioksidasi menjadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pengukuran GE menggunakan bom kalorimeter dengan tekanan oksigen 25 sd 30 atmosphere.

 

4). Digestible Energy (DE)

 

DE merupakan gross energy pakan yang dikonsumsi dikurangi gross energy pada feces. Unggas mensekresikan feces dan urin bersama-sama sehingga sulit memisahkan feces dan mengukur kecernaan. Sebagai konsekuensi nilai DE jarang digunakan pada formulasi pakan unggas.

 

Keuntungan system DE adalah mudah mengukurnya tetapi tidak memberi penjelasan tentang semua energi yang hilang yang disebabkan oleh proses pencernaan dan metabolisme zat-zat makanan. Kelemahan utama dari system DE bila digunakan dalam system pemberian pakan adalah over estimasi energi yang tersedia untuk bahan makanan yang sukar dicerna (misalnya hijauan) dan  relatif terhadap bahan makanan yang mudah dicerna (misalnya biji-bijian).

 

5). Metabolisme Energy (ME)

 

ME merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi dikurangi dengan gross energi pada feces, urine dan gas hasil metabolisme. Untuk unggas energi pada gas biasanya diabaikan, sehingga ME merupakan energi dalam pakan dikurangi energi sekresi unggas. ME paling banyak digunakan dalam perhitungan formulasi pakan unggas. ME = 0,82 DE

 

6). Net Energy (NE)

 

NE merupakan enegi metabolisme dikurangi energi yang hilang sebagai increment panas atau panas yang timbul dalam tubuh oleh reaksi biokimia dalam saluran pencernaan atau dalam sel. Di daerah dingin panas tersebut dimanfaatkan untuk menjaga temperature tubuh tetapi di daerah panas akan dibuang melalui konveksi ke udara sekeliling ternak .  NE bisa terdiri dari energi yang digunakan untuk menjaga (maintain) tubuh atau kebutuhan hidup pokok dan produksi sehingga tidak ada NE absolute pada bahan pakan. Dengan alasan ini NE jarang digunakan pada formulasi pakan unggas. NE bisa merupakan energi yang diperlukan untuk menjaga tubuh (NEm) dan energi untuk produksi (NEp).

 

 

 

 

7).     TDN (Total Digestible Nutrient)

 

Sistem ini berdasarkan analisis proximat yang memberi nilai DE pada lemak dapat dicerna dan protein dapat dicerna. Sistem TDN merupakan bentuk pengukuran kompromi antara DE dan ME. (0,45 kg TDN setara dengan 2.000 kkal DE atau 1,600 kkal ME. Menurut NRC (National Researh Council)   nilai TDN hampir semua merupakan hasil konversi dari ME, dengan persamaan: 1 kg TDN = 3,6155 Mkal ME = 4,4 M kal DE

 

b. Nutrisi Pakan

 

Zat makanan (nutrisi) merupakan substansi yang diperoleh dari bahan pakan yang dapat digunakan ternak bila tersedia dalam bentuk yang telah siap digunakan oleh sel, organ dan jaringan. Zat makan tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 6 kelompok yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Masing-masing kelompok diuraikan sebagai berikut:

 

1). Karbohidrat

 

Karbohidrat merupakan sumber energi yang penting bagi unggas. Biji-bijian semacam jagung, sorgum, gandum dan barley merupakan bahan pakan sumber karbohidrat. Di Indonesia juga terdapat sumber karbohidrat seperti gaplek, onggok, dedak dll Mayoritas karbohidrat dalam biji-bijian berupa pati yang siap untuk dicerna unggas.

 

Unit dasar karbohidrat adalah gula sederhana, yaitu heksosa karena setiap molekul mengandung enam atom karbon. Sedikit heksosa bebas dapat dijumpai pada tanaman. Sebagian besar adalah bentuk disakarida, yang merupakan kombinasi dua gula heksosa atau polisakarida-polimer beberapa molekul heksosa. Disakarida yang paling penting dijumpai di alam adalah sukrosa dan laktosa,  lakstosa adalah gula yang dijumpai pada air susu, sedang sukrosa terdapat pada sebagian besar tanaman.

 

Karbohodrat ini termasuk polisakarida seperti pati, selulosa, hemiselulosa dan pentosan dan oligisakarida seperti stachyose dan raffinose yang sulit dicerna unggas. Selulosa merupakan persenyawaan organik yang banyak terdapat di alam. Hampir 50% bahan organik pada tanaman terdiri dari selulosa. Pada ternak unggas tidak bisa mencerna selulosa karena tidak memiliki enzim selulase, pada ternak ruminansia enzim selulase diproduksi oleh mikroba didalam rumen sehingga mampu mencerna selulosa.

 

Karbohidrat yang berguna bagi unggas adalah gula heksosa, sukrosa, maltosa dan amilum (pati). Laktosa tidak dapat dicerna karena saluran pencernaan unggas tidak menghasilkan lactase.  Bahan pakan sebagi sumber energi yang baik bagi unggas adalah yang mengandung karbohidrat yang mudah dicerna, yaitu  bahan yang mengandung serat kasar (selulosa, hemiselulosa dan lignin) rendah dan sebaliknya bahan yang mengandung serat kasar tinggi memiliki nilai nutritif yang rendah bagi unggas

 

2). Protein dan Asam Amino

 

Protein adalah persenyawaan organic komplek yang mengandung unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur. Protein tersusun oleh lebih dari 20 persanyawaan organik yang disebut asam amino. Satu molekul protein tersusun atas ikatan panjang beberapa asam amino yang disebut ikatan peptida. Oleh karena suatu protein rata-rata mengandung 16% nitrogen maka kandungan protein dari bahan pakan atau karkas dapat diduga dengan mengalikan kandungan nitrogen dengan 6,2, dan akan menghasilkan kandungan protein kasar.

 Kebutuhan protein sebenarnya lebih ditekankan pada kebutuhan asam amino yang terdapat dalam pakan. Terdapat 20 asam amino dalam protein dan semuanya penting bagi ternak. Asam amino tersebut dapat dikategorikan menjadi asam amino esensial dan asam amino nonesensial. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesa oleh tubuh unggas, sedang asam amino non esensial dapat disintesa dari asam amino lainnya oleh tubuh unggas. Daftar asam amino tertera pada tabel 1.

 

Fungsi protein antara lain untuk membentuk jatingan, cairan tubuh, ensim, produksi, cadangan energi, dll

 

·      Membangun dan Membentuk Jaringan Tubuh

 

Protein berfungsi membentuk dan membangunan jaringan tubuh, misalnya daging, pembentukan dan perkembangan organ-organ tubuh dan pertumbuhan bulu. Kebutuhan terhadap protein untuk anak ayam lebih tinggi daripada untuk ayam remaja. Ini disebabkan anak ayam yang sedang tumbuh memiliki banyak bagian yang sedang tumbuh, bagian-bagian tersebut memerlukan protein.

 

·      Pembentukan Cairan tubuh dan System Enzim

 

Cairan tubuh dan enzim merupakan faktor terpenting bagi kehidupan ayam. Untuk pembentukan kedua faktor tersebut memerlukan protein.

 

·      Produksi

 

Produksi telur membutuhkan protein karena telur ayam kaya akan protein. Protein telur itu juga berasal dari tubuh ayam. Oleh sebab itu ayam yang sedang bertelur membutuhkan protein yang tinggi, Jika tidak ada protein maka ayam tidak akan menghasilkan telur. Ini terbukti pada bila peternak ingin melakukan force molting dalam dua hari setelah ayam puasa tidak akan bertelur.

 

·         Cadangan Energi

 

Protein juga berguna untuk cadangan energi. Walaupun prosesnya tidak efisien, dalam keadaan tidak ada energi protein tubuh akan diubah menjadi energi. Ini sebagai tanda betapa pentingnya energi, energi digunakan untuk segala aktifitas tubuh.

 

Tabel 1. Asam Amino

 

Asam amino esensial

Asam amino non esensial

·      Arginine

·      Cystein

·      Cystine

·      Histidine

·      Isoleucine

·      Leucine

·      Lysine

·      Methionine

·      Phenilalanin

·      Threonine

·      Tryptophan

·      Tyrosine

·      Valine

·      Alanine

·      Asam aspastat

·      Asam glutamat

·      Glysine

·      Hydroxyl proline

·      Proline

·      Serine

 

 

Sintesa protein jaringan tubuh dan telur memerlukan asam amino esensial. Defisiensi asam amino esensial didalam pakan menyebabkan pembentukan protein jarngan dan tubuh trerhambat atau tidak terbentuk. Asam amino esensial yang sulit terdapat dalam pakan adalah sistin, lisin dan triptofan disebut sebagai asam amino kritis.

