MENENTUKAN KEBUTUHAN ZAT MAKANAN
Pengetahuan Yang Dibutuhkan
- Kebutuhan
Zat Makanan Baik Makro Maupun Mikro Bagi
Unggas Diidentifikasi
Kebutuhan nutrisi ternak unggas berbeda
sesuai dengan jenis unggas, bangsa, umur, fase produksi, dan jenis kelamin.
Kebutuhan nutrisi tersebut mencakup protein (protein kasar, asam amino lisine .
methionin ) lemak, kandungan energi, Vitamin, mineral terutama Ca, dan P.
Bahkan dalam literatur dapat ditemukan estimasi pertambahan bobot badan,
konsumsi pakan serta efisiensi penggunaan pakan untuk unggas yang diekspresikan
ke dalam Feed Conversion Ratio (FCR). Kebutuhan vitamin dan mineral
lainnya umumnya sudah terpenuhi dengan mencampurkan premix (campuran
berbagai vitamin dan mineral) ke dalam campuran pakan.
- Kebutuhan
Nutrisi Unggas
Pakan unggas disusun dari beberapa bahan pakan semacam
biji-bijian, bungkil kedelai, tepung limbah ternak, lemak dan campuran
vitamin-mineral. Bahan pakan tersebut
ditambah air akan menghasilkan energi dan nutrisi yang penting untuk
pertumbuhan, reproduksi dan kesehatan ternak unggas. Bahan pakan tersebut
adalah protein (asam amino), karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Energi
yang dibutuhkan unggas dihasilkan dari pencernaan karbohidrat, lemak dan
protein. Pakan unggas juga termasuk bahan yang tidak termasuk nutrisi misalnya
pigmen xantofil untuk menambah warna kuning telur, faktor pertumbuhan, dan
bahan antimikroba.
1). Energi
Energi bukan merupakan nutrisi, tetapi merupakan hasil
dari proses oksidasi bahan pakan yang akan menghasilkan energi dan nutrisi
selama proses metabolisme. Nilai energi dari bahan pakan dapat diekpresikan
dengan beberapa cara. Deskripsi tersebut berhubungan dengan nilai energi,
termasuk pengukuran (digestible energy,
metabolisme energy dll).
2). Terminologi Energi
Deskripsi singkat terminologi yang paling sering
digunakan pada pakan ternak unggas sebagai berikut:
·
Kalori (Cal)
Satu kalori
adalah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram airdari 16,50C
menjadi 17,50C. Karena panas spesifik air berubah dengan temperatur
maka secara lebih akurat 1 kalori sama dengan 4,184 joules.
·
Kilo Kalori (kcal)
1 kilo kalori sama dengan 1.000 kalori dan merupakan unit
yang sering digunakan pada pakan ternak unggas.
·
Joules
Satu joules
sama dengan 107 erg (1 erg adalah jumlah energi yang diperlukan
untuk mempercepat perpindahan masa 1 gram dengan 1 cm/detik)
3). Gross Energy (GE)
GE merupakan
energi yang dilepaskan sebagai panas jika suatu substansi dioksidasi menjadi
karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Pengukuran GE
menggunakan bom kalorimeter dengan tekanan oksigen 25 sd 30 atmosphere.
4). Digestible Energy (DE)
DE merupakan gross energy pakan yang dikonsumsi dikurangi
gross energy pada feces. Unggas mensekresikan feces dan urin bersama-sama
sehingga sulit memisahkan feces dan mengukur kecernaan. Sebagai konsekuensi
nilai DE jarang digunakan pada formulasi pakan unggas.
Keuntungan system DE adalah mudah mengukurnya tetapi
tidak memberi penjelasan tentang semua energi yang hilang yang disebabkan oleh
proses pencernaan dan metabolisme zat-zat makanan. Kelemahan utama dari system
DE bila digunakan dalam system pemberian pakan adalah over estimasi energi yang
tersedia untuk bahan makanan yang sukar dicerna (misalnya hijauan) dan relatif terhadap bahan makanan yang mudah
dicerna (misalnya biji-bijian).
5). Metabolisme Energy
(ME)
ME merupakan gross energi pakan yang dikonsumsi dikurangi
dengan gross energi pada feces, urine dan gas hasil metabolisme. Untuk unggas
energi pada gas biasanya diabaikan, sehingga ME merupakan energi dalam pakan
dikurangi energi sekresi unggas. ME paling banyak digunakan dalam perhitungan
formulasi pakan unggas. ME = 0,82 DE
6). Net Energy (NE)
NE merupakan enegi metabolisme dikurangi energi yang
hilang sebagai increment panas atau panas yang timbul dalam tubuh oleh reaksi
biokimia dalam saluran pencernaan atau dalam sel. Di daerah dingin panas
tersebut dimanfaatkan untuk menjaga temperature tubuh tetapi di daerah panas
akan dibuang melalui konveksi ke udara sekeliling ternak . NE bisa terdiri dari energi yang digunakan
untuk menjaga (maintain) tubuh atau kebutuhan hidup pokok dan produksi sehingga
tidak ada NE absolute pada bahan pakan. Dengan alasan ini NE jarang digunakan
pada formulasi pakan unggas. NE bisa merupakan energi yang diperlukan untuk
menjaga tubuh (NEm) dan energi untuk produksi (NEp).
7). TDN (Total Digestible Nutrient)
Sistem ini berdasarkan analisis proximat yang memberi
nilai DE pada lemak dapat dicerna dan protein dapat dicerna. Sistem TDN
merupakan bentuk pengukuran kompromi antara DE dan ME. (0,45 kg TDN setara
dengan 2.000 kkal DE atau 1,600 kkal ME. Menurut NRC (National Researh Council)
nilai TDN hampir semua merupakan hasil konversi dari ME, dengan
persamaan: 1 kg TDN = 3,6155 Mkal ME = 4,4 M kal DE
b. Nutrisi Pakan
Zat makanan (nutrisi) merupakan substansi yang diperoleh
dari bahan pakan yang dapat digunakan ternak bila tersedia dalam bentuk yang
telah siap digunakan oleh sel, organ dan jaringan. Zat makan tersebut dapat di
klasifikasikan menjadi 6 kelompok yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
mineral, dan air. Masing-masing kelompok diuraikan sebagai berikut:
1). Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi yang penting bagi
unggas. Biji-bijian semacam jagung, sorgum, gandum dan barley merupakan bahan
pakan sumber karbohidrat. Di Indonesia juga terdapat sumber karbohidrat seperti
gaplek, onggok, dedak dll Mayoritas karbohidrat dalam biji-bijian berupa pati
yang siap untuk dicerna unggas.
Unit dasar karbohidrat adalah gula sederhana, yaitu
heksosa karena setiap molekul mengandung enam atom karbon. Sedikit heksosa
bebas dapat dijumpai pada tanaman. Sebagian besar adalah bentuk disakarida,
yang merupakan kombinasi dua gula heksosa atau polisakarida-polimer beberapa
molekul heksosa. Disakarida yang paling penting dijumpai di alam adalah sukrosa
dan laktosa, lakstosa adalah gula yang
dijumpai pada air susu, sedang sukrosa terdapat pada sebagian besar tanaman.
Karbohodrat ini termasuk polisakarida seperti pati,
selulosa, hemiselulosa dan pentosan dan oligisakarida seperti stachyose dan
raffinose yang sulit dicerna unggas. Selulosa merupakan persenyawaan organik
yang banyak terdapat di alam. Hampir 50% bahan organik pada tanaman terdiri
dari selulosa. Pada ternak unggas tidak bisa mencerna selulosa karena tidak
memiliki enzim selulase, pada ternak ruminansia enzim selulase diproduksi oleh
mikroba didalam rumen sehingga mampu mencerna selulosa.
Karbohidrat yang berguna bagi unggas adalah gula heksosa,
sukrosa, maltosa dan amilum (pati). Laktosa tidak dapat dicerna karena saluran
pencernaan unggas tidak menghasilkan lactase.
Bahan pakan sebagi sumber energi yang baik bagi unggas adalah yang
mengandung karbohidrat yang mudah dicerna, yaitu bahan yang mengandung serat kasar (selulosa,
hemiselulosa dan lignin) rendah dan sebaliknya bahan yang mengandung serat
kasar tinggi memiliki nilai nutritif yang rendah bagi unggas
2). Protein dan Asam
Amino
Protein adalah persenyawaan organic komplek yang
mengandung unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, dan sulfur.
Protein tersusun oleh lebih dari 20 persanyawaan organik yang disebut asam
amino. Satu molekul protein tersusun atas ikatan panjang beberapa asam amino
yang disebut ikatan peptida. Oleh karena suatu protein rata-rata mengandung 16%
nitrogen maka kandungan protein dari bahan pakan atau karkas dapat diduga
dengan mengalikan kandungan nitrogen dengan 6,2, dan akan menghasilkan
kandungan protein kasar.
Kebutuhan protein sebenarnya lebih ditekankan
pada kebutuhan asam amino yang terdapat dalam pakan. Terdapat 20 asam amino
dalam protein dan semuanya penting bagi ternak. Asam amino tersebut dapat
dikategorikan menjadi asam amino esensial dan asam amino nonesensial. Asam
amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesa oleh tubuh unggas,
sedang asam amino non esensial dapat disintesa dari asam amino lainnya oleh
tubuh unggas. Daftar asam amino tertera pada tabel 1.