 

Idealnya semua asam amino dan protin dalam ransum pakan terpenuhi guna sitesa asam amino nonesensial. Kekurangan asam amino esensial menyebabkan terganggunya pertumbuhan terhambat, tingkat produksi menurun, pertumbuhan bulu buruk, dan penimbunan lemak karkas meningkat. Namun kandungan asam amino yang paling rendah dalam bahan pakan adalah asam amino lisin dan methionin, sehingga dalam penyusunan ransum unggas kedua asam amino tersebut dipertimbangkan sebagai aspek yang penting.

 

Kekurangan kedua asam amino bisa ditambahkan dengan asam amino murni yang banyak dijumpai di pasaran pakan ternak.

 

3). Lemak

 

Lemak murni merupakan ester glycerol yang memiliki asam lemak rantai panjang dan merupakan persenyawaan karbon, hydrogen dan oksigen. Persenyawaan oksigennya lebih rendah dibanding karbohidrat sehingga energi lebih tinggi (2,25 kali lipat) dari karbohidrat dan protein. Meskipun energinya tinggi, pemberian lemak pada ternak unggas dibatasi 2-5%, untuk menghindari diare dan ransum mudah tengik. Perbedaan lemak dan minyak pada bentuknya, pada suhu normal lemak berbentuk padat sedang minyak berbentuk cair.

Molekul lemak terdiri dari glycerol dan kombinasi dengan 3 asam lemak. Asam lemak terdiri dari caprilyc, capric, laurat, miristat, palmitat, palmitoleic, stearat, oleat, linoleat, linolenat, arachidic, gadoleic, behenic, eurat, lignocerat. Komposisi kandungan lemak beberapa bahan seperti tertera pada tabel 2.

 

Sebagian besar asam lemak dapat disintesakan oleh tubuh ternak unggas, tetapi asam lemak linoleat dan arakhidonat tidak dapat disintesa sehingga harus ada dalam pakan yang diberikan kepada ternak. Asam lemak arakhidonat dapat disintesa dari asam linoleat. Defisiensi asam lemak menyebabkan pertumbuhan tubuh terganggu, akumulasi lemak di hati dan lebih mudah terserang saluran pernafasan. Kekurangan arakhidonat menyebabkan telur kecil dan daya tetasnya rendah. Sumber minyak yang baik adalah minyak sawit, minyak kelapa, minyak kacang tanah dan bunga matahari.

 

Lemak biasanya ditambahkan pada pakan ayam pedaging untuk meningkatkan konsentrasi energi dan meningkatkan produktifitas dan efisiensi pakan. Sumber lemak adalah lemak binatang dan minyak nabati (sawit atau kelapa).

 

4). Mineral

 

Mineral merupakan bahan an organik dalam bahan pakan atau jaringan tubuh. Fungsi mineral membantu proses metabolisme. Mineral esensial terdapat 15 macam dan sering dibagi menjadi 2 kategori berdasarkan pada jumlah yang diperlukan dalam pakan.  Mineral yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut mineral makro dan dinyatakan dalam persen dari pakan. Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut minberal mikro (trace) dan dinyatakan dalam ppm (part per million) atau milligram per kilogram. Dengan berkembangnya ilmu makanan ternak beberapa mineral diduga esensial bagi ternak, misalnya : flour (F), silikon (Si), titanium (Ti), vanadium (V), chromium (Cr), nickel (Ni), arsenic (As), bromine (Br), strontium (Sr), Cadmium (Cd) dan Tin (Sn). Masing-masing kelompok mineral dijelaskan sebagai berikut:

Table 2.  Komposisi Lemak Nabati

No

Asam lemak

Jagung

Biji kapas

Minyak Sawit

kernel sawit

Kedelai

Minyak kelapa

1

Caprilyc

-

-

-

3

-

6

2

Capric

-

-

-

4

-

6

3

Laurat

-

-

-

51

-

44

4

Miristat

-

1

1

17

-

18

5

Palmitat

13

24

48

8

12

11

6

Palmitoleic

-

1

-

-

-

-

7

Stearat

4

3

4

2

2

6

8

Oleat

29

18

38

13

24

7

9

Linoleat

54

53

9

2

54

2

10

Linolenat

-

-

-

-

8

-

11

Arachidic

-

-

-

-

-

-

12

Gadoleic

-

-

-

-

-

-

13

Behenic

-

-

-

-

-

-

14

Eurat

-

-

-

-

-

-

15

Lignocerat

-

-

-

-

-

-

Sumber: Norman, Food Science, 2005

          a).  Mineral Makro

 

Mineral berfungsi membentuk tulang, merupakan komponen dari organ tubuh, kofaktor enzyme, dan menjaga tekanan osmotic. Kelompok mineral makro terdiri dari 7 jenis yaitu  : calsium (Ca), phospor (P), potasium (K), Magnesium (Mg), sulfur (S), natrium (Na) dan Chlorida (Cl).  

Fungsi masing-masing mineral makro dijelaskan sebagai berikut:

 

·            Kalsium  dan Pospor

 

Kalsium  dan pospor diperlukan untuk pembentukan dan merawat tulang. Rasio Ca-P pada ternak ruminansia dianjurkan 1:1 sampai 1:2, rasio yang terlalu lebar misalnya 8:1 akan menurunkan produksi ternak. Komposisi kasium dan pospor dari bagian minersl tubuh sebersar 70%. Fungsi kalsium untuk membentuk tulang , translokasi lemak dari darah ke kuning telur, proses pembekuan darah, kontraksi otot-syaraf, keseimbangan asam-basa dan aktifitas sejumlah ensim.

 

Kebutuhan Ca-P pada ternak sapi dihitung berdasarkan kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi, Untuk kebutuhan hidup pokok 1,54 gr Ca dan 2,80 gr P untuk setiap 100 kg berat badan ternak. Untuk pertumbuhan dihitung Ca sebanyak 7,1 gr dan P sebanyak 3,9 gr untuk setiap pertambahan protein 100 gram. Untuk produksi susu dioperlukan Ca sebanyak 1,23gr dan P sebanyak 0,95 gr untuk setiap Kg produksi air susu.

 

Pospor berfungsi untuk pembentukan tulang, penggunaan energi, sistem ensim, kesimbangan asam basa, translokasi lemak dan struktur sel. Pospor dalam tanaman hanya 30-40% yang bisa dicerna unggas dan sisanya disekresikan dalam bentuk pitat pospor. Sumber P adalah tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang dan kapur.

 

 

·                     Garam

 

Sodium (Na), potassium, magnesium  dan klorida (Cl) berfungsi bersama-sama dengan phospat dan bikarbonat menjaga  homeostatis  proses osmosis dan pH badan.

Sodium dan clorine penting untuk semua ternak. Dalam pakan ditambahkan garam untuk memaksimumkan tingkat pertumbuhan dan produksi telur. Jika kandungan garam tinggi maka konsumsi air juga akan meningkat. Sumber P dalam pakan adalah bungkil-bungkilan, produk hewani (tepung tulang-daging), dan tepung ikan.

 

·         Potasium (K)

 

Kalium (K) merupakan mineral intraseluler yang berperan dalam metabolisme karbohidrat dan protein, keseimbangan asam-basa, pengaturan tekanan osmose, dan kesimbangan air. Kekurangan mineral ini akan mengganggu aktifitas ternak dan peran mineral makro lainnya.

 

·         Magnesium (Mg)

 

Magnesium merupakan bagian dari jaringan tubuh dan cairan tubuh lainnya. Bahan pakan yang mengandung Mg antara lain dedak gandum (Pollard), konsentrat nabati sumber protein (Bungkil kedelai) dll. Pada ayam broiler kebutuhan Mg sekitar 550mg per kg ransum.

 

·         Belerang (S)

 

Sulfur merupakan bagian dari protein yang terdapat pada asam amino cystine, cystein dan methionine. Disamping itu S juga terdapat pada vitamin biotin, thiamin dan polisakarida yang banyak mengandung sulfat. dan sebagian kecil dalam darah. Disamping sebgau materi pembangun S juga berfungsi pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan darah, endokrin, keseimbangan asam basa.

 

Pakan alami biasanya sudah mencukupi kebutuhan ternak akan sulfur. Sumber S pada pakan ternak adalah hijauan dan jagung atau silase jagung. Namun dalam kasus dfisiensi  S ternak menunjukan gejala klinis penurunan nafsu makan, dan pertambahan berat badan, kelemahan umum, lakrimasi, sampai dapat terjadi kematian. Sesuai dengan fungsinya maka defisiensi S menyebabkan gangguan sintesis protein mikroba, gejala kekurangan protein, penurunan kecernaan selulosa,  dan penimbunan asam laktat yang terlihat dalam darah dan urin. Kadar S yang aman adalah 0,1-0,2% tergantung jenis makanan.