Fungsi protein antara lain untuk membentuk jatingan,
cairan tubuh, ensim, produksi, cadangan energi, dll
·
Membangun dan Membentuk
Jaringan Tubuh
Protein
berfungsi membentuk dan membangunan jaringan tubuh, misalnya daging,
pembentukan dan perkembangan organ-organ tubuh dan pertumbuhan bulu. Kebutuhan
terhadap protein untuk anak ayam lebih tinggi daripada untuk ayam remaja. Ini
disebabkan anak ayam yang sedang tumbuh memiliki banyak bagian yang sedang
tumbuh, bagian-bagian tersebut memerlukan protein.
· Pembentukan Cairan tubuh dan System Enzim
Cairan tubuh dan enzim merupakan faktor
terpenting bagi kehidupan ayam. Untuk pembentukan kedua faktor tersebut
memerlukan protein.
·
Produksi
Produksi
telur membutuhkan protein karena telur ayam kaya akan protein. Protein telur
itu juga berasal dari tubuh ayam. Oleh sebab itu ayam yang sedang bertelur
membutuhkan protein yang tinggi, Jika tidak ada protein maka ayam tidak akan
menghasilkan telur. Ini terbukti pada bila peternak ingin melakukan force
molting dalam dua hari setelah ayam puasa tidak akan bertelur.
·
Cadangan Energi
Protein juga berguna untuk cadangan energi. Walaupun
prosesnya tidak efisien, dalam keadaan tidak ada energi protein tubuh akan
diubah menjadi energi. Ini sebagai tanda betapa pentingnya energi, energi
digunakan untuk segala aktifitas tubuh.
Tabel 1. Asam Amino
|
Asam amino esensial |
Asam amino non esensial |
|
·
Arginine ·
Cystein ·
Cystine ·
Histidine ·
Isoleucine ·
Leucine ·
Lysine ·
Methionine ·
Phenilalanin ·
Threonine ·
Tryptophan ·
Tyrosine ·
Valine |
·
Alanine ·
Asam aspastat ·
Asam glutamat ·
Glysine ·
Hydroxyl proline ·
Proline ·
Serine
|
Sintesa protein jaringan tubuh dan telur memerlukan asam
amino esensial. Defisiensi asam amino esensial didalam pakan menyebabkan
pembentukan protein jarngan dan tubuh trerhambat atau tidak terbentuk. Asam
amino esensial yang sulit terdapat dalam pakan adalah sistin, lisin dan
triptofan disebut sebagai asam amino kritis.
Idealnya semua asam amino dan protin dalam ransum pakan
terpenuhi guna sitesa asam amino nonesensial. Kekurangan asam amino esensial
menyebabkan terganggunya pertumbuhan terhambat, tingkat produksi menurun,
pertumbuhan bulu buruk, dan penimbunan lemak karkas meningkat. Namun kandungan
asam amino yang paling rendah dalam bahan pakan adalah asam amino lisin dan
methionin, sehingga dalam penyusunan ransum unggas kedua asam amino tersebut dipertimbangkan
sebagai aspek yang penting.
Kekurangan kedua asam amino bisa ditambahkan dengan asam
amino murni yang banyak dijumpai di pasaran pakan ternak.
3). Lemak
Lemak murni merupakan ester glycerol yang memiliki asam
lemak rantai panjang dan merupakan persenyawaan karbon, hydrogen dan oksigen.
Persenyawaan oksigennya lebih rendah dibanding karbohidrat sehingga energi
lebih tinggi (2,25 kali lipat) dari karbohidrat dan protein. Meskipun energinya
tinggi, pemberian lemak pada ternak unggas dibatasi 2-5%, untuk menghindari
diare dan ransum mudah tengik. Perbedaan lemak dan minyak pada bentuknya, pada
suhu normal lemak berbentuk padat sedang minyak berbentuk cair.
Molekul lemak terdiri dari glycerol dan kombinasi dengan
3 asam lemak. Asam lemak terdiri dari caprilyc, capric, laurat, miristat,
palmitat, palmitoleic, stearat, oleat, linoleat, linolenat, arachidic,
gadoleic, behenic, eurat, lignocerat. Komposisi kandungan lemak beberapa bahan
seperti tertera pada tabel 2.
Sebagian besar asam lemak dapat disintesakan oleh tubuh
ternak unggas, tetapi asam lemak linoleat dan arakhidonat tidak dapat disintesa
sehingga harus ada dalam pakan yang diberikan kepada ternak. Asam lemak
arakhidonat dapat disintesa dari asam linoleat. Defisiensi asam lemak menyebabkan
pertumbuhan tubuh terganggu, akumulasi lemak di hati dan lebih mudah terserang
saluran pernafasan. Kekurangan arakhidonat menyebabkan telur kecil dan daya
tetasnya rendah. Sumber minyak yang baik adalah minyak sawit, minyak kelapa,
minyak kacang tanah dan bunga matahari.
Lemak biasanya ditambahkan pada pakan ayam pedaging untuk
meningkatkan konsentrasi energi dan meningkatkan produktifitas dan efisiensi
pakan. Sumber lemak adalah lemak binatang dan minyak nabati (sawit atau
kelapa).
4). Mineral
Mineral merupakan bahan an organik dalam bahan pakan atau
jaringan tubuh. Fungsi mineral membantu proses metabolisme. Mineral esensial
terdapat 15 macam dan sering dibagi menjadi 2 kategori berdasarkan pada jumlah
yang diperlukan dalam pakan. Mineral
yang diperlukan dalam jumlah banyak disebut mineral makro dan dinyatakan dalam
persen dari pakan. Mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit disebut
minberal mikro (trace) dan dinyatakan dalam ppm (part per million) atau
milligram per kilogram. Dengan berkembangnya ilmu makanan ternak beberapa
mineral diduga esensial bagi ternak, misalnya : flour (F), silikon (Si),
titanium (Ti), vanadium (V), chromium (Cr), nickel (Ni), arsenic (As), bromine
(Br), strontium (Sr), Cadmium (Cd) dan Tin (Sn). Masing-masing kelompok mineral
dijelaskan sebagai berikut:
Table 2. Komposisi Lemak Nabati
|
No |
Asam lemak |
Jagung |
Biji kapas |
Minyak Sawit |
kernel sawit |
Kedelai |
Minyak kelapa |
|
1 |
Caprilyc |
- |
- |
- |
3 |
- |
6 |
|
2 |
Capric |
- |
- |
- |
4 |
- |
6 |
|
3 |
Laurat |
- |
- |
- |
51 |
- |
44 |
|
4 |
Miristat |
- |
1 |
1 |
17 |
- |
18 |
|
5 |
Palmitat |
13 |
24 |
48 |
8 |
12 |
11 |
|
6 |
Palmitoleic |
- |
1 |
- |
- |
- |
- |
|
7 |
Stearat |
4 |
3 |
4 |
2 |
2 |
6 |
|
8 |
Oleat |
29 |
18 |
38 |
13 |
24 |
7 |
|
9 |
Linoleat |
54 |
53 |
9 |
2 |
54 |
2 |
|
10 |
Linolenat |
- |
- |
- |
- |
8 |
- |
|
11 |
Arachidic |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
12 |
Gadoleic |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
13 |
Behenic |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
14 |
Eurat |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
15 |
Lignocerat |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
Sumber: Norman, Food Science, 2005
a).
Mineral Makro
Mineral berfungsi membentuk tulang, merupakan komponen
dari organ tubuh, kofaktor enzyme, dan menjaga tekanan osmotic. Kelompok
mineral makro terdiri dari 7 jenis yaitu
: calsium (Ca), phospor (P), potasium (K), Magnesium (Mg), sulfur (S),
natrium (Na) dan Chlorida (Cl).
Fungsi masing-masing mineral makro dijelaskan sebagai
berikut:
·
Kalsium dan Pospor
Kalsium dan pospor
diperlukan untuk pembentukan dan merawat tulang. Rasio Ca-P pada ternak
ruminansia dianjurkan 1:1 sampai 1:2, rasio yang terlalu lebar misalnya 8:1
akan menurunkan produksi ternak. Komposisi kasium dan pospor dari bagian
minersl tubuh sebersar 70%. Fungsi kalsium untuk membentuk tulang , translokasi
lemak dari darah ke kuning telur, proses pembekuan darah, kontraksi
otot-syaraf, keseimbangan asam-basa dan aktifitas sejumlah ensim.
Kebutuhan Ca-P pada ternak sapi dihitung berdasarkan
kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi, Untuk kebutuhan hidup pokok 1,54 gr
Ca dan 2,80 gr P untuk setiap 100 kg berat badan ternak. Untuk pertumbuhan
dihitung Ca sebanyak 7,1 gr dan P sebanyak 3,9 gr untuk setiap pertambahan
protein 100 gram. Untuk produksi susu dioperlukan Ca sebanyak 1,23gr dan P
sebanyak 0,95 gr untuk setiap Kg produksi air susu.
Pospor berfungsi untuk pembentukan tulang, penggunaan
energi, sistem ensim, kesimbangan asam basa, translokasi lemak dan struktur
sel. Pospor dalam tanaman hanya 30-40% yang bisa dicerna unggas dan sisanya
disekresikan dalam bentuk pitat pospor. Sumber P adalah tepung
ikan, tepung kerang, tepung tulang dan kapur.
·
Garam
Sodium (Na), potassium, magnesium dan klorida (Cl) berfungsi bersama-sama
dengan phospat dan bikarbonat menjaga
homeostatis proses osmosis dan pH
badan.