 

·      Calsium (Ca)

 

Ca merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh. Mineral ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang, perkembangan gigi, produksi air susu, telur, transmisi impuls syaraf, pemeliharaan eksitabilitas urat daging yang normal (bersama-sama dengan K dan Na), regulasi denyut jantung, gerakan urat daging, pembekuan darah dan mengaktifkan-menstabilkan enzim (misalnya: amilase pankreas).

 

Defisiensi Ca

 

Defisiensi Ca menyebabkan riketsia, pertumbuhan terhambat, tidak ada koordinasi otot. Kekurangan Ca pada ternak dewasa akan menyebabkan osteomalasia. Yaitu akibat demineralisasi dari tulang hewan yang sudah dewasa. Kandungan Ca (dan P) dalam tulang sifatnya dinamis, artinya pada saat produksi ternak tinggi akan mengambil Ca dari tulang. Gejala klinis antara lain kelemahan tulang dan gampang rusak kalau kena tekanan.

 

Kadar Ca bahan pakan sangat bervariasi yang disebabkan oleh jenis tanaman, bagian dari tanaman dan umur tanaman. Hijuan pakan ternak yang lebih tua kadar Ca- nya akan menurun. Leguminosa atau kacang-kacangan lebih banyak mengandung Ca  daripada rumput. Biji-bijian untuk konsentrat kadar Ca-nya rendah.

 

Sumber Ca adalah kalsium karbonat, batu kapur giling, tepung tulang, dikalsium fospat, kalsium sulfat, tepung ikan, tepung kerang, tepung tulang. Kalsium pada unggas muda diperlukan untuk pembentukan tulang, sedangkan pada ayam petelur diperlukan untuk pembentukan sel telur dan juga berfungsi pada darah dan kominikasi intraceluler.

 

b). Trace Mineral

 

Trace mineral (mineral mikro) terdiri dari 8 jenis yaitu : cobalt (Co) , cooper (Cu), Iodine (I), besi (Fe), mangan (Mg), selenium (Se),  cobalt (Co) dan zink (Zn). Cobalt juga diperlukan tetapi sudah terdapat pada vitamin B12. tembaga dan besi sering sudah cukup pada bahan pakan sehingga tidak perlu penambahan. Trace mineral merupakan bagian dari molekul organic. Besi merupakan bagian dari hemoglobin dan citocrom. Yodium adalah bagian dari thyroxine. Tembaga, mangan, selenium, dan zink membantu proses enxime. Khusus untu zink merupakan bagian dari struktur DNA.

 

Kebutuhan trace mineral dipenuhi dari bahan pakan yang dikonsumsi ternak. Pada kasus khusus tanah yang ditumbuhi bahan pakan defisiensi trace mineral yang menyebabkan kandungan trace mineral dalam bahan pakan rendah. Masing-masing mineral mikro dijelaskan sebagai berikut:

 

·      Mangan (Mn)

 

Mn diperlukan untuk aktivator enzim, dan trasfer posphat dan decarboxilase, mencegah pesrosis, dan pertumbuhan tulang.Kebutuhan Mn pada ayam broiler sebanyak 70mg/Kg pakan pada masal awal dan 100mg/kg ransum pada masa akhir. Sumber Mn adalah hijauan dan bahan konsntrat seperti jagung.

 

Didalam tubuh ternak Mn dijumpai pada hati, ginjal, pankreas, dan pituatary, dan sedikit pada jantung, urat daging dan tulang. Pada ruminansia Mn berfungsi sebagai sintesa karbohidrat, mucoplyssacharide, sistem ensim, misalnya pyruvate carboxylase, arginine synthetase dll. Kebutuhan Mn pada ruminansia belum banyak diketahui tetapi kekurangan Mn menyebabkan gejala klinis bentuk tulang dan postur yang abnormal. Kelainan bentuk tulang antara lain kaki bagian bawah, pembengkakan sendi, humerus yang relatif pendek, dan tulang yang relatif rapuh.  Defisiensi Mn juga dapat menggagu proses reproduksi ternak jantan dan betina. Pada ternak jantan menyebabkan gangguan spermatogenesis, degenerasi testis, dan ekididimus, dan berkurangnya hormon kelamin yang menyebabkan sterilitas. Pada ternak betina dapat terlihat ertrus yang tidak menentu (tidak ada), dan tidak terjadi konsepsi (pembuahan) dan kalaupun terjadi pembuahan dapat menyebabkan keguguran.

 

Didaerah tropis yang banyak terdapat gunung berapi bisanya jarang terjadi kasus kekurangan Mn. Hal ini disebabkan Mn dalah hijauan dan pakan konsentrat sudah cukup untuk kebutuhan ternak.  Sumber Mn adalah hijauan, konsentrat dan premix mineral buatan pabrik.

 

·         Copper (Cu)

 

Copper berperan dalam enzim dan utilisasi besi dalam pigmentasi kulit dan pembentukan hemoglobin. Beberapa enzim yang membutuhkan copper antara lain ceruloplasmin, cytochrome, oxidase, lusine oksidase, tryrosinase, plastocyanin, dan baemocyanin. Penyerapan copper dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keasaman lambung,  penggunaan calsium carbonat dan ferros sulfid akan menurunkan penyerapan Copper. Copper yang tidak terserap akan dikeluarkan lagi melalui tinja (feces), pada kenyataannya dari copper yang dikonsumsi lebih dari 90% disekresikan kembali oleh ternak.

Kebutuhan copper pada ayam broiler sebesar 10 mg/kg ransum. Sumber copper adalah pakan alami.

 

Fungsi esensial dalam tubuh antara lain:

 

·         pembentukan hemoglobin, penyerapan Fe dan mobilisasi Fe dari tempat penyimpannya.

·         membantu metabolisme tenunan pengikat

·         kofaktor enzim memerlukan Cu untuk aktifitas biologisnya. Enzim tersebut antara lain: cytochrome oxidase, ascorbic acid axidase dll.

 

Dalam tubuh ternak Cu dapat ditemui pada hati, otak, jantung, urat daging, dan lemak. Pakan dengan kandungan Cu 10 ppm dianggap cukup untuk sapi pedaging. Gejala defisiensi Cu antara lain: terganggunya pigmentasi , menderita fibrosis miokardium, tulang pipih dngan tulang rawan melebar, mudah mengalami fraktur atau aoetoporosis. Hampir semua hijauan dapat mesuplai kebutuhan Cu ternak sebanyak 3-4 kali yang dibutuhkan. Namun tanaman yang banyak mengandung pitat dan lignin dapat menurunkan penyerapan Cu. Preparat Cu yang dapat digunakan adalah CuCO3, CuSO4 dll.

 

·         Iodium (I)

 

Mineral iodium terdapat dalam tubuh ternak kelenjar tiroid, darah, daging dan susu. Jaringan lain yang mengandung I adalah lambung, kelenjar saliva, ovarium, kelenjar pituatary, kulit, plasenta, dan rambut.

 

I diperlukan untuk sintesis hormon oleh kelenjar thyroid yang mengatur metabolisme energi. Hormon tiroid memegang peran dalam termoregulasi, proses metabolisme antara, reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan, sirkulasi dan fungsi urat daging.   Penyerapan iodium pada susu kecil dan dikonsentrasikan pada kelenjar thyroid.

Kebutuhan I belum jelas, diperkirakan sekitar 0,05-0,8 ppm. Defisiensi I menyebabkan kelenjar gondok membengkak, kehilangan bulu, kekuraga hromon tiroksin yang ditandai dengan kelemahan umum, basal metabolisme menurun, pertumbuhan lambat, pedet lahir mati. Pada hewan betina menyebabkan gangguan estrus sedang pada jantan menyebabkan menurunnya libido. Sumber iodium adalah pakan alami sepeti tepung ikan dan hijauan makanan ternak.  Pada ayam broiler dibutuhkan kira-kira 1 mg per kg ransum.

 

·      Zinz (Zn)

 

Zn (seng) berperan dalam pengaktif dan komponen  beberapa enzim seperti carbonic anhydrase, carboxys peptidase, alkohol dehidogenase yang berperan dalam metabolisme asam nukleat, sintesis protein dan metabolisme karbohidrat.  Dalam kulit dan jaringan tubuh lainnya serta tulang juga terdapat Zn.

Gejala klinis defisiensi Zn pada unggas adalah pertumbuhan lambat, tulang lunak dan rapuh, bulu kusam, pernapasan tidak normal dan keratosis pada kulit. Sedang gejala klinis pada ruminansia adalah tidak perduli terhadap lingkungannya, pembengkakan kaki dan dermatitis pada leher, kepala dan kaki, gangguan penglihatan, banyak bersalivasi (ludah), penurunan fungsi rumen, luka sulit sembuh, dan gangguan reproduksi ternak jantan.