Sodium dan clorine penting untuk semua ternak. Dalam
pakan ditambahkan garam untuk memaksimumkan tingkat pertumbuhan dan produksi
telur. Jika kandungan garam tinggi maka konsumsi air
juga akan meningkat. Sumber P dalam pakan adalah bungkil-bungkilan, produk
hewani (tepung tulang-daging), dan tepung ikan.
·
Potasium (K)
Kalium (K) merupakan mineral intraseluler yang berperan
dalam metabolisme karbohidrat dan protein, keseimbangan asam-basa, pengaturan
tekanan osmose, dan kesimbangan air. Kekurangan mineral ini
akan mengganggu aktifitas ternak dan peran mineral makro lainnya.
·
Magnesium (Mg)
Magnesium merupakan bagian dari jaringan tubuh dan cairan
tubuh lainnya. Bahan pakan yang mengandung Mg antara lain dedak gandum
(Pollard), konsentrat nabati sumber protein (Bungkil kedelai) dll. Pada ayam broiler kebutuhan Mg sekitar 550mg per kg ransum.
·
Belerang (S)
Sulfur merupakan bagian dari protein yang terdapat pada
asam amino cystine, cystein dan methionine. Disamping itu S juga terdapat pada
vitamin biotin, thiamin dan polisakarida yang banyak mengandung sulfat. dan
sebagian kecil dalam darah. Disamping sebgau materi pembangun S juga berfungsi
pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan darah, endokrin,
keseimbangan asam basa.
Pakan alami biasanya sudah mencukupi kebutuhan ternak
akan sulfur. Sumber S pada pakan ternak adalah hijauan dan
jagung atau silase jagung. Namun dalam kasus dfisiensi S ternak menunjukan gejala klinis penurunan
nafsu makan, dan pertambahan berat badan, kelemahan umum, lakrimasi, sampai
dapat terjadi kematian. Sesuai dengan fungsinya maka defisiensi S menyebabkan
gangguan sintesis protein mikroba, gejala kekurangan protein, penurunan
kecernaan selulosa, dan penimbunan asam
laktat yang terlihat dalam darah dan urin. Kadar S yang aman adalah 0,1-0,2% tergantung
jenis makanan.
·
Calsium (Ca)
Ca merupakan mineral yang paling banyak dalam tubuh.
Mineral ini dibutuhkan untuk pembentukan tulang, perkembangan gigi, produksi
air susu, telur, transmisi impuls syaraf, pemeliharaan eksitabilitas urat
daging yang normal (bersama-sama dengan K dan Na), regulasi denyut jantung,
gerakan urat daging, pembekuan darah dan mengaktifkan-menstabilkan enzim
(misalnya: amilase pankreas).
Defisiensi
Ca
Defisiensi Ca menyebabkan riketsia, pertumbuhan terhambat,
tidak ada koordinasi otot. Kekurangan Ca pada ternak dewasa akan menyebabkan
osteomalasia. Yaitu akibat demineralisasi dari tulang hewan yang sudah dewasa.
Kandungan Ca (dan P) dalam tulang sifatnya dinamis, artinya pada saat produksi
ternak tinggi akan mengambil Ca dari tulang. Gejala
klinis antara lain kelemahan tulang dan gampang rusak kalau kena tekanan.
Kadar Ca bahan pakan sangat bervariasi yang disebabkan
oleh jenis tanaman, bagian dari tanaman dan umur tanaman. Hijuan
pakan ternak yang lebih tua kadar Ca- nya akan menurun. Leguminosa atau
kacang-kacangan lebih banyak mengandung Ca
daripada rumput. Biji-bijian untuk konsentrat kadar Ca-nya rendah.
Sumber Ca adalah kalsium karbonat, batu kapur giling,
tepung tulang, dikalsium fospat, kalsium sulfat, tepung ikan, tepung kerang,
tepung tulang. Kalsium pada unggas muda diperlukan untuk pembentukan tulang,
sedangkan pada ayam petelur diperlukan untuk pembentukan sel telur dan juga
berfungsi pada darah dan kominikasi intraceluler.
b).
Trace Mineral
Trace mineral (mineral mikro) terdiri dari 8
jenis yaitu : cobalt (Co) , cooper (Cu), Iodine (I), besi (Fe), mangan (Mg),
selenium (Se), cobalt (Co) dan zink
(Zn). Cobalt juga diperlukan tetapi sudah terdapat pada vitamin B12. tembaga
dan besi sering sudah cukup pada bahan pakan sehingga tidak perlu penambahan.
Trace mineral merupakan bagian dari molekul organic. Besi merupakan bagian dari
hemoglobin dan citocrom. Yodium adalah bagian dari thyroxine. Tembaga, mangan,
selenium, dan zink membantu proses enxime. Khusus untu zink merupakan bagian
dari struktur DNA.
Kebutuhan trace mineral dipenuhi dari bahan
pakan yang dikonsumsi ternak. Pada kasus khusus tanah yang ditumbuhi bahan
pakan defisiensi trace mineral yang menyebabkan kandungan trace mineral dalam
bahan pakan rendah. Masing-masing mineral mikro dijelaskan
sebagai berikut:
· Mangan (Mn)
Mn diperlukan untuk aktivator enzim, dan trasfer posphat
dan decarboxilase, mencegah pesrosis, dan pertumbuhan tulang.Kebutuhan Mn pada
ayam broiler sebanyak 70mg/Kg pakan pada masal awal dan 100mg/kg ransum pada
masa akhir. Sumber Mn adalah hijauan dan bahan konsntrat seperti jagung.
Didalam tubuh ternak Mn dijumpai pada hati, ginjal,
pankreas, dan pituatary, dan sedikit pada jantung, urat daging dan tulang. Pada
ruminansia Mn berfungsi sebagai sintesa karbohidrat, mucoplyssacharide, sistem
ensim, misalnya pyruvate carboxylase, arginine synthetase dll. Kebutuhan Mn
pada ruminansia belum banyak diketahui tetapi kekurangan Mn menyebabkan gejala
klinis bentuk tulang dan postur yang abnormal. Kelainan bentuk tulang antara
lain kaki bagian bawah, pembengkakan sendi, humerus yang relatif pendek, dan
tulang yang relatif rapuh. Defisiensi Mn juga dapat menggagu proses reproduksi ternak jantan dan
betina. Pada ternak jantan menyebabkan gangguan spermatogenesis, degenerasi
testis, dan ekididimus, dan berkurangnya hormon kelamin yang menyebabkan
sterilitas. Pada ternak betina dapat terlihat ertrus yang tidak menentu (tidak
ada), dan tidak terjadi konsepsi (pembuahan) dan kalaupun terjadi pembuahan
dapat menyebabkan keguguran.
Didaerah tropis yang banyak terdapat gunung berapi
bisanya jarang terjadi kasus kekurangan Mn. Hal ini disebabkan Mn dalah hijauan
dan pakan konsentrat sudah cukup untuk kebutuhan ternak. Sumber Mn adalah hijauan, konsentrat dan
premix mineral buatan pabrik.
·
Copper (Cu)
Copper berperan dalam enzim dan utilisasi besi dalam
pigmentasi kulit dan pembentukan hemoglobin. Beberapa enzim yang membutuhkan
copper antara lain ceruloplasmin, cytochrome, oxidase, lusine oksidase,
tryrosinase, plastocyanin, dan baemocyanin. Penyerapan copper dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu: keasaman lambung,
penggunaan calsium carbonat dan ferros sulfid akan menurunkan penyerapan
Copper. Copper yang tidak terserap akan dikeluarkan lagi melalui tinja (feces),
pada kenyataannya dari copper yang dikonsumsi lebih dari 90% disekresikan
kembali oleh ternak.
Kebutuhan copper pada ayam broiler sebesar 10 mg/kg
ransum. Sumber
copper adalah pakan alami.
Fungsi esensial dalam tubuh
antara lain:
·
pembentukan hemoglobin, penyerapan Fe dan
mobilisasi Fe dari tempat penyimpannya.
·
membantu metabolisme tenunan pengikat
·
kofaktor enzim memerlukan Cu untuk aktifitas biologisnya. Enzim
tersebut antara lain: cytochrome oxidase, ascorbic acid axidase dll.
Dalam tubuh
ternak Cu dapat ditemui pada hati, otak, jantung, urat daging, dan lemak. Pakan
dengan kandungan Cu 10 ppm dianggap cukup untuk sapi pedaging. Gejala
defisiensi Cu antara lain: terganggunya pigmentasi , menderita fibrosis miokardium,
tulang pipih dngan tulang rawan melebar, mudah mengalami fraktur atau
aoetoporosis. Hampir semua hijauan dapat mesuplai kebutuhan Cu ternak sebanyak
3-4 kali yang dibutuhkan. Namun tanaman yang banyak mengandung pitat dan lignin
dapat menurunkan penyerapan Cu. Preparat Cu yang dapat digunakan adalah CuCO3,
CuSO4 dll.
·
Iodium (I)
Mineral iodium terdapat dalam tubuh ternak kelenjar tiroid, darah,
daging dan susu. Jaringan lain yang mengandung I adalah
lambung, kelenjar saliva, ovarium, kelenjar pituatary, kulit, plasenta, dan
rambut.