Sumber Zn adalah dedak padi dan dedak gandum. Kebutuhan Zn pada ransum ayam broiler sebesar 40mg per kg ransum. Namun demikian defisiensi Zn jarang terjadi karena dalam pakan ternak sudah tersedia cukup kandungan Zn.  Didalam luminosa terdapat kandungan Zn 60 ppm, biji-bijian mengandung 10-30 ppm Zn, sumber protein nabati mengandung 50-70 ppm Zn, sumper protein hewani mengandung 100 ppm.

Kebutuhan Zn ternak ruminansia sulit diperkirakan namun secara umum kebutuhan tersebut 20-40 mg/kg berat kering pakan.

 

·      Selenium (Se)

 

Se berperan pada proses metabolisme yang normal dan ada kaitannya dengan vitamin E. Vitamin E dapat menggantikan kebutuhan mineral Se. Kelebihan Se akan menyebabkan keracunan ternak. Suplentasi Se pada ayam broiler sebesar 0,1 mg per 1 kg ransum. Sumber pakan yang mengandung Se antara lain jagung (20 ppm), dan dedak gandum (55 ppm).

Dalam tubuh ternak berupa seleno-potein yang terdistribusi secara luas dalam tubuh. Se juga berperan dalam penyerapan lipid dalam saluran pecernaan, atau pengangkutan melalui dinding usus. Dalam tanaman Se terdapat dalam bentuk selenium amino acid bersama-sama dengan protein. Kandungan Se tanaman sangat tergantung dari kandungan Se dalam tanah. Pada tanaman selenium terdapat pada leguminosa dan rumput. 

 

·   Molibdenum (Mo)

 

Mo didapati pada seluruh urat daging-tulang dan sedikit pada hati, ginjal dan bulu ternak. Fungsi dari Mo adalam komponen esensial dari beberapa enzim misalnya: xanthine oksidase, aldehyda oksidase dll. Kebutuhan Mo bagi ternak ruminansia belum diketahui ecara jelas. Kekurangan Mo jarang ditemukan, tetapi kelebihan Mo justru menyebabkan defisiensi Cu dan menjadi racun yang menyebabkan diare, anoreksia, anemia, ataksia, dan kelainan bentuk tulang, depegmintasi kulit atau bulu.  Sumber pakan yang menganduk Mo adalah hijauan segar, sedang pada hijauan kering kandungan Mo menurun.

 

·         Cobalt (Co)

 

Dalam tubuh ternak Co ditemukan pada hati, mata,  ginjal, kelenjar adrenal, limpa dan pankreas dan sedikit pada sumsum tulang darah, susu dan empedu. Didalam rumen sapi Co digunakan mikroba untuk pembentukan B12. pada makanan ternak kandungan Co pada rumput lebih rendah daripada leguminoisa. Kebutuhan Co pada pakan sebesar 0.1 ppm dari bahan kering pakan.

 

·      Fe

 

Dalam tubuh Fe didapai pada hati, limpa, ginjal, jantung, sumsum tulang, darah dan sel-sel lainnya. Fungsi Fe dibutuhkan pada pembentukan haemoglobin, mioglobin, enzim satilase, dan peroksidase.  Fe berperan dalam transfer oksigen dalam sel dan respirasi sel. 

 

5). Vitamin

 

Vitamin adalah senyawa organik biasanya tidak disentesis dalam tubuh, dan diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit.  Vitamin diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Vitamin bukan struktur utama tubuh, tetapi diperlukan terutama sebagai ko enzim atau regulator metabolisme. Ternak unggas memerlukan 13 vitamin yang harus terdapat dalam pakan, sebab (kecuali viatamin C)  tubuh tidak dapat mesintesisnya.

 

Vitamin digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak terdiri dari vitamin A,D, E dan K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air terdiri dari tiamin, riboflavin, asam nikotenat, folasin, biotin, asam pantotenat, pyridoxine, B 12, dan koline.  Kebutuhan vitamin dinyatakan dalam milligram per kilogram pakan, kecuali vitamin A,D dan E dinyatakan dalam Internasional Unit (IU).

 

 

a). Vitamin Yang Larut Dalam Lemak

 

·      Vitamin A (Retinol)

 

Vitamin A terlibat dalam sistem penglihatan dan pengelolaan jaringan epitel di seluruh permukaan tubuh bagian luar maupun bagian dalam serta berbagai kelenjar endokrin/gonad. Peran vitamin A juga membantu pembentukan protein.

Pakan ternak terdiri dari bahan nabati dan hewani. Pada bahan hewani terdapat vitamin A sejati, sedang pada pakan nabati terdapat provitamin A yang berawal dari caroten. Provitamin A tersebut akan diubah menjadi vitamin A oleh ternak.

 

Kebutuhan vitamin A untuk ayam broiler di derah tropis untuk masa awal sebesar 8.800 IU per kg ransum dan 8.000 IU pada masa akhir. Gejala defisiensi vitamin A pada ayam adalah pertumbuhan lambat, keluar cairan seperti keju pada ujung mata dan ujung lubang hidung, bulu kusam, dan agak membotak, daya tahan terhadap penyakit menurun pada masa musim yang sangat buruk. Kejadian defisiensi akan terjadi seacra sporadis artinya dalam satu kelompok tidak mungkin hanya sebagian yang menderita defisiensi, jika menderita defisiensi maka seluruh kelompok akan terkena gejala tersebut.

 

Kelebihan vitamin A akan menyebabkan ternak keracunan. Pada unggas keracunan terjadi pda dosis 33.000IU per kg ransum kering sedang pada sapi 17.000 IU per kg ransum kering. Gejala keracunan pada unggas adalah engurangi warna kulit dan kunig telur, menurunya penyerappan nutrisi yang larut dalam lemak, mengganggu penyerapan vitamin K yang penting bagi penutupan luka. Keracunan pada ruminansia menyebabkan menurunnya aktifitas enzim pada metabolisme energi sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan.  

 

Sumber vitamin A adalah hijauan segar, silase, atau hay, jagung kuning, dan vitamin sintetis (asetat sintetis). Minyak hati merupakan sumber vitmin A yang terbaik tetapi jarang digunakan pada peternakan.

 

·   Vitamin D ( Ergocalciferol)

 

Vitamin D memiliki banyak bentuk, tetapi yang penting bagi ternak adalah D2 (ergocalciferol) dan D3 cholecalcifero). Vitamin ini berfungsi dalam penyerapan vitamin Ca dan P dan proses kalsifikasi dalam pertumbuhan tulang. Secara umum vitamin D dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan Dengan bntuan sinar ultraviolet matahari tubuh ternak dapat mengubah provitamin D menjadi vitamin D.  prinsip ni dimanfaatkan peternak dalam membangun arah kandang yaitu agar dapat memanfaatkan sinar matahari utnuk membantu proses pembentukan vitamin D. namun dengan berkembangnya vitamin sintesis teori tersebut tidak selalu mutlak diterapkan dan ditambah penemuan bahwa lampu listrik (Neon) dapat mengganti peran sinar matahari.

 

Kebutuhan vitamin D pada pakan ayam broiler masa awal disranakan sebesar 1.850 ICU per kg ransum kering dan 2.600 ICU pada ayam mas akhir.  Ternak sapi membutuhkan vitamin D sebanyak 275 IU per Kg berat kering pakan secara rinci untuk anak sapi sebanyak 4 IU/kg berat badan, untuk sapi yang sedang tumbuh 2,5 IU/kg berat badan, dan 10 IU /kg BB uantuk sapi bunting/laktasi.

Pada ternak unggas kasus defisiensi vitamin D jarang terjadi di Indonesia karena banyak makanan yan mengandung vitamin D. pada unggas defisiensi D menyebabkan Riketsia.

Sumber vitamin D dalam pakan berasal dari hijauan pakan ternak dengan kandungan provitamin D 11 IU dan premix mineral buatan pabrik.

 

·   Vitamin E (Alfa tokoferol)

Terdapat 7 vitamin E, tetapi  alpha tokoferol adalah yang paling banyak penyebarannya pada bahan pakan ternak. Vitamin E berfungsi menjaga kesuburan ternak  atau antisteril. Peran vitamin E sebagai zat makanan yang vital dalam metabolisme urat daging/syaraf, kontraksi urat daging, sirkulasi, respirasi, pencernaan, ekskresi, pertumbuhan, konversi kanan dan reproduksi.

 

Kebutuhan vitamin E pada anak sapi 15-60IU/Kg berat kering pakan, untuk sapi yang seang tumbuh 6,8-27,3 IU/Kg ransum dan untuk sapi dewasa 13600 IU/0,45 kg ransum, dan 54.600 IU/ton ransum untuk sapi dara, laktasi dan bunting. Pada ternak unggas jarang terjadi kekurangan vitamen E, namun demikian disarankan dalam ransum terdapat 11 IU/KG untuk ayam broiler pada masa awal dan 9 IU/Kg untuk ayam broiler pada masa akhir.

 

Sumber vitamin E adalah pakan hijuan dan biji-bijian. Hijauan segar mengandung 100-200 mg/kg vitamin E, jagung kuning 25 mg/kg, juwawut 11 mg/kg, dn gandum 2-3 mg/kg. Nampak bahwa hijuan lebih banyak mengandung vitamin E dibanding biji-bijian. Karena vitamin E tidak stabil maka disarankan menambahkan premix mineral untuk suplai vitamin E.

 

·   Vitamin K

 

Vitamin K dikenal sebagai antihaemoragi karena dibutuhkan untuk membentuk protombin yang penting dalam proses pembekuan darah jika terjadi luka pada ternak. Fungsi lain adalah menyediakan energi untuk fungsi sel.

Pada ternak ruminansia vitamin K dapat disintesa oleh mikroba dalam rumen dan saluran pencernaan dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Vitamin K merupakan satu-satunya vitamin yang larut dalam lemak yang dapat disintesa oleh ternak ruminansia.

 

Pada kasus sapi mengkonsumsi zat anti koagulan (misal dekumarol dari jamur, tanaman leguminosa/clover), yang mencegah pembentukan protrombin yang akan menyebabkan ternak defisiensi K. 

 

Sumber vitamin K adalah bahan dari tanaman (K1), hewani (K2) dan K3 dari vitamin sintetis. Vitamin K sintetis dikenal dengan menadion. Kebutuhan vitamin K ayam broiler masa awal 2,5 mg per kg dan masa akhir 2,4 mg/kg , kebutuhan terebut dipenuhi dari pakan alami. Namun disarankan untuk menambah Vitamin K sintetis sebanyak 0,501 mg/0,5 kg ransum. Bahan pakan sebagai sumber alami vitamin K adalah tepung ikan, bungkil kacang kedelai.

 

b). Vitamin Yang Larut Dalam Air

 

·      Vitamin B1 (Thiamin)

 

Dalam tubuh ternak vitamin B1 berfungsi sebagai koensim kokarboxilase dalam bentuk thiamin phyrophospahate. Fungsinya untuk proses enzimatis dekarbosilase asam alpha keto atau dengan kata lain metabolisme asam piruvat menjadi asetat. Secara sederhana diuraikan bahwa vitamin B1 membantu metabolisme karbohidrat menjadi energi.

Kekurangan thiamin menyebabkan akumulasi asam asam piruvat dan akan menurunkan produksi asam laktat di jaringan , dan ternak menunjukan defisiensi vitamin B1. Gejala defisiensi pada ayam yaitu polineuritis, kepala ayam tertarik keatas menengadah seperti tertarik tali, dan pertumbuhan lambat. Pada ternak ruminansia menunjukan gejala buta, urat daging tremor, gigi gemeretak, opisthotonus dan konvulsi.

 

Sumber vitamin B1 bagi ternak unggas adalah dari pakan ternak seperti bekatul, bungkil, jagung dan sorgum. Defisiensi pada unggas jarang terjadi  tetapi kadang vitamin dalam bahan pakan rusak sehingga disarankan menambahkan dosis 2,5 mg/kg ransum. Pada ruminansia sumber vitamin  b1 dari pakan dan mikroba rumen. Mikroba rumen dapat mensintesis vitamin B1. Pada anak sapi dimana mikroba rumen belum berkembang maka sumber B1 dari air susu yang diminumnya. Jika air susu diganti  milk replecement maka disarankan menambahkan vitamin B1 menurut NRC sebanyak 65 µg/kg bobot badan.

 

·   B2 (Riboflavin)

 

Vitamin B2 berfungsi membantu transportasi hidrogen, metabolisme protein dan energi. B2 merupakan  komponen flavoprotein yang berfungsi sebagai konenzim.

Defisiensi vitamin B2 pada unggas menyebabkan penyakit curled toe paralysis dengan gejala ayam berjalan dengan dengkul (persendian kaki), kaki menjulur kedepan atau belakang, berdiri tidak tegak bahkan tidak bisa berjalan. Penyebab kekurangan B2 karena kandungan vitamin dalam bahan pakan kurang dari kebutuhan ayam tersebut. Kebutuhan diperkirakan sebanyak 4,8-5,7 mgram per kg ransum. Untuk memenuhi kebutuhan dapat ditambahkan vitamin sintetis. Sumber B2 adalah jagung kuning dan bungkil kedelai.

 

·   Niacin

 

Niacin berberan sebagai koensim yang membantu metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bentuk koensim adalah nicotinamide dinucleoide (NAD) dan nicotinamide dinucleoide phosphate (NADP). Sumber niacian adalah bekatul, tepung ikan, dedak padi, dedak gandum dan bungkil. Gejela defiensi pada unggas ayam menjadi kerdil dan pertumbuhan lambat. Kebutuhan ayam terhadap niacin 35-40 mg per kg ransum. Untuk mencegah defieinsi ditampahkan niacin sintetis.

Pada ternak ruminansia niacin dapat dibentuk dari tryptopan. Reaksi ini terjadi didalam mikroba dan jaringan rumen. Sehingga niacin erat hubungannya dengan thryptophan. Jika kadar tryptopan dalam pakan rendak (0,2%) maka baru ada kebutuhan minimal niacin. Kandungan tryptopan 60 mg setara dengan  1 mg Niacin. Anak sapi yang kandungan air susunya rendah akan menderita defisiensi Niacin.

 

·   Pyrodoxin (B6)

 

Vitamin B6 berfungsi sebagai koensim yang membantu proses metabolisme protein. Sehingga perannya esensial dalam proses pertumbuhan. Pada ternak unggas defisiensi ini dapat mengganggu syaraf dan kematian. Sumber B6 adalah pakan berasal dari hewani, bungkil kedelai, dan biji-bijian. Dalam kondisi normal jarang terjadi defisiensi B6 kecuali jika pakan rusak atau bahan pakan dipalsukan. Kebutuhan B6 dalam ransum unggas berkisar 3,3-3,5 mg per kg ransum.

 

·      Biotin

 

Biotin sebagai kelompok prostetik berperan pada bebrapa ensim yang memantapkan katalis CO2 kedlam jaringan organik. Ensim yang mengandung Biotin adalah acetyl koensim A karbosilasi, propionil koensim A karboxilasi dan methyl malonyl transkarbosilasi. Pada ruminan bitoin dibutuhkan pada siklus urea, sintesis arginin, pirimidin (asam nukleat penyusun  DNA), lintasan ekstra mitokondrial dan sitesis asam lemak, sehingga penting perannya dalam proses pertumbuhan.

Sumber Biotin adalah dedak, bekatul, biji-bijian. Jarang dijumpai defisiensi bitoin, namun jika kasus terjadi gejalanya adalah perosis, pertumbuhan  lambat, kerdil dan dermatitis disekitar paruh dan kaki. Penambahan pada ransum unggas disarankan 0,1-0,11 mg per kg ransum.

 

·   Asam Folat

 

Vitamin ini memegang peranan penting dalam reaksi biokimia dalam memindahkan unit C tunggal dalam berbagai reaksi. Fungsinya antara lain dalam interkonversi serin dan glysin, dalam sitesis purin, degradasi histidin atau dalam sitesis group methyl tertentu. Purin penting dalam pertumbuhan dan reproduksi semua jaringan tubuh karena purin merupakan bagian dari DNA. Defisiensi asam folat maka pembentukan nucleo protein dalam proses pendewasaan sel-sel darah tidak terjadi dan akan menyebabkan gejala anemia yang spesifik. Oleh karena itu asam Folat juga dikenal dengan anti anemia. Unggas memperoleh suplai asam folat dari pakan yang dikonsumsi. Penambahan pada pakan unggas disarankan 1,5- 1,8 mg/kg ransum. Sumber asam folat adalah tepung ikan dan jagung.

 

·   Cyanocobalalanin (B12)

 

Fungsi B12 adalah sebagai koenzim pada bebrapa reaksi metabolik. Dibutuhkan untuk sintesis grup metil dari karbon tunggal sebagai prekusor, secara langsung dibutuhkan dalam metabolisme asam amino dan sintesis protein.

Vitamin ini tidak terdapat dari sumber bahan pakan nabati, dan hanya terdapat dari sumber pakan yang berasal dari hewani. Tepung ikan dan daging-tulang merupakan sumber vitamin B12. untuk ayam broiler kebutuhan B12 pada masa awal 0,013 mg per kg ransum dan pada ayam dewasa 0,012 mg per kg ransum. Pada ransum yang tidak mengandung bahwan hewani harus ditambah dengan vitammin B12 sintesis.  Kebutuhan B12 tergantung dari kadar lemak dalam ransum, semakin tinggi kadar lemak maka semakin tinggi kebutuhan B12. pada perubahan temperatur yang ekstrim juga akan menyebabkan kebutuhan B12 meningkat.