I diperlukan untuk sintesis hormon oleh kelenjar thyroid
yang mengatur metabolisme energi. Hormon tiroid memegang peran dalam
termoregulasi, proses metabolisme antara, reproduksi, pertumbuhan dan
perkembangan, sirkulasi dan fungsi urat daging. Penyerapan iodium pada susu kecil dan
dikonsentrasikan pada kelenjar thyroid.
Kebutuhan I belum jelas, diperkirakan sekitar 0,05-0,8
ppm. Defisiensi I menyebabkan kelenjar gondok membengkak, kehilangan bulu,
kekuraga hromon tiroksin yang ditandai dengan kelemahan umum, basal metabolisme
menurun, pertumbuhan lambat, pedet lahir mati. Pada hewan betina menyebabkan
gangguan estrus sedang pada jantan menyebabkan menurunnya libido. Sumber iodium adalah pakan alami sepeti tepung ikan dan hijauan makanan
ternak. Pada ayam broiler dibutuhkan
kira-kira 1 mg per kg ransum.
· Zinz (Zn)
Zn (seng) berperan dalam pengaktif dan komponen beberapa enzim seperti carbonic anhydrase,
carboxys peptidase, alkohol dehidogenase yang berperan dalam metabolisme asam
nukleat, sintesis protein dan metabolisme karbohidrat. Dalam kulit dan jaringan tubuh lainnya serta
tulang juga terdapat Zn.
Gejala klinis defisiensi Zn pada unggas adalah
pertumbuhan lambat, tulang lunak dan rapuh, bulu kusam, pernapasan tidak normal
dan keratosis pada kulit. Sedang gejala klinis pada ruminansia adalah tidak
perduli terhadap lingkungannya, pembengkakan kaki dan dermatitis pada leher,
kepala dan kaki, gangguan penglihatan, banyak bersalivasi (ludah), penurunan
fungsi rumen, luka sulit sembuh, dan gangguan reproduksi ternak jantan.
Sumber Zn adalah dedak padi dan dedak gandum. Kebutuhan
Zn pada ransum ayam broiler sebesar 40mg per kg ransum. Namun demikian
defisiensi Zn jarang terjadi karena dalam pakan ternak sudah tersedia cukup
kandungan Zn. Didalam luminosa terdapat
kandungan Zn 60 ppm, biji-bijian mengandung 10-30 ppm Zn, sumber protein nabati
mengandung 50-70 ppm Zn, sumper protein hewani mengandung 100 ppm.
Kebutuhan Zn ternak ruminansia sulit diperkirakan namun
secara umum kebutuhan tersebut 20-40 mg/kg berat kering pakan.
· Selenium (Se)
Se berperan pada proses metabolisme yang normal dan ada
kaitannya dengan vitamin E. Vitamin E dapat menggantikan kebutuhan mineral Se.
Kelebihan Se akan menyebabkan keracunan ternak. Suplentasi Se pada ayam broiler
sebesar 0,1 mg per 1 kg ransum. Sumber pakan yang mengandung Se antara lain
jagung (20 ppm), dan dedak gandum (55 ppm).
Dalam tubuh ternak berupa seleno-potein yang
terdistribusi secara luas dalam tubuh. Se juga berperan dalam
penyerapan lipid dalam saluran pecernaan, atau pengangkutan melalui dinding
usus. Dalam tanaman Se terdapat dalam bentuk selenium amino acid bersama-sama
dengan protein. Kandungan Se tanaman sangat tergantung dari kandungan Se dalam
tanah. Pada tanaman selenium terdapat pada leguminosa dan rumput.
· Molibdenum (Mo)
Mo didapati pada seluruh urat daging-tulang dan sedikit
pada hati, ginjal dan bulu ternak. Fungsi dari Mo adalam komponen esensial dari
beberapa enzim misalnya: xanthine oksidase, aldehyda oksidase dll. Kebutuhan Mo
bagi ternak ruminansia belum diketahui ecara jelas. Kekurangan Mo jarang
ditemukan, tetapi kelebihan Mo justru menyebabkan defisiensi Cu dan menjadi
racun yang menyebabkan diare, anoreksia, anemia, ataksia, dan kelainan bentuk tulang,
depegmintasi kulit atau bulu. Sumber
pakan yang menganduk Mo adalah hijauan segar, sedang pada hijauan kering
kandungan Mo menurun.
·
Cobalt (Co)
Dalam tubuh ternak Co ditemukan pada hati, mata, ginjal, kelenjar adrenal, limpa dan pankreas
dan sedikit pada sumsum tulang darah, susu dan empedu. Didalam rumen sapi Co
digunakan mikroba untuk pembentukan B12. pada makanan ternak kandungan Co pada
rumput lebih rendah daripada leguminoisa. Kebutuhan Co pada pakan sebesar 0.1
ppm dari bahan kering pakan.
· Fe
Dalam tubuh Fe didapai pada hati, limpa, ginjal, jantung,
sumsum tulang, darah dan sel-sel lainnya. Fungsi Fe dibutuhkan pada pembentukan
haemoglobin, mioglobin, enzim satilase, dan peroksidase. Fe berperan dalam transfer oksigen dalam sel
dan respirasi sel.
5).
Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik biasanya tidak disentesis
dalam tubuh, dan diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Vitamin diklasifikasikan menjadi dua
kelompok. Vitamin bukan struktur utama tubuh, tetapi diperlukan terutama
sebagai ko enzim atau regulator metabolisme. Ternak unggas memerlukan 13
vitamin yang harus terdapat dalam pakan, sebab (kecuali viatamin C) tubuh tidak dapat mesintesisnya.
Vitamin digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu vitamin yang
larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam
lemak terdiri dari vitamin A,D, E dan K. Sedangkan vitamin yang larut dalam air
terdiri dari tiamin, riboflavin, asam nikotenat, folasin, biotin, asam
pantotenat, pyridoxine, B 12, dan koline.
Kebutuhan vitamin dinyatakan dalam milligram per kilogram pakan, kecuali
vitamin A,D dan E dinyatakan dalam Internasional Unit (IU).
a). Vitamin
Yang Larut Dalam Lemak
· Vitamin A (Retinol)
Vitamin A terlibat dalam sistem penglihatan dan
pengelolaan jaringan epitel di seluruh permukaan tubuh bagian luar maupun
bagian dalam serta berbagai kelenjar endokrin/gonad. Peran vitamin A juga
membantu pembentukan protein.
Pakan ternak terdiri dari bahan nabati dan hewani. Pada
bahan hewani terdapat vitamin A sejati, sedang pada pakan nabati terdapat
provitamin A yang berawal dari caroten. Provitamin A tersebut
akan diubah menjadi vitamin A oleh ternak.
Kebutuhan vitamin A untuk ayam broiler di derah tropis
untuk masa awal sebesar 8.800 IU per kg ransum dan 8.000 IU pada masa akhir.
Gejala defisiensi vitamin A pada ayam adalah pertumbuhan lambat, keluar cairan
seperti keju pada ujung mata dan ujung lubang hidung, bulu kusam, dan agak
membotak, daya tahan terhadap penyakit menurun pada masa musim yang sangat
buruk. Kejadian defisiensi akan terjadi seacra sporadis artinya dalam satu
kelompok tidak mungkin hanya sebagian yang menderita defisiensi, jika menderita
defisiensi maka seluruh kelompok akan terkena gejala tersebut.
Kelebihan vitamin A akan menyebabkan ternak keracunan.
Pada unggas keracunan terjadi pda dosis 33.000IU per kg ransum kering sedang
pada sapi 17.000 IU per kg ransum kering. Gejala keracunan pada unggas adalah
engurangi warna kulit dan kunig telur, menurunya penyerappan nutrisi yang larut
dalam lemak, mengganggu penyerapan vitamin K yang penting bagi penutupan luka.
Keracunan pada ruminansia menyebabkan menurunnya aktifitas enzim pada
metabolisme energi sehingga mempengaruhi proses pertumbuhan.
Sumber vitamin A adalah hijauan segar, silase, atau hay,
jagung kuning, dan vitamin sintetis (asetat sintetis). Minyak hati merupakan
sumber vitmin A yang terbaik tetapi jarang digunakan pada peternakan.
·
Vitamin D ( Ergocalciferol)
Vitamin D
memiliki banyak bentuk, tetapi yang penting bagi ternak adalah D2 (ergocalciferol)
dan D3 cholecalcifero). Vitamin ini berfungsi dalam penyerapan vitamin Ca dan P
dan proses kalsifikasi dalam pertumbuhan tulang. Secara umum vitamin D
dibutuhkan untuk membantu pertumbuhan Dengan bntuan sinar ultraviolet matahari
tubuh ternak dapat mengubah provitamin D menjadi vitamin D. prinsip ni dimanfaatkan peternak dalam
membangun arah kandang yaitu agar dapat memanfaatkan sinar matahari utnuk
membantu proses pembentukan vitamin D. namun dengan berkembangnya vitamin
sintesis teori tersebut tidak selalu mutlak diterapkan dan ditambah penemuan
bahwa lampu listrik (Neon) dapat mengganti peran sinar matahari.
Kebutuhan
vitamin D pada pakan ayam broiler masa awal disranakan sebesar 1.850 ICU per kg
ransum kering dan 2.600 ICU pada ayam mas akhir. Ternak sapi membutuhkan vitamin D sebanyak
275 IU per Kg berat kering pakan secara rinci untuk anak sapi sebanyak 4 IU/kg
berat badan, untuk sapi yang sedang tumbuh 2,5 IU/kg berat badan, dan 10 IU /kg
BB uantuk sapi bunting/laktasi.
Pada ternak
unggas kasus defisiensi vitamin D jarang terjadi di Indonesia karena banyak
makanan yan mengandung vitamin D. pada unggas defisiensi D menyebabkan
Riketsia.
Sumber vitamin D dalam pakan berasal dari hijauan pakan
ternak dengan kandungan provitamin D 11 IU dan premix mineral buatan pabrik.
· Vitamin E (Alfa tokoferol)
Terdapat 7 vitamin E, tetapi alpha tokoferol adalah yang paling banyak
penyebarannya pada bahan pakan ternak. Vitamin E berfungsi menjaga kesuburan
ternak atau antisteril. Peran vitamin E
sebagai zat makanan yang vital dalam metabolisme urat daging/syaraf, kontraksi
urat daging, sirkulasi, respirasi, pencernaan, ekskresi, pertumbuhan, konversi
kanan dan reproduksi.
Kebutuhan vitamin E pada anak sapi 15-60IU/Kg berat
kering pakan, untuk sapi yang seang tumbuh 6,8-27,3 IU/Kg ransum dan untuk sapi
dewasa 13600 IU/0,45 kg ransum, dan 54.600 IU/ton ransum untuk sapi dara,
laktasi dan bunting. Pada ternak unggas jarang terjadi kekurangan vitamen E,
namun demikian disarankan dalam ransum terdapat 11 IU/KG untuk ayam broiler
pada masa awal dan 9 IU/Kg untuk ayam broiler pada masa akhir.
Sumber vitamin E adalah pakan hijuan dan biji-bijian.
Hijauan segar mengandung 100-200 mg/kg vitamin E, jagung kuning 25 mg/kg,
juwawut 11 mg/kg, dn gandum 2-3 mg/kg. Nampak bahwa hijuan lebih banyak
mengandung vitamin E dibanding biji-bijian. Karena
vitamin E tidak stabil maka disarankan menambahkan premix mineral untuk suplai
vitamin E.
· Vitamin K
Vitamin K dikenal sebagai antihaemoragi
karena dibutuhkan untuk membentuk protombin yang penting dalam proses pembekuan
darah jika terjadi luka pada ternak. Fungsi lain adalah menyediakan energi
untuk fungsi sel.
Pada ternak ruminansia vitamin K dapat
disintesa oleh mikroba dalam rumen dan saluran pencernaan dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan. Vitamin K merupakan satu-satunya vitamin yang
larut dalam lemak yang dapat disintesa oleh ternak ruminansia.
Pada kasus sapi mengkonsumsi zat anti
koagulan (misal dekumarol dari jamur, tanaman leguminosa/clover), yang mencegah
pembentukan protrombin yang akan menyebabkan ternak defisiensi K.
Sumber vitamin K adalah bahan dari tanaman
(K1), hewani (K2) dan K3 dari vitamin sintetis. Vitamin K sintetis dikenal
dengan menadion. Kebutuhan vitamin K ayam broiler masa awal 2,5 mg per kg dan
masa akhir 2,4 mg/kg , kebutuhan terebut dipenuhi dari pakan alami. Namun disarankan untuk menambah Vitamin K sintetis sebanyak 0,501 mg/0,5 kg
ransum. Bahan pakan sebagai sumber alami vitamin K adalah tepung ikan, bungkil
kacang kedelai.
b). Vitamin Yang Larut
Dalam Air
·
Vitamin B1 (Thiamin)
Dalam tubuh
ternak vitamin B1 berfungsi sebagai koensim kokarboxilase dalam bentuk thiamin
phyrophospahate. Fungsinya untuk proses enzimatis dekarbosilase asam alpha keto
atau dengan kata lain metabolisme asam piruvat menjadi asetat. Secara sederhana
diuraikan bahwa vitamin B1 membantu metabolisme karbohidrat menjadi energi.
Kekurangan
thiamin menyebabkan akumulasi asam asam piruvat dan akan menurunkan produksi
asam laktat di jaringan , dan ternak menunjukan defisiensi vitamin B1. Gejala
defisiensi pada ayam yaitu polineuritis, kepala ayam tertarik keatas menengadah
seperti tertarik tali, dan pertumbuhan lambat. Pada
ternak ruminansia menunjukan gejala buta, urat daging tremor, gigi gemeretak, opisthotonus
dan konvulsi.
Sumber vitamin B1 bagi ternak unggas adalah dari pakan
ternak seperti bekatul, bungkil, jagung dan sorgum. Defisiensi pada unggas
jarang terjadi tetapi kadang vitamin
dalam bahan pakan rusak sehingga disarankan menambahkan dosis 2,5 mg/kg ransum.
Pada ruminansia sumber vitamin b1 dari pakan dan mikroba rumen. Mikroba
rumen dapat mensintesis vitamin B1. Pada anak sapi dimana mikroba rumen belum
berkembang maka sumber B1 dari air susu yang diminumnya. Jika air susu
diganti milk replecement maka disarankan
menambahkan vitamin B1 menurut NRC sebanyak 65 µg/kg bobot badan.
·
B2 (Riboflavin)
Vitamin B2
berfungsi membantu transportasi hidrogen, metabolisme protein dan energi. B2
merupakan komponen flavoprotein yang
berfungsi sebagai konenzim.
Defisiensi
vitamin B2 pada unggas menyebabkan penyakit curled toe paralysis dengan gejala ayam berjalan dengan
dengkul (persendian kaki), kaki menjulur kedepan atau belakang, berdiri tidak
tegak bahkan tidak bisa berjalan. Penyebab kekurangan B2 karena kandungan
vitamin dalam bahan pakan kurang dari kebutuhan ayam tersebut. Kebutuhan
diperkirakan sebanyak 4,8-5,7 mgram per kg ransum. Untuk memenuhi kebutuhan
dapat ditambahkan vitamin sintetis. Sumber B2 adalah jagung kuning dan bungkil
kedelai.
·
Niacin
Niacin
berberan sebagai koensim yang membantu metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak. Bentuk koensim adalah nicotinamide
dinucleoide (NAD) dan nicotinamide dinucleoide phosphate (NADP). Sumber
niacian adalah bekatul, tepung ikan, dedak padi, dedak gandum dan bungkil.
Gejela defiensi pada unggas ayam menjadi kerdil dan pertumbuhan lambat.
Kebutuhan ayam terhadap niacin 35-40 mg per kg ransum. Untuk mencegah defieinsi
ditampahkan niacin sintetis.
Pada ternak ruminansia niacin dapat dibentuk dari
tryptopan. Reaksi ini terjadi didalam mikroba dan jaringan rumen. Sehingga
niacin erat hubungannya dengan thryptophan. Jika kadar tryptopan dalam pakan
rendak (0,2%) maka baru ada kebutuhan minimal niacin. Kandungan tryptopan 60 mg
setara dengan 1 mg Niacin. Anak sapi
yang kandungan air susunya rendah akan menderita defisiensi Niacin.
·
Pyrodoxin (B6)
Vitamin B6 berfungsi sebagai koensim yang membantu
proses metabolisme protein. Sehingga perannya esensial dalam proses
pertumbuhan. Pada ternak unggas defisiensi ini dapat mengganggu syaraf dan
kematian. Sumber B6 adalah pakan berasal dari hewani, bungkil kedelai, dan
biji-bijian. Dalam kondisi normal jarang terjadi defisiensi B6 kecuali jika
pakan rusak atau bahan pakan dipalsukan. Kebutuhan B6 dalam ransum unggas
berkisar 3,3-3,5 mg per kg ransum.
·
Biotin
Biotin
sebagai kelompok prostetik berperan pada bebrapa ensim yang memantapkan katalis
CO2 kedlam jaringan organik. Ensim yang mengandung Biotin adalah acetyl koensim
A karbosilasi, propionil koensim A karboxilasi dan methyl malonyl
transkarbosilasi. Pada ruminan bitoin dibutuhkan pada siklus urea, sintesis
arginin, pirimidin (asam nukleat penyusun
DNA), lintasan ekstra mitokondrial dan sitesis asam lemak, sehingga
penting perannya dalam proses pertumbuhan.
Sumber Biotin
adalah dedak, bekatul, biji-bijian. Jarang dijumpai defisiensi bitoin, namun
jika kasus terjadi gejalanya adalah perosis, pertumbuhan lambat, kerdil dan dermatitis disekitar paruh
dan kaki. Penambahan pada ransum unggas disarankan 0,1-0,11 mg per kg ransum.
·
Asam Folat
Vitamin ini
memegang peranan penting dalam reaksi biokimia dalam memindahkan unit C tunggal
dalam berbagai reaksi. Fungsinya antara lain dalam interkonversi serin dan
glysin, dalam sitesis purin, degradasi histidin atau dalam sitesis group methyl
tertentu. Purin penting dalam pertumbuhan dan reproduksi semua jaringan tubuh
karena purin merupakan bagian dari DNA. Defisiensi asam folat maka pembentukan
nucleo protein dalam proses pendewasaan sel-sel darah tidak terjadi dan akan
menyebabkan gejala anemia yang spesifik. Oleh karena itu asam
Folat juga dikenal dengan anti anemia. Unggas memperoleh suplai asam folat dari pakan yang dikonsumsi.
Penambahan pada pakan unggas disarankan 1,5- 1,8 mg/kg ransum. Sumber asam
folat adalah tepung ikan dan jagung.