 

·   Kolin (Choline)

 

Kolin merukan sumbstansi esensial dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur sel dan metabolisme lemak dalam hati. Kolin terdiri dari komponen asetil kolin yang berperan pada mediator dalam aktivitas urat syaraf. Pembentukan asetil kolin yang penting dalam transmisi impuls syaraf membutuhkan kolin.

Pada ayam kebutuhan kolin sebesar 780-800 mg per kg ransum. Sumber kolin adalah bungkil kedelai dan bahan asal hewani seperti tepung ikan dan daging-tulang.

 

·      Vitamin C

 

Vitamin C secara kimiawi dikenal dengan L asam askorbat. Peran vitamin C adalah pada mekanisme oksidasi dan reduksi di dalam sel-sel hidup. Fungsi lain dari vitamin C adalah mengurangi tekanan pada iklim tropis. Beberapa hasil penelitian penambahan vitamin C pada ransum ayam dapat menurunkan kematian dan mengurang gejala tekanan perubahan iklim.  Pada ternak unggas dapat mensintesis sendiri kebutuhan vitamin C. sedang pada ruminansia vitamin C disintesa dalam rumen ternak.

 

6). Air

 

Air merupakan nutrisi yang penting bagi unggas. Kebutuhan air sangat tergantung dari temperatur lingkungan dan kelembaban relative dan komposisi pakan ternak, tingkat pertumbuhan, atau produksi telur, dan efisiensi ginjal dalam. Jumlah air yang dikonsumsi diperkirakan 2 kali lebih banyak dari pakan yang dikonsumsi berdasarkan berat pakan, tetapi konsumsi air pada kenyataannya sangat bervariasi.

 

a). Fungsi Air

 

Fungsi air terdiri dari 4 komponen yang terintegrasi dalam system pertumbuhan.

 

·   Komponen Jaringan

 

Air bebas yang terikat dalam jaringan daging merupakan contoh yang baik. Perubahan keduanya (air bebas dan terikat) dapat mengubah aktifitas enzim yang selanjutnya berpengaruh pada tingkat pertumbuhan urat daging.jumlah air yang diikat dipengaruhi oleh fase perkembangan jaringan urat daging. Sapi yang tua kapasitas mengikat  air lebih tinggi disbanding sapi yang lebih muda.

 

·   Media Fisik

 

Air berfungsi sebagai pengantar zat makanan dari saluran pencernaan kedalan jaringan tertentu untuk sintesis komponen tertentu guna pertumbuhan atau hidup pokok sel tertentu.

 

·   Mengatur Fungsi Osmosis Dalam Sel

 

Air berperan dalam memelihara keseimbangan konsumsi mineral tertentu dalam urat daging. Konsentrasi kalsium dalam urat daging penting untuk mengatur metabolisme energi dan kontraksi. Jika kadar mineral tidak seimbang akan menyebabkan kontraksi dan pertumbuhan urat daging terganggu.

 

·   Air sebagai Pereaksi (Reagent).

 

Air berperan dalam fungsi reaksi kimia untuk sintesis (pembangunan) jaringan. Contoh: reaksi hidrolisis untuk sintesa asam amino untuk pembentukan protein.

Air yang digunakan oleh ternak dapat berasal dari air minum, air yang terkandung dalam bahan pakan dan air hasil proses metabolik. Air dari bahan pakan sangat bervariasi dari 3% s.d 80% tergantung jenis bahan pakannya. Komponen air dalam tubuh ternak mencapai 2/3 bobot badan (55-75%).

 

b). Kebutuhan Air

 

Kebutuhan air dipengaruhi oleh kandungn bahan kering, dan komponennya, temperatur lingkungan dll

 

·   Lingkungan

 

Unggas,  jika tempertur berubah maka konsumsi bahan kering atau energi akan menurun dan konsumsi air meningkat. Ditinjau dari segi pertumbuhan, dalam keadaan panas meningkat maka pertumbuhan akan menurun, namun sebagian penurunan dapat diganti dengan peningkatan retensi air.

·      Protein

 

Semakin tinggi konsumsi protein maka semakin tinggi konsumsi air. Air tersebut diperlukan untuk mengeluarkan hasil metabolisme lewat urin.

 

·   Na Cl

 

Semakin tinggi konsumsi NaCl maka semakin tinggi konsumsi air. Perubahan 1% salinitas tidak mempengaruhi konsumsi air minum pada unggas.

 

Table 3Ringkasan Gejala Defisiensi Vitamin

 No

Vit

Ternak Unggas

1.

A

Pertumbuhan lambat, keluar cairan seperti keju pada ujung mata dan ujung lubang hidung, bulu kusam, dan agak membotak, daya tahan terhadap penyakit menurun pada masa musim yang sangat buruk

2.

D

Penyakit riketsia, rakitis

Kombinasi dengan kekurangan Ca dan P menyebabkan osteomalasi (dekalsifikasi tulang)

3.

E

Gangguan reproduksi (kesuburan), gila ayam

4.

K

Jika terjadi luka, pendarahan sulit membeku

5.

B1

Polineuritis, kepala ayam tertarik keatas menengadah seperti tertarik tali, dan pertumbuhan lambat

6.

B2

Penyakit curled toe paralysis dengan gejala ayam berjalan dengan dengkul (persendian kaki), kaki menjulur kedepan atau belakang, berdiri tidak tegak bahkan tidak bisa berjalan.

7.

Niacin

Pertumbuhan terganggu

8.

B6

Pertumbuhan terganggu

9.

biotin

Pertumbuhan terganggu­­

10.

Asam folat

Pertumbuhan terganggu

11.

B12

Pertumbuhan terganggu

12.

Kolin

Sistem syaraf terganggu

13.

C

Stress

 

·         Jenis Makanan

 

Pakan dengan kandungan air sedikit, akan meningkatkan konsumsi air. Kandungan air pakan dipengruhi oleh kadar air dari bahan pakan penyusunnya.

 

c). Pengeluaran Air

 

Pengeluaran air pada unggas melalui panting (pernafasan mulut) dan faeces yang bercampur urin, hal ini karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat. Pada udara panas dapat mudah diamati ayam akan lebih banyak panting dari pada udara sejuk.

 

d). Defisiensi Air

 

Tubuh tidak mempunyai mekanisme untuk menyimpan air seperti halnya lemak depo dan sejenisnya. Kehilangan air akan terjadi secara terus menerus sehingga harus diimbangi dengan konsumsi air minum. Defisiensi air akan menyebabkan konsumsi pakan menurun. Pada suhu 40ºC ternak menunjukan gejala stress misalnya minum, penguapan, volume urin, dan tingkat respirasi diperbanyak. Jika tidak tersedia jumlah air minum yang cukup maka bobot badan akan menurun drastis dan tanda-tanda dehidrasi. Karena banyak faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi air minum maka disarankan untuk memberi minum secara adlibitum (tidak terbatas) kepada ternak.

 

c. Bahan Makanan 

Bahan pakan yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan, sisa proses produksi, hewan dan bahan pakan non konvensional.

 

1). Tumbuh- tumbuhan

 

Bahan pakan dari tumbuh-tumbuhan terdiri dari jagung kuning. Jagung putih, kedelai, rumput muda, daun turi muda, dan ubi kayu. Dalam penggunaan bahan pakan diusahakan tidak berkompetisi dengan konsumsi manusia. Misal : beras tidak digunakan untuk pakan ternak karena dikonsumsi oleh manusia.

 

2). Sisa Proses Produksi

 

Sisa proses produksi hasil pertanian juga bisa digunakan untuk bahan pakan. Bahan tersebut terdiri dari dedak, bungkil kelapa, bekatul, bungkil sawit, ampas tahu, bungkil kedelai dll.

 

3). Berasal Dari Hewan

 

Bahan pakan dari hewan teridiri dari tepung ikan, tepung darah, tepung daging-tulang, tepung tulang, tepung bulu, sisa rumah potong, tepung kerang, dll.

 

d. Bahan Pakan Non Konvensional

Bahan pakan non konvensional terdiri dari feed aditivie dan feed suplemen.  Kedua bahan tersebut merupakan bahan pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Feed aditive  merupakan bahan pakan tambahan yang tidak berkaitan langsung dengan nutrisi pakan, misalnya hormon, antibiotik dll. Feed suplement merupakan bahan tambahan yang berkaitan langsung dengan nutrisi pakan, misal asam amino, mineral dll.