·
Cyanocobalalanin (B12)
Fungsi B12
adalah sebagai koenzim pada bebrapa reaksi metabolik. Dibutuhkan untuk sintesis
grup metil dari karbon tunggal sebagai prekusor, secara langsung dibutuhkan
dalam metabolisme asam amino dan sintesis protein.
Vitamin ini
tidak terdapat dari sumber bahan pakan nabati, dan hanya terdapat dari sumber
pakan yang berasal dari hewani. Tepung ikan dan daging-tulang merupakan sumber
vitamin B12. untuk ayam broiler kebutuhan B12 pada masa awal 0,013 mg per kg
ransum dan pada ayam dewasa 0,012 mg per kg ransum. Pada ransum yang tidak
mengandung bahwan hewani harus ditambah dengan vitammin B12 sintesis. Kebutuhan B12 tergantung dari kadar lemak
dalam ransum, semakin tinggi kadar lemak maka semakin tinggi kebutuhan B12.
pada perubahan temperatur yang ekstrim juga akan menyebabkan kebutuhan B12
meningkat.
·
Kolin (Choline)
Kolin merukan
sumbstansi esensial dalam pembentukan dan pemeliharaan struktur sel dan
metabolisme lemak dalam hati. Kolin terdiri dari komponen asetil kolin yang
berperan pada mediator dalam aktivitas urat syaraf. Pembentukan asetil kolin
yang penting dalam transmisi impuls syaraf membutuhkan kolin.
Pada ayam kebutuhan kolin sebesar 780-800 mg per kg
ransum. Sumber kolin adalah bungkil kedelai dan bahan asal hewani seperti
tepung ikan dan daging-tulang.
·
Vitamin C
Vitamin C secara kimiawi dikenal dengan L asam askorbat.
Peran vitamin C adalah pada mekanisme oksidasi dan reduksi di dalam sel-sel
hidup. Fungsi lain dari vitamin C adalah mengurangi tekanan pada iklim tropis.
Beberapa hasil penelitian penambahan vitamin C pada ransum ayam dapat
menurunkan kematian dan mengurang gejala tekanan perubahan iklim. Pada ternak unggas dapat mensintesis sendiri
kebutuhan vitamin C. sedang pada ruminansia vitamin C disintesa dalam rumen
ternak.
6). Air
Air merupakan nutrisi yang penting bagi
unggas. Kebutuhan air sangat tergantung dari temperatur lingkungan dan
kelembaban relative dan komposisi pakan ternak, tingkat pertumbuhan, atau
produksi telur, dan efisiensi ginjal dalam. Jumlah air yang dikonsumsi
diperkirakan 2 kali lebih banyak dari pakan yang dikonsumsi berdasarkan berat
pakan, tetapi konsumsi air pada kenyataannya sangat bervariasi.
a). Fungsi Air
Fungsi air terdiri dari 4 komponen yang terintegrasi
dalam system pertumbuhan.
·
Komponen Jaringan
Air bebas yang terikat dalam jaringan daging merupakan
contoh yang baik. Perubahan keduanya (air bebas dan terikat) dapat mengubah
aktifitas enzim yang selanjutnya berpengaruh pada tingkat pertumbuhan urat
daging.jumlah air yang diikat dipengaruhi oleh fase perkembangan jaringan urat
daging. Sapi yang tua kapasitas mengikat
air lebih tinggi disbanding sapi yang lebih muda.
·
Media Fisik
Air berfungsi
sebagai pengantar zat makanan dari saluran pencernaan kedalan jaringan tertentu
untuk sintesis komponen tertentu guna pertumbuhan atau hidup pokok sel
tertentu.
·
Mengatur Fungsi Osmosis
Dalam Sel
Air berperan dalam memelihara keseimbangan konsumsi
mineral tertentu dalam urat daging. Konsentrasi kalsium dalam urat daging
penting untuk mengatur metabolisme energi dan kontraksi. Jika kadar mineral
tidak seimbang akan menyebabkan kontraksi dan pertumbuhan urat daging
terganggu.
·
Air sebagai Pereaksi (Reagent).
Air berperan
dalam fungsi reaksi kimia untuk sintesis (pembangunan) jaringan. Contoh: reaksi hidrolisis untuk sintesa asam amino untuk pembentukan
protein.
Air yang digunakan oleh ternak dapat berasal dari air
minum, air yang terkandung dalam bahan pakan dan air hasil proses metabolik.
Air dari bahan pakan sangat bervariasi dari 3% s.d 80% tergantung jenis bahan
pakannya. Komponen air dalam tubuh ternak mencapai 2/3 bobot badan (55-75%).
b).
Kebutuhan Air
Kebutuhan air dipengaruhi oleh kandungn bahan kering, dan
komponennya, temperatur lingkungan dll
·
Lingkungan
Unggas, jika
tempertur berubah maka konsumsi bahan kering atau energi akan menurun dan
konsumsi air meningkat. Ditinjau dari segi pertumbuhan, dalam keadaan panas
meningkat maka pertumbuhan akan menurun, namun sebagian penurunan dapat diganti
dengan peningkatan retensi air.
·
Protein
Semakin tinggi konsumsi protein maka semakin tinggi
konsumsi air. Air
tersebut diperlukan untuk mengeluarkan hasil metabolisme lewat urin.
·
Na Cl
Semakin tinggi konsumsi NaCl maka semakin tinggi konsumsi
air. Perubahan 1% salinitas tidak mempengaruhi konsumsi air
minum pada unggas.
Table 3. Ringkasan Gejala Defisiensi Vitamin
|
No |
Vit |
Ternak Unggas |
|
1. |
A |
Pertumbuhan lambat, keluar cairan seperti keju pada ujung mata
dan ujung lubang hidung, bulu kusam, dan agak membotak, daya tahan terhadap
penyakit menurun pada masa musim yang sangat buruk |
|
2. |
D |
Penyakit riketsia, rakitis Kombinasi dengan kekurangan Ca dan P menyebabkan osteomalasi
(dekalsifikasi tulang) |
|
3. |
E |
Gangguan reproduksi
(kesuburan), gila ayam |
|
4. |
K |
Jika terjadi luka,
pendarahan sulit membeku |
|
5. |
B1 |
Polineuritis, kepala ayam tertarik keatas menengadah seperti
tertarik tali, dan pertumbuhan lambat |
|
6. |
B2 |
Penyakit curled toe paralysis dengan gejala ayam berjalan dengan
dengkul (persendian kaki), kaki menjulur kedepan atau belakang, berdiri tidak
tegak bahkan tidak bisa berjalan. |
|
7. |
Niacin |
Pertumbuhan terganggu |
|
8. |
B6 |
Pertumbuhan terganggu |
|
9. |
biotin |
Pertumbuhan terganggu |
|
10. |
Asam folat |
Pertumbuhan terganggu |
|
11. |
B12 |
Pertumbuhan terganggu |
|
12. |
Kolin |
Sistem syaraf terganggu |
|
13. |
C |
Stress |
·
Jenis Makanan
Pakan dengan kandungan air sedikit, akan meningkatkan
konsumsi air. Kandungan air pakan dipengruhi oleh kadar air dari bahan pakan
penyusunnya.
c). Pengeluaran Air
Pengeluaran
air pada unggas melalui panting
(pernafasan mulut) dan faeces yang bercampur urin, hal ini karena ayam tidak
memiliki kelenjar keringat. Pada udara panas dapat mudah diamati ayam akan
lebih banyak panting dari pada udara
sejuk.
d). Defisiensi Air
Tubuh tidak
mempunyai mekanisme untuk menyimpan air seperti halnya lemak depo dan
sejenisnya. Kehilangan air akan terjadi secara terus menerus sehingga harus
diimbangi dengan konsumsi air minum. Defisiensi air akan menyebabkan konsumsi
pakan menurun. Pada suhu 40ºC ternak menunjukan gejala stress misalnya minum,
penguapan, volume urin, dan tingkat respirasi diperbanyak. Jika tidak tersedia jumlah air minum yang cukup maka bobot badan akan
menurun drastis dan tanda-tanda dehidrasi. Karena banyak faktor yang
mempengaruhi tingkat konsumsi air minum maka disarankan untuk memberi minum
secara adlibitum (tidak terbatas) kepada ternak.
c. Bahan Makanan
Bahan pakan yang digunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan,
sisa proses produksi, hewan dan bahan pakan non konvensional.
1). Tumbuh- tumbuhan
Bahan pakan dari tumbuh-tumbuhan terdiri dari jagung
kuning. Jagung putih, kedelai, rumput muda, daun turi muda, dan ubi kayu. Dalam
penggunaan bahan pakan diusahakan tidak berkompetisi dengan konsumsi manusia. Misal : beras tidak digunakan untuk pakan ternak karena dikonsumsi oleh
manusia.
2). Sisa Proses
Produksi
Sisa proses produksi hasil pertanian juga bisa digunakan
untuk bahan pakan. Bahan tersebut terdiri dari dedak, bungkil kelapa, bekatul,
bungkil sawit, ampas tahu, bungkil kedelai dll.
3). Berasal Dari Hewan
Bahan pakan dari hewan teridiri dari tepung ikan, tepung
darah, tepung daging-tulang, tepung tulang, tepung bulu, sisa rumah potong,
tepung kerang, dll.
d.
Bahan Pakan Non Konvensional
Bahan pakan non konvensional terdiri dari feed aditivie dan feed suplemen. Kedua bahan
tersebut merupakan bahan pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
ternak. Feed aditive merupakan bahan
pakan tambahan yang tidak berkaitan langsung dengan nutrisi pakan, misalnya
hormon, antibiotik dll. Feed suplement merupakan bahan tambahan yang berkaitan
langsung dengan nutrisi pakan, misal asam amino, mineral dll.