 

1). Beberapa feed additve yang diberikan antara lain :

a). Flavoring agent, pemberi bau untuk meningkatkan palatabilitas pakan contoh cairan sukrosa, tetes

b). Enzim merupakan katalisator yang berperan mempercepat suatu reaksi kimiawi. Enzim phytase mulai banyak digunakan peternak yang berperan memecah ikatan phytate pada bahan ransum nabati, seperti jagung sehingga ketersediaan fosfor bisa meningkat. Kerja enzim ini akan optimal apabila jenis enzim sesuai dengan substratnya, kondisi lingkungan dan kesesuaian dosisnya. Enzim untuk memperbaiki daya cerna

c). Antibiotik,

Penambahan zat perangsang tumbuh pada pakan ayam broiler yang dikenal dengan AGP (Antibiotic Growth Promotor). Pada pakan ayam broiler ditambahkan antibiotik dengan dosis dibawah pengobatan untuk memacu pertumbuhan. Antibiotik yang digunakan antara lain Zinc bacitrasin, flavomicin, vancomycin, virginiamicin dll telah dilarang sejak tahin 2018. Hal ini karena penggunaan antibiotik pada pakan akan berasosiasi dengan munculnya beberapa strain patogen resisten, di antaranya Salmonella spp., Campylobacter spp., Escherichia coli, dan Enterococcus spp.

d). Zat pemberi pigmen berfungsi untuk memberikan warna kuning di bagian kaki dan kulit ayam ras pedaging, sehingga penampilan fisiknya lebih menarik. Sebagai pemberi warna bisa digunakan beta-karoten atau apokarotenoat dalam bentuk murni (pure) atau sediaan premix seperti beta karoten 10% dan apokarotenoat 10%. Penggunaan zat pemberi warna sedikit sekali, sekitar 20 – 30 ppm.

e). Hormon atau zat lain yang digunakan untuk memperbaiki proses metabolisme dari ayam. Estrogen dipergunakan untuk memperbaiki pertumbuhan dan memperbaiki karkas ayam. Senyawa thyroaktif (seperti casein yang mengandung iodium) kadang digunakan untuk memperbaiki produksi telur, kualitas telur, dan mencegah degenerasi lemak dibawah kondisi tertentu. Beberapa macam obat (termasuk hormon) dipergunakan untuk menghentikan jatuh bulu (molting) atau untuk mempercepat molting ayam yang sudah berproduksi lama.

f). Probiotik merupakan bahan pakan tambahan berupa mikrobia hidup yang berperan membantu proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi di saluran pencernaan.  Probiotik juga berperan meningkatkan keseimbangan mikrobia di dalam saluran pencernaan. Mikrobia yang terkandung dalam probiotik antara lain Saccharomyces cerevisiae yang kaya vitamin, enzim maupun nutrien lainnya dan Aspergillus oryzae yang memiliki enzim pencerna serat.

Sebagai ganti APG  bisa digunakan probiotik sebagai pemacu pertumbuhan broiler. Prinsip kerja dari probiotik yaitu bakteri-bakteri probiotik (Lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat sehingga pH saluran pencernaan turun, dan menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen. Bakteri-bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan. Fungsi lainnya yaitu menjaga keseimbangan mikroflora saluran cerna, menekan pertumbuhan mikroba patogen dengan menghasilkan zat anti mikroba (bakteriosin), serta meningkatkan competitive exclusion  (CE) yaitu mekanisme kompetitif antara probiotik dengan bakteri patogen baik pada perlekatan koloni maupun menggunaan nutrien.

 

g). Mold inhibitor dan toxin binder diperlukan melihat kondisi lingkungan Indonesia  yang beriklim tropis terbukti mendukung pertumbuhan jamur, terlebih lagi jika kadar air ransum melebihi standar (> 14%). Oleh karena itu penambahan mold inhibitor yang berperan menghambat pertumbuhan jamur diperlukan, terutama saat musim penghujan. Asam propionat merupakan contoh mold inhibitor yang sering digunakan. Saat jamur telah mengkontaminasi maka bisa dipastikan bahan baku ransum telah tercemar racun jamur. Jamur yang mencemari ransum bisa dengan mudah dimatikan namun tidak demikian dengan racun jamur yang tidak sulit dihilangkan baik melalui perlakuan fisik (pemanasan), kimia atau biologi. Oleh karena itu untuk menekan atau menghilangkan pengaruh negatif dari racun jamur ini perlu ditambahkan toxin binder (pengikat toksin). Contoh toxin binder ialah zeolit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS) atau serat dari kulit gandum

h). Koksidiostat seperti sulfaquinoxalin, amprolium, dan oxytetrasiklin merupakan contoh zat koksidiostat yang sering dicampurkan dalam ransum jadi. Tujuannya ialah untuk menekan pertumbuhan koksidia yang terdapat dalam ransum. Kita hendaknya mengetahui jenis koksidiostat yang ditambahkan dalam ransum sehingga saat ayam kita terserang koksidiosis kita bisa memberikan obat yang sesuai, yang tidak memicu terjadinya resistensi

i). Antioksidant diperlukan untuk mencegah ketingikan yang ditimbulkan oleh lemak.Lemak yang terkandung dalam ransum dapat mengalami reaksi oksidatif sehingga menimbulkan ketengikan. Akibatnya palatabilitas ransum menurun. Selain itu reaksi oksidatif ini juga dapat mengakibatkan kerusakan vitamin larut lemak (A, D, E dan K). Guna mencegah ketengikan tersebut bisa ditambahkan antioksidan, seperti butylated hydrosi toluen (BHT) atau ethoxyquin. PROTAIN OT 102 - antioksidan, 

i). Zat pewarna

Secara naluri, ternak unggas menyukai pakan berbentuk butiran dan berwarna kuning. Karena itu beberapa pabrik pakan menambahkan pewarna ke dalam pakan. Zat pewarna pakan berfungsi untuk meningkatkan keinginan ternak dalam mengonsumsi pakan. Pewarna pakan ini bisa diperoleh di toko-toko kimia. Penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.  Pewarna sintesis yang diperbolehkan, namun dibatasi penggunaannya, antara lain tartrazin, kuning kuinolin, kuning FCF, karmoisin, ponceau, eritrosin, merah allura, indigotin, biru berlian FCF, hijau FCF, dan cokelat HT. 

Pemberian Feed Additive

Feed additive bukanlah zat makanan atau makanan dasar untuk meningkatkan nutrisi hewan melainkan hanya sebagai zat tambahan oleh karena itu perlu diperhatikan manajemen pemberian feed additive yang benar agar hasil yang didapatkan optimal. Pemberiaan feed additive harus memperhatikan syarat sebagai berikut :

  • Meskipun rentang dosis pemberian feed additive relatif lebar, namun hendaknya disesuaikan dengan dosis dan aturan pakai yang tercantum pada produk
  • Pencampuran bahan tambahan dalam ransum hendaknya perlu dipastikan tercampur secara homogen. Jika kita memakai mixer untuk mencampur suplemen maka sebaiknya digunakan mixer horizontal dan suplemen tersebut dicampur dengan sejumlah kecil ransum dulu baru setelah itu dicampur dengan ransum dalam jumlah yang lebih banyak. Teknik pencampuran ini juga digunakan jika kita melakukannya secara manual

b. Macam-Macam Feed Supplement

Kandungan zat nutrisi yang sering terdapat dalam sediaan feed supplement antara lain vitamin, mineral dan asam amino. Menurut Misriadi (2013) Ketiga komponen nutrisi inilah yang seringkali mengalami defisiensi, ketiga komponen tersebut antara lain:

1). Vitamin

Vitamin merupakan komponen nutrisi yang relatif labil terhadap cahaya, kelembaban, suhu maupun suasana asam dan basa . Selain itu stabilitas sebagian besar vitamin juga dipengaruhi oleh jangka waktu penyimpanan ransum. Ketidakstabilan vitamin dan fungsi penting dari masing-masing vitamin inilah yang mendasari perlu dilakukannya suplementasi vitamin dalam pakan ternak..

Vitamin-vitamin yang paling sering ditambahkan dalam pakan ternak antara lain vitamin A, B12, D3, K, riboflavin, asam pantotenat, kholin dan niasin. Vitamin C juga sering ditambahkan dalam ransum atau air minum. Sebagai sumber vitamin A dapat digunakan Vit. A palmitat, Vit. A acetat dan minyak ikan. Sumber vitamin D2 digunakan Vit. D pada semua tanaman yaitu hasil aktivasi sterol dalam tanaman oleh sinar ultraviolet. Sumber vitamin D3 digunakan Vit. D pada hewan yang merupakan hasil aktivasi sterol pada hewan oleh sinar ultraviolet misalnya minyak ikan. Sumber vitamin E digunakan senyawa vit. E aktif, misalnya dl alpha tokoferil asetat. Sumber vitamin K dapat menggunakan MCBC (Manadione Sodium Bisulfide Complex), dan MPB (Menadione dimethylpyridinol sodium bisulfite).

Pemberian vitamin juga perlu diperhatikan, mengingat peranan vitamin yang sangat penting. Kelebihan kadar vitamin tidak akan memberikan pengaruh yang besar terhadap produktivitas ternak. Alasannya rentang dosis vitamin relatif besar dan kelebihan vitamin akan dibuang oleh tubuh. Hanya saja untuk vitamin larut lemak (A, D, E dan K) rentang pemberian yang terlalu lebar (berlebih) dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu kerja hati karena vitamin ini disimpan di dalam hati. Selain itu kelebihan vitamin D juga dapat mengakibatkan gangguan deposisi kalsiumpada tulang.

 2). Mineral

Mineral ialah suatu senyawa an-organik terkecil yang menyusun tubuh makhluk hidup termasuk hewan. Ketersediaannya harus disuplai dari luar, misalnya melalui pakan karena tubuh hewan tidak bisa memproduksinya. Dalam perkembangannya, ketersediaan mineral dapat berupa mineral organik, yaitu mineral yang digabungkan dengan senyawa organik seperti asam amino, asam organikatau polisakarida. Contoh sediaan mineral organik ini antara lain metal specific amino acids complexmetal amino acid complex, metal organic acid dan metal polysaccharide. Selain metal (besi, red) mineral yang telah tersedia dalam bentuk organik antara lain zinc, ma-ngan dll.

Ternak seperti ayam membutuhkan dua macam mineral yaitu makro dan mikro mineral. Kalsium, fosfor, kalium, natrium, klor, sulfur dan magnesium termasuk kelompok makro mineral, sedang mineral yang lainnya, seperti besi, seng, mangan dll tergolong sebagai mineral mikro. Kalsium dan fosfor merupakan mineral yang memerlukan suplai pa-ling besar dibandingkan mineral lainnya. Sumber mineral dapat ditemukan pada  Tepung tulang, Tepung kerang (CaCo3) , Garam (NaCl).

 3). Asam amino

Asam amino adalah monomer dari protein. Sebagai bahan pakan tunggal asam amino tidak tersedia di alam, namun tersedia secara buatan. Metionin, lisin, treonin dan tripthopan merupakan beberapa asam amino yang sering diberikan suplementasi. Keempat asam amino tersebut termasuk asam amino essensial, yaitu asam amino yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh hewan sehingga harus disuplai melalui pakan. Selain keempat asam amino itu yang termasuk asam amino essensial antara lain arginin, histidin, isoleusin, leusin, valin dan penilalanin. Keenam asam amino ini relatif bisa terpenuhi dari pakan yang diberikan.

Pakan pada hewan misalnya ayam sebagian besar tersusun atas bahan baku ransum berupa biji-bijian, seperti jagung dan bungkil kedelai yang notabene kadar asam aminonya kurang ideal, terutama metionin. Hal inilah yang mendasari diperlukannya suplementasi asam amino. Oleh karena itu, di pasaran sudah tersedia asam amino seperti DL- metionin dan L-lisin yang mempunyai kemurnian 99%.

4). Minyak Ikan

Disupermarket kita dapat membeli telur dengan kandungan omega3 lebih tinggi dari standar. Hal tersebut diperoleh dengan menambahkan minyak ikan pada pakan ayam petelur.

 Pemberian Feed Supplement

Pemberian feed suplement intinya sama dengan dengan feed additive karena keduanya bukan merupakan pakan dasar melainkan hanya pakan tambahan. Pemberiannya harus selalu memperhatikan dosis yang sesuai, serta proses pencampuran yang tepat selain itu manajemen pemberian juga selalu diperhatikan agar tidak terjadi pemberian yang berlebihan kepada ternak.

 

2. Kebutuhan Dan Keseimbangan Zat Makanan Ditentukan

 

a.    Kebutuhan Nutrisi Pakan

Kebutuhan nutrisi ternak unggas tersedia dalam berbagai versi. Misal ada versi SNI (standar nasional Indonesia), versi NRC (National Research Council), versi manual yang dikeluarkan oleh produsen kuri (DOC) dan versi dari pabrikan pembuat pakan ayam. Masing-masing versi punya kelebihan dan kekurangan. Jika kita ingin menyusun pakan sendiri bisa mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

 

 

 

1). NRC

NRC merupakan kompilasi internasional yang banyak dipakai di seluruh dunia. Standar ini bisanya sedikit dimodifikasi disesuaikan dengan iklim di masing-masing negara.

2). Standar Produsen Kuri

Standar ini banyak digunakan didaerah tropis, negasa asal produsen kuri, jika digunakan akan banyak memodifikasi kebutuhan nutrisinya. Jika digunakan di indonesia kurang pas, harus dimodifikasi lagi.

Contoh Kebutuhan Nutrisi ayam petelur:

Sumber: Lohman Brown 2014

3). SNI

Standar SNI harusnya paling pas dengan kondisi indonesia. Namun sayang SNI sering ketinggalan jaman. Kebutuhan nutrisi dari waktu-ke waktu berkembang terus. Misal kebutuhan protein fase layer dulu  sekitar 16%, seakarang sekitar 18 sd 20%.

4). Pabrik Pakan

Standar kebutuhan nutrisi pabrik pakan sudah melalui tahap uji di farm perusahaan pakan. Pada kemaan pakan tertera label kertas yang berisi bahan baku dan komposisi nutrisi pakan. Tabel tersebut dapat dijadikan referensi dalam menentukan kebutuhan nutrisi pakan. Namun untuk mengetahui kebenaran kandungan nutrisi pakan ada baiknya di uji ulang ke laboratorium untuk mengecek kebenaran kandungan nutrisinya.

Tablel 4. Contoh Nutrisi yang Dibutuhkan Ayam Petelur

 

No

 

Nutrisi

0-5 minggu

starter

5-10 minggu

Grower

10-16 minggu

pullet

16 mg - bertelur 2% (pre layer)

17-28 mg

28-60 mg

1

Energi Kkal/kg

2.950

2.850

2.750

2750

2750

2750

2

Protein kasar(%)

20,50

20,00

16,80

17,50

17.7

16,3

 

Lysine (%)

1,16

1,03

0,78

0,87

0,82

0,75

 

Methionine (%)

0,52

0,47

0,35

0,38

0,41

0,38

 

M+C (%)

0,86

0,80

0,63

0,68

0,70

0,64

3

Lemak (%)

3,00

3,00

3,00

3,00

3,00

3,00

4

Mineral makro

 

 

 

 

 

 

 

Ca (%)

1,05

1,00

1,00

2-2,1

3,65-4,2

4 - 4,2

 

P (%)

0,15

0,16

0,16

0,16

0,4

0,38

5

Serat kasar (%)

5,00

6,00

8,00

8,00

8,00

8,00

Sumber:  NRC 1994, dan Panduan Manajemen HylineBrown 2018

 untuk menghindari menurunnya konsumsi pakan, ditambahkan kalsium 50% granular pada pakan pada fase pullet dan prelayer.


 

Tabel 5. Contoh Nutrisi Yang Dibutuhkan Ayam Broiler Komersial Dan NRC

 

No

 

Nutrisi

Merek A 0-4 minggu

Merek B

0-4 minggu

0-24 hari (starter)

24 hari-dijual (finisher)

  1.  

Energi Kkal/kg

3.086

3,100

3.200

3.200

  1.  

Protein (%)

22,00

21-23

23-24

20-21

  1.  

Lysine (%)

1,1

1,10

1,25

1,00

  1.  

Methionine (%)

0,43

0,43

0,28

0,23

  1.  

M+C (%)

0,97

0,97

0,92

0,80

  1.  

Lemak (%)

5,00

2,5-7

9,00

10,0

  1.  

Mineral makro

 

 

 

 

 

Ca (%)

0,9-1,10

0,9-1,2

1,00

1,00

 

P (%)

0,7-0,90

0,7-1,2

0,80

0,70

  1.  

Serat kasar (%)

4,00

5,00

5,00

5,00

  1.  

Kadar air (%)

12,00

13,00

12

12

  1.  

Salinomycin (ppm)

40-60

Monensim

 

 

  1.  

Virginiamycin (ppm)

2,5-5

Zink bacitracin

 

 

  1.  

Colistin (ppm)

2-20

 

 

 

  1.  

Kadar abu (%)

6,50

5,00-8,00

 

 

Sumber : NRC 1994, Label Pakan Komersial 2019.

 

Keterangan tabel: salinomicin sebagai cocidostat, virginamicin,  colistin, avilamicin zink bacitracin sebagai growth promotor, monensim sebagai cocidiostat,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERENCANAAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS

MERENCANAKAN KEGIATAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS PERENCANAAN KEGIATAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS Perencanaan   ( Planning )   ad...