1). Beberapa feed additve yang diberikan antara lain :
a). Flavoring agent, pemberi bau untuk meningkatkan
palatabilitas pakan contoh cairan sukrosa, tetes
b). Enzim merupakan
katalisator yang berperan mempercepat suatu reaksi kimiawi. Enzim phytase mulai
banyak digunakan peternak yang berperan memecah ikatan phytate pada bahan
ransum nabati, seperti jagung sehingga ketersediaan fosfor bisa meningkat.
Kerja enzim ini akan optimal apabila jenis enzim sesuai dengan substratnya,
kondisi lingkungan dan kesesuaian dosisnya. Enzim untuk memperbaiki daya cerna
c). Antibiotik,
Penambahan zat perangsang tumbuh pada pakan ayam broiler
yang dikenal dengan AGP (Antibiotic
Growth Promotor). Pada pakan ayam broiler ditambahkan antibiotik dengan
dosis dibawah pengobatan untuk memacu pertumbuhan. Antibiotik yang digunakan
antara lain Zinc
bacitrasin, flavomicin, vancomycin, virginiamicin dll
telah dilarang sejak tahin 2018. Hal ini karena penggunaan antibiotik pada pakan
akan berasosiasi dengan munculnya beberapa strain patogen resisten, di
antaranya Salmonella spp., Campylobacter spp., Escherichia coli, dan Enterococcus spp.
d). Zat pemberi pigmen
berfungsi untuk memberikan warna kuning di bagian kaki dan kulit ayam ras
pedaging, sehingga penampilan fisiknya lebih menarik. Sebagai pemberi warna
bisa digunakan beta-karoten atau apokarotenoat dalam bentuk murni (pure)
atau sediaan premix seperti beta karoten 10% dan apokarotenoat 10%. Penggunaan
zat pemberi warna sedikit sekali, sekitar 20 – 30 ppm.
e). Hormon atau zat lain
yang digunakan untuk memperbaiki proses metabolisme dari ayam. Estrogen
dipergunakan untuk memperbaiki pertumbuhan dan memperbaiki karkas ayam. Senyawa
thyroaktif (seperti casein yang mengandung iodium) kadang digunakan untuk
memperbaiki produksi telur, kualitas telur, dan mencegah degenerasi lemak
dibawah kondisi tertentu. Beberapa macam obat (termasuk hormon)
dipergunakan untuk menghentikan jatuh bulu (molting) atau untuk mempercepat
molting ayam yang sudah berproduksi lama.
f). Probiotik merupakan
bahan pakan tambahan berupa mikrobia hidup yang berperan membantu proses
pencernaan dan penyerapan zat nutrisi di saluran pencernaan. Probiotik juga berperan meningkatkan
keseimbangan mikrobia di dalam saluran pencernaan. Mikrobia yang terkandung
dalam probiotik antara lain Saccharomyces
cerevisiae yang kaya vitamin, enzim maupun nutrien lainnya
dan Aspergillus oryzae
yang memiliki enzim pencerna serat.
Sebagai ganti APG
bisa digunakan probiotik sebagai pemacu pertumbuhan broiler. Prinsip
kerja dari probiotik yaitu bakteri-bakteri probiotik (Lactobacillus dan Bifidobacterium)
bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat sehingga pH saluran pencernaan
turun, dan menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen.
Bakteri-bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat
perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan. Fungsi
lainnya yaitu menjaga keseimbangan mikroflora saluran cerna, menekan
pertumbuhan mikroba patogen dengan menghasilkan zat anti mikroba (bakteriosin),
serta meningkatkan competitive
exclusion (CE) yaitu mekanisme kompetitif antara probiotik
dengan bakteri patogen baik pada perlekatan koloni maupun menggunaan nutrien.
g). Mold inhibitor dan toxin
binder diperlukan melihat kondisi lingkungan Indonesia yang
beriklim tropis terbukti mendukung pertumbuhan jamur, terlebih lagi jika kadar
air ransum melebihi standar (> 14%). Oleh
karena itu penambahan mold inhibitor yang berperan menghambat
pertumbuhan jamur diperlukan, terutama saat musim penghujan. Asam propionat
merupakan contoh mold inhibitor yang sering digunakan. Saat
jamur telah mengkontaminasi maka bisa dipastikan bahan baku ransum telah
tercemar racun jamur. Jamur yang mencemari ransum bisa dengan mudah dimatikan
namun tidak demikian dengan racun jamur yang tidak sulit dihilangkan baik
melalui perlakuan fisik (pemanasan), kimia atau biologi. Oleh karena itu untuk
menekan atau menghilangkan pengaruh negatif dari racun jamur ini perlu
ditambahkan toxin binder (pengikat toksin). Contoh toxin
binder ialah zeolit, hydrate sodium calcium aluminosilicate (HSCAS)
atau serat dari kulit gandum
h). Koksidiostat seperti
sulfaquinoxalin, amprolium, dan oxytetrasiklin merupakan contoh zat
koksidiostat yang sering dicampurkan dalam ransum jadi. Tujuannya ialah untuk
menekan pertumbuhan koksidia yang terdapat dalam ransum. Kita hendaknya mengetahui
jenis koksidiostat yang ditambahkan dalam ransum sehingga saat ayam kita
terserang koksidiosis kita bisa memberikan obat yang sesuai, yang tidak memicu
terjadinya resistensi
i). Antioksidant
diperlukan untuk mencegah ketingikan yang ditimbulkan oleh lemak.Lemak yang
terkandung dalam ransum dapat mengalami reaksi oksidatif sehingga menimbulkan
ketengikan. Akibatnya palatabilitas ransum menurun. Selain itu reaksi oksidatif
ini juga dapat mengakibatkan kerusakan vitamin larut lemak (A, D, E dan K). Guna
mencegah ketengikan tersebut bisa ditambahkan antioksidan, seperti butylated
hydrosi toluen (BHT) atau ethoxyquin. PROTAIN OT 102 -
antioksidan,
i). Zat pewarna
Secara naluri, ternak unggas menyukai pakan berbentuk butiran dan
berwarna kuning. Karena itu beberapa pabrik pakan menambahkan pewarna ke dalam
pakan. Zat pewarna pakan berfungsi untuk meningkatkan keinginan ternak dalam
mengonsumsi pakan. Pewarna pakan ini bisa diperoleh di toko-toko kimia.
Penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pewarna sintesis yang diperbolehkan, namun
dibatasi penggunaannya, antara lain tartrazin, kuning kuinolin, kuning FCF,
karmoisin, ponceau, eritrosin, merah allura, indigotin, biru berlian FCF, hijau
FCF, dan cokelat HT.
Pemberian Feed Additive
Feed additive bukanlah zat
makanan atau makanan dasar untuk meningkatkan nutrisi hewan melainkan hanya
sebagai zat tambahan oleh karena itu perlu diperhatikan manajemen
pemberian feed additive yang benar agar hasil yang didapatkan
optimal. Pemberiaan feed additive harus memperhatikan syarat
sebagai berikut :
- Meskipun rentang
dosis pemberian feed additive relatif lebar, namun
hendaknya disesuaikan dengan dosis dan aturan pakai yang tercantum pada
produk
- Pencampuran
bahan tambahan dalam ransum hendaknya perlu dipastikan tercampur secara
homogen. Jika kita memakai mixer untuk mencampur suplemen maka
sebaiknya digunakan mixer horizontal dan suplemen
tersebut dicampur dengan sejumlah kecil ransum dulu baru setelah itu
dicampur dengan ransum dalam jumlah yang lebih banyak. Teknik pencampuran
ini juga digunakan jika kita melakukannya secara manual
b.
Macam-Macam Feed Supplement
Kandungan zat nutrisi yang sering terdapat dalam sediaan feed
supplement antara lain vitamin, mineral dan asam amino. Menurut
Misriadi (2013) Ketiga komponen nutrisi inilah yang seringkali mengalami
defisiensi, ketiga komponen tersebut antara lain:
1). Vitamin
Vitamin merupakan komponen nutrisi yang relatif labil terhadap
cahaya, kelembaban, suhu maupun suasana asam dan basa . Selain itu stabilitas
sebagian besar vitamin juga dipengaruhi oleh jangka waktu penyimpanan ransum.
Ketidakstabilan vitamin dan fungsi penting dari masing-masing vitamin inilah
yang mendasari perlu dilakukannya suplementasi vitamin dalam pakan ternak..
Vitamin-vitamin yang paling sering ditambahkan dalam pakan ternak
antara lain vitamin A, B12, D3, K, riboflavin, asam pantotenat, kholin dan
niasin. Vitamin C juga
sering ditambahkan dalam ransum atau air minum. Sebagai
sumber vitamin A dapat digunakan Vit. A palmitat, Vit. A acetat dan
minyak ikan. Sumber vitamin D2 digunakan
Vit. D pada semua tanaman yaitu hasil aktivasi sterol dalam tanaman oleh sinar
ultraviolet. Sumber vitamin D3 digunakan
Vit. D pada hewan yang merupakan hasil aktivasi sterol pada hewan oleh sinar
ultraviolet misalnya minyak ikan. Sumber vitamin E digunakan senyawa
vit. E aktif, misalnya dl alpha tokoferil asetat. Sumber vitamin K
dapat menggunakan MCBC (Manadione Sodium
Bisulfide Complex), dan MPB (Menadione
dimethylpyridinol sodium bisulfite).
Pemberian vitamin juga perlu diperhatikan, mengingat peranan
vitamin yang sangat penting. Kelebihan kadar vitamin tidak akan memberikan
pengaruh yang besar terhadap produktivitas ternak. Alasannya rentang dosis
vitamin relatif besar dan kelebihan vitamin akan dibuang oleh tubuh. Hanya saja
untuk vitamin larut lemak (A, D, E dan K) rentang pemberian yang terlalu lebar
(berlebih) dan dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu kerja hati karena
vitamin ini disimpan di dalam hati. Selain itu kelebihan vitamin D juga dapat
mengakibatkan gangguan deposisi kalsiumpada
tulang.
2). Mineral
Mineral ialah suatu senyawa an-organik terkecil yang menyusun
tubuh makhluk hidup termasuk hewan. Ketersediaannya harus disuplai dari luar,
misalnya melalui pakan karena tubuh hewan tidak bisa memproduksinya. Dalam
perkembangannya, ketersediaan mineral dapat berupa mineral organik, yaitu
mineral yang digabungkan dengan senyawa organik seperti asam amino, asam organikatau
polisakarida. Contoh sediaan mineral organik ini antara lain metal
specific amino acids complex, metal amino acid complex, metal
organic acid dan metal polysaccharide. Selain metal
(besi, red) mineral yang telah tersedia dalam bentuk organik antara
lain zinc, ma-ngan dll.
Ternak seperti ayam membutuhkan dua macam mineral yaitu makro dan
mikro mineral. Kalsium, fosfor, kalium,
natrium, klor, sulfur dan magnesium termasuk
kelompok makro mineral, sedang mineral yang lainnya, seperti besi, seng, mangan
dll tergolong sebagai mineral mikro. Kalsium dan fosfor merupakan mineral yang
memerlukan suplai pa-ling besar dibandingkan mineral lainnya. Sumber mineral dapat
ditemukan pada Tepung tulang, Tepung kerang (CaCo3) , Garam (NaCl).
3). Asam amino
Asam amino adalah monomer dari protein.
Sebagai bahan pakan tunggal asam amino tidak tersedia di alam, namun tersedia
secara buatan. Metionin, lisin, treonin dan tripthopan merupakan beberapa asam
amino yang sering diberikan suplementasi. Keempat asam amino tersebut termasuk
asam amino essensial, yaitu asam amino yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh
hewan sehingga harus disuplai melalui pakan. Selain keempat asam amino itu yang
termasuk asam amino essensial antara lain arginin, histidin, isoleusin, leusin,
valin dan penilalanin. Keenam asam amino ini relatif bisa terpenuhi dari pakan
yang diberikan.
Pakan pada hewan misalnya ayam sebagian besar tersusun atas bahan
baku ransum berupa biji-bijian, seperti jagung dan bungkil kedelai yang
notabene kadar asam aminonya kurang ideal, terutama metionin. Hal inilah yang
mendasari diperlukannya suplementasi asam amino. Oleh karena itu, di pasaran
sudah tersedia asam amino seperti DL- metionin dan L-lisin yang mempunyai
kemurnian 99%.
4). Minyak Ikan
Disupermarket kita dapat membeli telur dengan kandungan omega3 lebih
tinggi dari standar. Hal tersebut diperoleh dengan menambahkan minyak ikan pada
pakan ayam petelur.
Pemberian Feed
Supplement
Pemberian feed suplement intinya sama dengan dengan
feed additive karena keduanya bukan merupakan pakan dasar melainkan hanya pakan
tambahan. Pemberiannya harus selalu memperhatikan dosis yang sesuai, serta
proses pencampuran yang tepat selain itu manajemen pemberian juga selalu
diperhatikan agar tidak terjadi pemberian yang berlebihan kepada ternak.
2. Kebutuhan Dan
Keseimbangan Zat Makanan Ditentukan
a.
Kebutuhan Nutrisi Pakan
Kebutuhan nutrisi ternak unggas tersedia dalam berbagai
versi. Misal ada versi SNI (standar nasional Indonesia), versi NRC (National Research Council), versi manual
yang dikeluarkan oleh produsen kuri (DOC) dan versi dari pabrikan pembuat pakan
ayam. Masing-masing versi punya kelebihan dan kekurangan. Jika kita ingin
menyusun pakan sendiri bisa mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1). NRC
NRC merupakan kompilasi internasional yang banyak dipakai di
seluruh dunia. Standar ini bisanya sedikit dimodifikasi disesuaikan dengan
iklim di masing-masing negara.
2). Standar Produsen Kuri
Standar ini banyak digunakan didaerah tropis, negasa asal
produsen kuri, jika digunakan akan banyak memodifikasi kebutuhan nutrisinya.
Jika digunakan di indonesia kurang pas, harus dimodifikasi lagi.
Contoh Kebutuhan Nutrisi ayam petelur:
Sumber: Lohman Brown 2014
3). SNI
Standar SNI harusnya paling pas dengan kondisi indonesia.
Namun sayang SNI sering ketinggalan jaman. Kebutuhan nutrisi dari waktu-ke
waktu berkembang terus. Misal kebutuhan protein fase layer dulu sekitar 16%, seakarang sekitar 18 sd 20%.
4). Pabrik Pakan
Standar kebutuhan nutrisi pabrik pakan sudah melalui tahap
uji di farm perusahaan pakan. Pada kemaan pakan tertera label kertas yang
berisi bahan baku dan komposisi nutrisi pakan. Tabel tersebut dapat dijadikan
referensi dalam menentukan kebutuhan nutrisi pakan. Namun untuk mengetahui
kebenaran kandungan nutrisi pakan ada baiknya di uji ulang ke laboratorium
untuk mengecek kebenaran kandungan nutrisinya.
Tablel 4. Contoh Nutrisi yang Dibutuhkan Ayam Petelur
|
No |
Nutrisi |
0-5 minggu starter |
5-10 minggu Grower |
10-16 minggu pullet |
16 mg - bertelur 2% (pre layer) |
17-28 mg |
28-60 mg |
|
1 |
Energi Kkal/kg |
2.950 |
2.850 |
2.750 |
2750 |
2750 |
2750 |
|
2 |
Protein kasar(%) |
20,50 |
20,00 |
16,80 |
17,50 |
17.7 |
16,3 |
|
|
Lysine (%) |
1,16 |
1,03 |
0,78 |
0,87 |
0,82 |
0,75 |
|
|
Methionine (%) |
0,52 |
0,47 |
0,35 |
0,38 |
0,41 |
0,38 |
|
|
M+C (%) |
0,86 |
0,80 |
0,63 |
0,68 |
0,70 |
0,64 |
|
3 |
Lemak (%) |
3,00 |
3,00 |
3,00 |
3,00 |
3,00 |
3,00 |
|
4 |
Mineral makro |
|
|
|
|
|
|
|
|
Ca (%) |
1,05 |
1,00 |
1,00 |
2-2,1 |
3,65-4,2 |
4 - 4,2 |
|
|
P (%) |
0,15 |
0,16 |
0,16 |
0,16 |
0,4 |
0,38 |
|
5 |
Serat kasar (%) |
5,00 |
6,00 |
8,00 |
8,00 |
8,00 |
8,00 |
Sumber: NRC 1994, dan Panduan Manajemen HylineBrown
2018
untuk menghindari menurunnya konsumsi pakan,
ditambahkan kalsium 50% granular pada pakan pada fase pullet dan prelayer.
Tabel 5. Contoh Nutrisi Yang Dibutuhkan Ayam Broiler Komersial Dan
NRC
|
No |
Nutrisi |
Merek
A 0-4 minggu |
Merek
B 0-4
minggu |
0-24
hari (starter) |
24
hari-dijual (finisher) |
|
|
Energi Kkal/kg |
3.086 |
3,100 |
3.200 |
3.200 |
|
|
Protein (%) |
22,00 |
21-23 |
23-24 |
20-21 |
|
|
Lysine (%) |
1,1 |
1,10 |
1,25 |
1,00 |
|
|
Methionine (%) |
0,43 |
0,43 |
0,28 |
0,23 |
|
|
M+C (%) |
0,97 |
0,97 |
0,92 |
0,80 |
|
|
Lemak (%) |
5,00 |
2,5-7 |
9,00 |
10,0 |
|
|
Mineral makro |
|
|
|
|
|
|
Ca (%) |
0,9-1,10 |
0,9-1,2 |
1,00 |
1,00 |
|
|
P (%) |
0,7-0,90 |
0,7-1,2 |
0,80 |
0,70 |
|
|
Serat kasar (%) |
4,00 |
5,00 |
5,00 |
5,00 |
|
|
Kadar air (%) |
12,00 |
13,00 |
12 |
12 |
|
|
Salinomycin (ppm) |
40-60 |
Monensim |
|
|
|
|
Virginiamycin (ppm) |
2,5-5 |
Zink bacitracin |
|
|
|
|
Colistin (ppm) |
2-20 |
|
|
|
|
|
Kadar abu (%) |
6,50 |
5,00-8,00 |
|
|
Sumber : NRC 1994, Label Pakan Komersial 2019.
Keterangan tabel: salinomicin sebagai cocidostat, virginamicin, colistin, avilamicin zink bacitracin sebagai growth promotor, monensim sebagai cocidiostat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar