Minggu, 11 Juni 2023

Materi Pakan Ternak Unggas : MENETAPKAN BAHAN PAKAN YANG DIPAKAI

 

MENETAPKAN BAHAN PAKAN YANG DIPAKAI

 

A.   Pengetahuan Yang Dibutuhkan

 

1.     Bahan Pakan Yang  Tersedia  Dilapang  Dan Ketersediaannya Kontinyu Digunakan

 

Pakan diperlukan oleh unggas untuk pertumbuhan dan perkembangan selama hidupnya. Kesalahan dalam pemberian pakan, dapat menyebabkan unggas dapat mengalami penurunan produksi, daya tahan dan kekebalan tubuh, sehingga unggas mudah menderita berbagai macam gangguan penyakit. Unggas yang terganggu kesehatannya, tentu saja tidak akan memberikan hasil yang optimal. Bahkan lebih jauhnya bisa mengakibatkan kematian. Pada dasarnya, zat-zat makanan yang mutlak dibutuhkan oleh unggas untuk tumbuh dan berkembang adalah air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.  

Klasifikasi bahan pakan yang uatama sebagai sumber protein dan sumber energi. Misal kita menyusun pakan broiler dengan kandungan protein 22% dan energi 3200 kkal/kg, maka bahan pakan yang kandungan protein >22% dikategorikan sebagai sumber protein dan yang engandung energi >3200 kkal/kg sebagai sumber energi. Misal sumber protein bungkil kedelai, sember energi jagung kuning.

Dalam menyusun pakan unggas maka diperlukan data: kandungan air bahan pakan (% bahan kering), protein kasar (%), energi metabolisme-ME (Kkalori/kg),  asam amino metionin dan lisine (%),  serat kasar (%),  lemak (%), mineral  Calsium dan Phospor (%) dan batas aman penggunaan. Batas aman penggunaan ditentukan oleh sifat dari bahan tersebut dan harga bahan baku pakan. 

 

Beberapa sifat bahan baku:

·         Penggunaan tepung darah maksimal 2%, jika berlebih menyebabkan ayam kanibal.

·         Minyak sawit dibatasi karena menyebabkan mudah rancid (tengik) dan energi terlalu tinggi,

·         Beberapa bahan baku dibatas karena harganya mahal misal tepung ikan, yang akan menyebabkan harga pakan mahal.

·         SBM (Soy bean meal) : mengandung protease inhibitor, allergens, oligosaccharides, phytin, lipoxygenase, lectin, saponin

·         Fish meal : mengandung oxidized fat, high mineral, biogenic amines

·         Bungkil kopra : mengandung fiber, mannans

·         Corn Gluten Meal (CGM) : mengandung mycotoxins (high xanthophyll);

·         Palm Kernel Meal : mengandung serat and cangkang keras (sharp shell), galactomannans.

 

a.    Mengidentifikasi Bahan  Baku Pakan

Bahan pakan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu: sebagai sumber protein, sumber energi, mineral dan vitamin. Pengelompokan tersebut digunakan untuk menyusun ransum dengan harga termurah (Least cost formula). Faktor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan pakan adalah kandungan nutrisi bahan, tingkat kecernaan, ketersediaan, kontinuitas dan harga.

Dalam budidaya  ternak unggas, baik itu ayam pedaging mapun ayam petelur  pakan mempunyai peranan yang sangat penting.  Keberhasilan usaha peternakan unggas sangat ditentukan oleh kualitas pakan yang diberikan

Didalam proses budidaya unggas khususnya ayam biaya produksi terbesar dikeluarkan untuk pakan, besarnya sekitar 75% - 80% dari total biaya produksi.  Hal ini berarti bahwa biaya produksi akan dapat di tekan apabila bisa menekan biaya pakan.

1). Persyaratan Bahan Baku

Bahan  pakan unggas harus memenuhi persyaratan–persyaratan tertentu  diantaranya:

·            Bahan pakan ternak yang dipergunakan tidak boleh bersaing dengan bahan untuk makanan manusia. Apabila manusia banyak membutuhkannya, maka bahan pakan tersebut jangan diberikan pada unggas

·            Bahan pakan yang dipergunakan untuk pakan ternak unggas harus tersedia dalam waktu yang lama atau ketersediaan sepanjang waktu bahan pakan tersebut diperlukan.    Bahan pakan yang ketersediaanya  pada suatu saat ada dan kemudian hilang atau tidak ada, harus dihindari.

·            Bahan pakan yang dipergunakan untuk pakan ternak unggas setiap  tahun bahkan setiap bulan selalu di produksi, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pakan tersebut secara  kontinyu .

·            Harga bahan pakan, harus dinilai dari segi manfaat bahan pakan tersebut,  sehingga dapat mencerminkan kualitas pakan yang telah disusun.

·            Kualitas gizi bahan pakan, untuk pakan ternak unggas, batasan kualitas adalah kandungan serat kasar dari bahan pakan tersebut. Semakin tinggi kandungan serat kasar bahan pakan, maka akan semakin kurang berperan bahan pakan tersebut bagi unggas. 

 

Kelengkapan asam amino, vitamin, mineral dan energi yang dikandung memegang peranan apakah bahan pakan tersebut berperan atau tidak.  Bahan pakan yang mudah membentuk racun atau mudah tercemar, harus disingkirkan dari campuran bahan pakan unggas.

 

Pakan unggas harus memenuhi segala kebutuhan nutrisi bagi unggas.  Unggas yang dipelihara secara intensif mulai dari DOC sampai akhir selalu berada di dalam kandang. Oleh karena itu segala kebutuhan nutrisi unggas harus terpenuhi dalam pakan yang diberikan. Dalam menyiapkan pakan tidak hanya mencapur bahan pakan tetapi harus juga diketahui karakteristik unggas, serta di pahami betul bahan pakan yang digunakan.

 

Produksi pakan unggas meliputi penyediaan bahan pakan sesuai syarat teknis pakan serta syarat bahan.   Inti dari produksi pakan ternak adalah pengaturan dan pemilihan bahan pakan. Ketersediaan bahan pakan merupakan faktor penentu dalam kelangsungan usaha pakan unggas.  Oleh karena itu dalam produksi pakan yang harus diperhatikan adalah pengetahuan tentang seluk beluk bahan pakan sampai rantai distribusi pengadaan bahan pakan tersebut.

2). Sumber Bahan Pakan

a). Bahan Pakan Hewani

 

Bahan pakan hewani adalah bahan baku pakan yang berasal dari bagian-bagian tubuh hewan.  Bahan pakan hewani ini merupakan sumber protein.  Bahan pakan asal hewan sudah sejak zaman Belanda sudah diperkenalkan kepada para peternak. Bahan pakan hewani merupakan inti kesempurnaan nutrisi rangsum unggas, karena kandungan asam aminonya seimbang dan sempurna.

 

Beberapa bahan pakan asal hewan yang sering digunakan untuk unggas adalah tepung ikan, tepung daging tulang, tepung kerang dan tepung sisa rumah potong, lemak atau minyak hewan.

 

(1). Tepung Ikan

 

Tepung ikan merupakan sumber utama asam amino dalam ransum. Hal ini karena dalam tepung ikan terdapat asam amino yang berkualitas dan seimbang.  Hal yang menjadi kendala dalam pemakaian tepung ikan adalah pengaruh baunya pada produk unggas, baik daging maupun telurnya.  

 

Tepung ikan berasal dari sisa-sisa pengolahan industri makanan ikan, secara umum tepung ikan mengandung protein kasar antara 60% - 70% dan mengandung lysin dan methionin, asam amino selalu kurang dalam bahan asal nabati.

 

Selain protein dan asam amino, tepung ikan juga merupakan sumber kalsium dan phosphor.  Kedua mineral ini merupakan mineral makro yang diperlukan unggas untuk tumbuh dan bertelur.

 

(2). Limbah Industri Udang

 

Mutu tepung udang tergantung pada proses pengolahannya.  Pengeringan dan bagian tubuh yang akan diproses sangat menentukan kualitas tepung udang.  Tepung udang mengandung antara 35%-45% protein kasar.  Penggunaan dalam ransum unggas dilakukan sebagai pendamping atau dikombinasikan dengan tepung ikan atau bahan sumber nabati.  Pada unggas petelur pemberian tepung udang maksimal 7%, sedangkan untuk ayam pedaging antara 8% sampai 14%.

 

(3). Tepung Bulu.

 

Bulu ayam sebagai hasil sampingan pemotongan ayam potong dapat di olah menjadi tepung bulu.  Tepung bulu ini berasal dari bulu yang dikeringkan dan kemudian digiling.  Protein kasar dalam tepung bulu berkisar antara 82%-91%.  Dari kandungan yang begitu tinggi hanya sebagian kecil saja yang dapat di manfaatkan unggas.

 

Tepung bulu mempunyai energi metabolik (ME) sebesar 2354 kalori /kg .  35% asam amino dalam tepung bulu tidak bisa dimanfaatkan oleh unggas dan dikeluarkan lagi.

 

(4). Lemak Hewan

 

Untuk mencapai energi metabolis yang dikehendaki pakan unggas sering di tambah dengan lemak selain itu bisa pula berasal dari minyak kelapa.  Lemak hewan yang akan digunakan sebaiknya dibeli dalam jumlah yang diperlukan saja, bila perlu disimpan hendaknya dalam bentuk minyak.

 

Cara penggunaannya adalah dengan mencampurkan lemak atau minyak dengan bahan terkecil dalam formula dan aduk hingga rata.  Lemak dapat juga digunakan sebagai bahan appetizer, karena lemak hewan/lemak nabati merupakan makanan yang di gemari unggas.

 

(5). Tepung Darah

 

Darah merupakan limbah rumah potong hewan. Kualitas tepung darah untuk pakan unggas dari segi kesehatan tergantung pada bagaimana bahan  itu diperoleh dari rumah potong.  Bila penampungan darah bercampur dengan kotoran, maka bahan tersebut tidak layak di untuk digunakan sebagai bahan pakan unggas dan sebaliknya bila berasal dari tempat yang bersih maka bahan tersebut memenuhi syarat sebagai bahan pakan unggas.

 

Tepung darah mengandung 80% protein kasar, tetapi kurang akan asam amino isoleusin, rendah kalsium dan phosphor.  Tepung darah mengandung 1,6% lemak dan 1% serat kasar.  Tepung darah tidak dapat sepenuhnya dapat digunakan oleh unggas, hanya 60% asam amino yang dapat digunakan.  Tepung darah dalam ransum maksimum 2%.

(6). Tepung daging Tulang (Meat bone meal)

Meat Bone Meal (MBM) atau tepung daging dan tulang adalah produk olahan pakan ternak, dengan komposisi sekitar 50% protein, 35% abu, 8 – 12 % lemak, dengan kelembaban 4 – 7 %. Pengolahan ini, dilakukan untuk meningkatkan stabilitas dan nilai kandungan bahan pakan, yang diambil dari limbah jaringan tubuh ruminansia. Profil utama dari Meat Bone Meal adalah tingkat asam amino yang lebih tinggi sebagai pakan ternak.

Meskipun diperoleh dengan daur ulang dan dihaluskan dari limbah ruminansia, Meat and Bone Meal tidak diolah dari tanduk, rambut, kulit, kotoran, dan isi perut. Kandungan kalsium dari Meat and Bone Meal tidak boleh melebihi 2,2 kali lipat dari kandungan fosfornya. Kandungan kalsium dalam Meat and Bone Meal yang lebih tinggi menunjukkan bahwa ada tambahan bahan lain yang ditambahkan ketika proses pengolahan Meat and Bone Meal selain dari tulang, untuk menambahkan kalsiumnya.

(7). Tepung Kerang

Tepung Kulit Kerang laut ; adalah olahan kulit kerang ijoan dan kerang bukur / cangkang kerang laut yang dihaluskan.Kandungan kalsium pada tepung cangkang kerang sangat tinggi dan cocok untuk salah satu campuran pakan ternak unggas petelur.  Membentuk dan menguatkan pertumbuhan tulang pada hewan ternak, sebagai bahan pembantu pengolahan makanan dan bahan penguat telur itik agar menghasilkan kualitas telur yang maksimal. Kandungan yang terdapat dalam tepung cangkang kerang bukan hanya kalsium, tetapi vitamin, protein dan mineral-mineral lain yang dibutuhkan oleh hewan ternak. Oleh karena itu tepung cangkang kerang laut sangat baik digunakan untuk campuran dan tambahan pakan ternak, mengalahkan bahan-bahan kalsium lainnya seperti tepung batu, dll.

 

 

 

b). Bahan Pakan Nabati.

 

Bahan pakan asal tumbuhan untuk unggas dibagi atas bahan makanan yang biasa digunakan (jagung, dedak, bungkil kacang kedelai, bungkil kelapa, minyak nabati ) dan bahan makanan yang tidak lazim digunakan (bungkil kacang tanah, ubi kayu dan lain-lain).  Bahan pakan nabati merupakan bahan pakan asal biji-bijian yang menjadi sumber energi bagi ternak.  Bahan pakan nabati kandungan serat kasarnya cukup tinggi.  Berikut adalah beberapa bahan pakan asal nabati :

 

(1). Jagung Kuning.

 

Jagung kuning tidak dapat dijadikan bahan pakan sumber protein bagi unggas, karena kandungan protein yang agak rendah dan defisiensi asam amino. Kandungan protein dan asam amino yang rendah sangat terkait dengan varietas dan faktor lingkungannya.  Kandungan asam amino jagung belum mencukupi kebutuhan untuk unggas sehingga penggunaan jagung kuning yang berlebihan untuk menyebabkan kebutuhan asam amino terancam.  Kelebihan jagung kuning adalah kandungan Xanthophyll yang menyebabkan warna kuning pada kaki ayam, kulit broiler dan kuning telur.

 

Bahan pakan ternak, terutama bahan pakan utama asal nabati dan hewani harus tahan lama yang berarti bahwa bila disimpan tidak berubah bentuk fisik, tetap kuning, tidak berubah kandungan nutrisinya. Sebagai contoh jamur, fusarium roseum yang dapat berkembang selama penyimpanan di gudang dapat meyebabkan kualitas telur menurun.

 

(2). Dedak Halus.

 

Dedak halus adalah bahan pakan yang paling banyak digunakan setelah jagung.  Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah dan tidak dikonsumsi oleh manusia.  Dedak mempunyai kandungan serat kasar 13%, sedangkan unggas tidak mampu mencerna serat kasar lebih dari 4%.  Hal ini merupakan pembatas nutrisi yang menyebabkan dedak halus tidak dapat digunakan secara berlebihan.

 

Kandungan nutrisi dedak adalah kandungan protein kasar 13,5% dan kandungan energi metabolis sebesar 1890 kalori/kg.  Sedangkan asam amino dedak memang lengkap, tetapi tidak memenuhi kebutuhan sehingga perannya sebagai penyedia asam amino tidak dapat diandalkan,  demikian pula vitamin dan mineral.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dedak bukan merupakan bahan pakan sumber nabati yang andal dan hanya bersifat pelengkap saja.  Dedak dewasa ini telah digantikan oleh limbah gandum yang mempunyai kualitas lebih baik daripada dedak.  Penggunaan dedak lebih di karenakan oleh ketersediaan dan harga yang murah.

 

Pemeliharaan kualitas dedak dapat dilakukan dengan memeriksa baunya, bila sudah tercium tengik atau bau tidak normal lainnya tertanda bahwa dedak tersebut sudah mulai rusak.  Kemudian warnanya, dedak yang normal berwarna coklat terang, bila sudah putih atau kehijau-hijauan tertanda dedak sudah rusak. Untuk melihat pemalsuan, dapat dilakukan dengan memasukkan sedikit dedak kedalam segelas air bening, bila banyak yang mengambang berarti dedak telah dicampur gilingan kulit padi.

 

Selain itu dapat diberikan parutan lugol 10% pada dedak yang sudah dicampur air.  Makin berwarna merah berarti kandungan Serat Kasar-nya tinggi, maksimum hanya 10% yang diterima. 

 

Terakhir untuk melihat apakah dedak tersebut banyak dicampur dengan kapur halus, maka ditambahkan larutan Hcl.  Bila banyak berbuih berarti banyak campuran kapur halusnya.

 

(3). Kacang Kedelai dan Limbahnya.

 

Syarat pakan dapat digunakan sebagai bahan pakan unggas adalah bahan-bahan pakan tersebut tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.  Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati bagi unggas. Kelemahan dari kacang kedelai adalah kesediaannya yang kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada serta adanya kandungan “anti tripsin” pada kedelai mentah.  Kacang kedelai masih digunakan oleh manusia untuk membuat tahu dan tempe sehingga limbah kacang kedelai yang banyak digunakan untuk pakan unggas, berupa bungkil kedelai sebagai pendamping tepung ikan. Bungkil kacang kedelai mengandung protein berkisar antara 42% sampai 50%, tetapi tidak ada methionin.

 

Energi metabolis bungkil kacang kedelai berkisar antara 2825 – 2890 kalori / kg.  Untuk unggas pedaging bahan ini cukup membantu sebagai sumber energi di samping jagung kuning.  Bungkil kacang kedelai mempunyai kandungan serat kasar ± 6%, kandungan kalsium dan phosphor juga lebih baik dibanding dengan biji-bijian bahan pakan unggas   lainnya.

 

(4). Bungkil Kelapa/Sawit

 

Bungkil kelapa merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati.  Kandungan protein kasar bungkil kelapa berkisar antara 20%-26%.  Hal ini yang menjadi dasar mengapa bungkil kelapa digunakan sebagai pendamping tepung ikan dan jagung kuning.

 

Kelemahan bungkil kelapa adalah kandungan minyaknya masih tinggi dan mudah menjadi tengik.  Ketengikkan ini akan mengganggu selera makan unggas dan pencernaannya.  Oleh sebab itu pabrik pakan unggas jarang menggunakan bungkil kelapa dalam komposisinya.

 

(5). Minyak Nabati.

 

Minyak nabati merupakan salah satu bahan pakan unggas yang banyak digunakan untuk unggas pedaging.  Hal ini karena unggas pedaging memerlukan energi tinggi yang biasanya hanya berasal dari minyak.  Minyak nabati yang sering digunakan untuk pakan unggas adalah minyak kelapa dan sejenisnya.  Selain itu minyak dalam pakan unggas juga akan menambah selera makan, dan sifat berdebu pada pakan “all mash”.

 

Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak yang berkualitas, artinya tidak mudah rusak dan tidak mudah tengik.  Sebagai sumber energi pendukung, minyak bukan bahan pakan utama sebagai sehingga persentase penggunaannya tidak baku bahkan boleh tidak di gunakan. Di samping kelima bahan pakan nabati di atas masih banyak bahan pakan asal nabati yang lainnya, misalnya bungkil kacang tanah, ubi kayu dan hasil olahannya, hijauan untuk unggas dan bahan makanan lainnya.

 

c). Premix Mineral

 

Premix mineral merupakan campuran antara vitmin, mineral mikro, asam amino bahkan beberapa produk menambahkan antioksidan. Jenis premix mineral bermacam-macam tergantung pabrik pembuatannya. Cara penggunaan sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrik pembuatnnya.  Sumber mineral umumnya tepung kerang, kapur, monokalsium dan dikalsium phospat.

 

3). Identifikasi Bahan Baku Pakan Konsentrat

 

Bahan pakan yang baik mempunyai tekstur, aroma dan warna yang khas untuk setiap jenis. Kita perlu mengetahui karakter masing-masing jenis bahan, agar jika membeli kita bisa memperoleh bahan pakan sesuai dengan yang dikehendaki. Identifikasi bahan baku Pakan konsentrat terdapat pada tabel 6.

 

Tabel 6. Indentifikasi Pakan Konsentrat

 

No

Bahan

 

Tekstur

Aroma

Warna

1.

Ampas Bir

Tepung halus,

Alkohol

Coklat muda

2.

Ampas Brem

Butiran

alkohol

Kekuningan

3.

Ampas Kecap

Butiran kasar

Kecap

Coklat muda

4.

Ampas Tahu

Tepung basah

kedelai

Putih

5.

Biji Kapas

butiran

Harum

hitam

6.

Bungkil Biji Kapas (Expeller)

Tepung kasar

Harum

Hitam

7.

Bungkil Kacang Tanah(Expel)

Butiran kasar

Kacang tanah

Agak putih

8.

Bungkil Kedelai 44/7

Butiran kasar

kedelai

Putih kekuningan

9.

Bungkil Kelapa

Tepung campur butiran

Wangi minyak kelapa

Coklat

10.

Bungkil Kopra

Tepung campur butiran

Wangi minyak kelapa

Coklat

11.

Dedak Gandum

Tepung

Seperti gandum

Putih kecoklatan

12.

Dedak Jagung (37% Pati)

Tepung

Jagung

Putih kecoklatan

13.

Dedak Padi 15-30% Serat

Tepung kasar

Wangi beras

Coklat muda

14.

Dedak Padi 1-9% Serat

Tepung halus

Wangi beras

Coklat muda

15.

Dedak Padi 9-15% Serat

Tepung agak kasar

Wangi beras

Coklat muda

16.

Dicalsium Pospat

Tepung

menyengat

Putih

17.

Garam Dapur

Butiran

Khas garam

putih

18.

Jagung Kuning

Butiran

Harum jagung

Kuning

19.

Kapur

Tepung berdebu

Aroma Kerang

Putih

20.

Kedelai BS

Butiran

Kurang segar

Coklat kehitaman

21.

Kedelai Sangrai

Butiran

harum kedelai

Coklat muda

22.

Kulit Coklat

Potongan kulit

Harum coklat

Kecoklatan

23.

Kulit Kacang Tanah

Potongan kulit

Harum kacang

Coklat muda

24.

Kulit Kedelai

Potongan kulit

Harum kedelai

Kecoklatan

25.

Kulit Kopi

Potongan kulit

Harum kopi

Kehitaman

26.

Lemak Ternak

Padat

Seperti daging

Putih

27.

Lumpur Sawit

Cair

Harum sawit

Kecoklatan

28.

Mineral Sapi

Tepung

Bau kerang

Putih kecoklatan

29.

Minyak Sawit

cair

Harum sawit

kuning

30.

Monokalsium Pospat

Tepung

Bau agak menyengat

Putih

31.

Onggok

Butiran kasar

Apek

Putih abu-abu

32.

Palm Kernel Meal (Expeller)

Tepung berminyak

Harum sawit

coklat

33.

Palm Kernel Meal (Solvant)

Tepung

Harum sawit

Coklat

34.

Premix Mineral

Tepung

Bau kerang

Abu-abu

35.

Serat Sawit Fermentasi

Serat butiran

Harum sawit

Coklat

36.

Singkong kering

Batangan atau potongan

Apek

Putih pucat

37.

Tepung Bunga Matahari (Exp)

Tepung

Harum

Kecoklatan

38.

Tepung Kerang

Tepung berdebu

Bau laut

Putih pucat

39.

Tepung Tulang

Tepung berdebu

Bau daging

Putih pucat

40.

Tetes Tebu

Cair kental

Tebu atau gula

Kecoklatan

41.

Ubi Jalar

Potongan

Apek

Putih kekuningan

42.

Urea

Butiran

Amoniak

Putih

 

Limbah tersebut dapat diperoleh dari pengolahan hasil pertanian, misalnya tetes hasil limbah pabrik gula, dedak limbah pengolahan padi dll. Bahan baku lokal dapat diperoleh dengan membeli ke sentra-sentra penghasil bahan tersebut. Misalnya untuk bahan onggok, dapat dibeli di Lampung. Tetes dapat dibeli dari pabrik gula di Lampung, Cirebon, Klaten, Yogya dll. Beberapa bahan seperti bungkil kedelai, bungkil atau biji kapas, pollard, dll masih di impor dari luar negeri. Kita dapat mengimpor bahan pakan dan menjualnya kembali ke pasar lokal. Pemasaran bahan pakan dapat dilakukan dengan penjualan langsung ke peternak atau perusahaan peternakan, bisa juga melalui pengecer bahan pakan seperti poultry shop dan koperasi.

2. Kondisi Dan Kualitas Bahan Pakan Diketahui

Kualitas bahan pakan ditentukan oleh kandungan nutrisi, ada tidaknya kontaminan. Kandungan nutrisi meliputi kadar energi, protein, air (berat kering), mineral, serat kasar, mineral (Terutama Ca dan P), lemak. Protein terdiri dari protein kasar (PK) yaitu diukur dari jumlah N yang ada dalam bahan pakan. Asam amino yang dibutuhkan atau yang perlu diseimbangkan adalah asam amino lisine dan methionin, karena kedua asam amino tsb paling sedikit keberadaannya dalam bahan pakan. Untuk mengetahui kondisi dan kualitas bahan pakan dapat dilakukan uji fisik dengan uji organoleptik:

  1. Karakteristik bahan baku

Setiap bahan baku mempunyai karakteristik tersendiri yaitu: bentuk, tekstur, warna, aroma. Penyimpangan karakteristik masing-masing bahan menyebabkan menurunnya kualitas bahan pakan tersebut

  1. Kontaminan

Kontaminan adalah bahan yang tidak dikehendaki yang tercampur dengan bahan pakan, misal batu, kotoran lainnya. Semakin banyak kontaminan maka akan semakin menurunkan mutu bahan pakan.

  1. Kondisi Bahan Baku

kondisi yang dimaksud adalah apakah ada jamur, penggumpalan, kutu. Adanya kondisi tersebut akan menurunkan kualitas bahan baku. Adanya kutu mengindikasi bahwa bahan sudah disimpan lama. Adanya jamur atau gumpalan menunjukkan bahan terkena air.

 

3. Ada Tidaknya Zat Anti Nutrisi Diidentifikasi

Anti nutrisi  dapat diartikan sebagai senyawa bersifat racun yang dapat menghambat proses pemasukan dan pengolahan zat makanan yang ada di dalam tubuh. Antinutrisi tidak memberikan pengaruh keracunan tersebut secara langsung melainkan dengan cara mengakibatkan defisiensi zat makanan atau dengan cara mengganggu fungsi dan pemanfaatan zat makanan di dalam tubuh. Bebrapa anti nutrisi antara lain:

a.   Phytat

Phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding tanaman seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa pengikat mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk phytat komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Mineral tersebut yaitu Ca, Zn, Cu, Mg dan Fe.

Pada sebagian besar cereal, 60-70 % phosphor terdapat sebagai asam phytat, kecernaan molekul phytat sangat bervariasi dari 0-50 % tergantung bahan pakan dan umur unggas. Unggas muda lebih rendah kemampuan mencerna phytat, tetapi pada unggas dewasa 50%. Kecernaan phytat terjadi karena adanya phytase tanaman atau sintetis phytase dari mikroba usus. Perlakuan panas pada ransum seperti pelleting atau ekstrusi tidak terlihat memperbaiki kecernaan pospor-phytat.

Cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu :

·      Penambahan phytase: kelemahan dari penambahan phytase ke dalam ransum akan menambah biaya ransum dan phytase mudah rusak selama proses pelleting. Sebagian besar phytase didenaturasi pada suhu 65°C. Sebaiknya enzym phytase ditambahkan setelah proses pengolahan.

·            Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium pospat.

Sebagian besar biji bijian/cereal dan suplemen protein nabati relatif rendah kandungan phytase kecuali dedak gandum, sedangkan biji yang mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi.

b. Tannin

Tannin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air. Dengan berat molekul antara 500-3000 dapat mengendapkan protein dari larutan. Secara kimia tannin sangat komplek dan biasanya dibagi kedalam dua grup, yaitu hydrolizable tannin dan condensed tannin. Hydrolizable tannin mudah dihidrolisa secara kimia atau oleh enzim dan terdapat di beberapa legume tropika seperti Acacia Spp.

Condensed tannin atau tannin terkondensasi paling banyak menyebar di tanaman dan dianggap sebagai tannin tanaman. Sebagian besar biji legume mengandung tannin terkondensasi terutama pada testanya. Warna testa makin gelap menandakan kandungan tannin makain tinggi.

Beberapa bahan pakan yang digunakan dalam ransum unggas mengandung sejumlah condensed tannin seperti biji sorgum, millet, rapeseed , fava bean dan beberap biji yang mengandung minyak. Bungkil biji kapas mengandung tannin terkondensasi 1,6 % BK sedangkan barley, triticale dan bungkil kedelai mengandung tannin 0,1 % BK. Diantara bahan pakan unggas yang paling tinggi kandungan tannin terlihat pada biji sorgum (Sorghum bicolor).

Kandungan tannin pada varietas sorgum tannin tinggi sebesar 2,7 dan 10,2 % catechin equivalent. Dari 24 varietas sorgum kandungan tannin berkisar dari 0,05-3,67 % (catechin equivalent). Kandungan tannin sorgum sering dihubungkan dengan warna kulit luar yang gelap. Peranan tannin pada tanaman yaitu untuk melindungi biji dari predator burung, melindungi perkecambahan setelah panen, melindungi dari jamur dan cuaca.

Sorgum bertannin tinggi bila digunakan pada ternak akan memperlihatkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan menurunkan efisiensi ransum pada broiler, menurunkan produksi telur pada layer dan meningkatnya kejadian leg abnormalitas.

Cara mengatasi pengaruh dari tannin dalam ransum yaitu dengan mensuplementasi DL-metionin dan suplementasi agen pengikat tannin, yaitu gelatin, polyvinylpyrrolidone (PVP) dan polyethyleneglycol yang mempunyai kemampuan mengikat dan merusak tannin. Selain itu kandungan tannin pada bahan pakan dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti perendaman, perebusan, fermentasi, dan penyosohan kulit luar biji.

c. Gossypol

Penggunaan bungkil biji kapuk (Cottonseed meal) pada hewan monogastrik dibatasi oleh kandungan serat kasar dan senyawa toksik yaitu tannin dan gossypol yaitu pigmen polyphenolic kuning. Konsentrasi gossypol dalam biji bervariasi diantara spesies kapuk dan antara cultivarnya berkisar 0,3 dan 3,4 %. Gossypol ditemukan dalam bentuk bebas, bentuk beracun dan bentuk ikatan yang tidak toksik. Metode pengolahan biji kapuk menentukan kandungan gosipol bebas.

Kandungan gossipol bebas pada pengolahan menggunakan ekstrak pelarut berkisar antara 0,1-0,5 % tetapi untuk proses expeller kandungan gossypol bebas kira-kira 0,05 %. Seluruh biji mempunyai gossypol bentuk bebas. Broiler bisa toleran sampai level gosipol bebas 100 ppm tanpa terlihat pengaruh merugikan pada performan.

Ransum layer mengandung < 50 ppm gossypol mencegah terjadinya green discoloration pada kuning telur khususnya setelah penyimpanan serta dapat menurunkan daya tetas dari telur fertile. Penambahan garam besi (ferric sulphat) pada ransum yang biji kapuk dapat merusak gossypol yaitu dengan mengikat grup reaktif gossipol dengan (Fe), dan kandungan protein ransum yang tinggi juga dapat mencegah pengaruh merugikan dari gossypol.

d. Saponin

Sebagian besar saponin ditemukan pada biji-bijian dan tanaman makanan ternak seperti alfalfa, bunga matahari, kedelai, kacang tanah . Saponin umumnya mempunyai karakteristik yaitu rasa pahit, sifat iritasi mucosal, sifat penyabunan, dan sifat hemolitik dan sifat membentuk komplek dengan asam empedu dan kolesterol.

Saponin mempunyai efek menurunkan konsumsi ransum karena rasa pahit dan terjadinya iritasi pada oral mucosa dan saluran pencernaan. Pada anak ayam yang diberi 0,9 % triterpenoid saponin bisa menurunkan konsumsi ransum, menurunkan pertambahan berat badan, menurunkan kecernaan lemak, meningkatkan ekskresi cholesterol dan menurunkan absorpsi vitamin A dan D.

e. Mimosin

Tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) kering sama dengan tepung biji kapuk sebagai sumber protein. Penggunaan lamtoro bisa menekan pertumbuhan broiler dan produksi telur pada layer. Nilai nutrisi yang rendah dari lamtoro karena adanya mimosin. Lamtoro mengandung mimosin sebesar 3-5 % BK, tetapi juga mengandung senyawa antinutrisi lain termasuk protease inhibitor, tannin dan galactomannan.

Karena adanya mimosin ini penggunaan lamtoro dalam ransum non ruminansia sebesar 5-10 % tanpa menimbulkan gejala toxicosis. Efek yang merugikan dari mimosin, yaitu menurunkan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur. Ayam muda lebih sensitif dari pada ayam dewasa.

f. Protease Inhibitor

Protease inhibitor adalah senyawa yang bisa menghambat trypsin dan chymotripsin dan umumnya pada tanaman mengandung konsentrasi yang rendah kecuali kedelai. Kedelai cenderung mengandung protease inhibitor tinggi dan pada cereal lainnya rendah. Memakan kedelai mentah mengakibatkan meningkatnya berat pankreas.

Penghambatan aktivitas trypsin berpengaruh pada pencernaan protein, karena tripsin adalah activator dari semua enzim yang dikeluarkan oleh pankreas yaitu zymogen termasuk trypsinogen, chymotripsinogen, proelastase dan carboxypeptidase. Pengaruh utama dari tripsin inhibitor bukan menggangu pencernaaan protein tetapi sekresi berlebihan dari pankreas.

Cholecystokinin adalah peptide yang merangsang sekresi enzim pankreas dikeluarkan oleh bagian proximal usus halus yang dikontrol oleh aktivitas  umpan balik negatif. Meningkatnya kadar tripsin di lumen usus akan menurunkan sekresi cholecystokinin. Sekresi cholecystokinin oleh mucosa usus karena adanya monitor peptide yaitu sebuah peptide yang disekresikan kedalam getah pankreas.

Apabila pencernaan protein selesai maka monitor peptide dirusak oleh trypsin dan sekresi cholecystokinin berhenti. Adanya inhibitor trypsin dalam ransum, pankreas secara terus menerus merangsang cholecystokinin sebab monitor peptide tidak dirusak oleh trypsin. Kelebihan rangsangan ini menyebabkan terjadi hyperthrophy dan hyperplasia dari pankreas yang terlihat dari berat pankreas meningkat.

Protease inhibitor mudah dinetralkan dengan pemanasan. Kerusakan ini tergantung dari suhu, waktu pemanasan, ukuran partikel dan kandungan air. Pengolahan untuk menetralkan trypsin inhibitor harus dipertimbangkan jangan sampai merusak nilai nutrisi dari kedelai. Itulah mengapa kedelai harus disangrai dulu untuk menghilangkan antitripsin, atau diambil minyaknya menjadi bungkil kedelai.

g. Cyanogenic glycoside (Cyanogen)

Cyanogenic glycoside, cyanoglycosida atau cyanogen adalah senyawa yang apabila diperlakukan asam dan diikuti dengan hidrolisis oleh enzim tertentu akan melepaskan hydrogen cyanida (HCN). Cyanoglycosida terdapat lebih dari 2000 spesies tanaman. Singkong (cassava) adalah hasil panen utama yang mengandung cyanogen dalam jumlah tinggi.

Pengolahan singkong secara tradisional yaitu umbi dipotong-potong dibawah air mengalir untuk mencuci cyanogen. Alternatif lain yaitu umbi singkong  dipotong-potong, dihancurkan dan dikeringkan dibawah sinar matahari sampai HCN menguap. HCN setelah dilepas dengan cepat diabsorpsi dari saluran gastro intestinal masuk ke dalam darah. Ion Cianida (CN-) berikatan dengan Fe heme dan beraksi dengan ferric (oxidasi) dalam mitokondria membentuk cytochrome oxidase di dalam mitokondria, membentuk komplek stabil dan menahan jalur pernafasan. Akibatnya hemoglobin tidak bisa melepas oxygen dalam system transport electron dan terjadi kematian akibat hypoxia seluler.

Beberapa cara mengurangi cyanogenic glycoside yaitu :

·            Proses pembuatan pati menghilangkan cyanogen.

·            Pencacahan, dikeringkan atau sebelumnya disimpan lebih dulu dalam keadaan basah bisa mengurangi 2/3 cyanogen dari segar.

h. Non- starch Polysaccharide

Non-starch polysaccharide (NSP) adalah karbohidrat komplek yang terlihat di endosperm dinding sel dari biji cereal. Karbohidrat ini sukar dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan dan mengikat air sehingga viscositas cairan di saluran pencernaan tinggi. Viscositas di saluran pencernaan meningkat menyebabkan transport nutrient menurun dan absorpsi menurun. Kedelai mengandung NSP dalam bentuk oligosaccharide.

Kedelai yang berasal dari berbagai negara mengandung oligosaccharida berbeda-beda. Pengaruh negatif dari NSP yaitu :

·            Excreta lengket dan kadar air tinggi sehingga menimbulkan masalah litter.

·            Menurunkan energi tersedia pada burung.

·            Mempengaruhi mikroflora di saluran pencernaan.

Sumber : http://fapet.ipb.ac.id

4. Kandungan Zat Makanan Dari Bahan Pakan Yang Digunakan Diketahui

Untuk mengetahui kandungan nutrisi bahan pakan dapat dilakukan dengan mencari pada tabel kandungan nutrisi dari sumber yang kredible misalnya NRC, manual produsen DOC dan dengan melakukan uji secara kimia misalnya analisis proximat dan nutrien.

Analisi proximat digunakan untuk menguji kadar air, lemak, protein, serat kasar,kadar abu. Analisis nutrien misalnya gas chromatografi dapat menguji asam amino, mineral, asam lemak dan vitamin. Kalori bom dapat digunakan untuk uji kadar energi bahan pakan. Tabel kandungan nutrisi bahan pakan tertera pada tabel 7.

 

5. Batasan     Aman Penggunaan    Masing-Masing    Bahan Pakan Diketahui

Batasan aman penggunaan bahan pakan dalam formulasi pakan unggas disebabkan beberpa hal:

 

a.   Anti Nutrisi

Anti nutrisi dalam bahan pakan akan membatasi penggunaan bahan tersebut. Misal kedelai utuh banyak mengandung anti tripsin, jika terlalu banyak akan menghambat tubh ayam menyerap asam amino tripsin.

b.   Kandungan Serat Kasar

Kadar serat yang tinggi misal dalam dedak padi akan membatasi penggunaannya, karena kandungan serat kasar pakan menjadi tinggi.

c.    Defisensi Nutrisi Bahan

Rendahnya kandungan nutrisi tertentu akan membatasi penggunaan bahan tersebut. Misal tepung darah, defisiensi asam amino..... menyebabkan ayam kanibal jika diberikan lebih dari 2% dalam pakan.

d.   Kandungan Nurtisi Tertentu Yang Tinggi

Kandungan nutrisi tertentu yang tinggi dapat membatasi penggunaan bahan tersebut. Misal tepung ikan mengandung mineral dan lemak yang tinggi, sehingga disarankan penggunaanya maksimum 10%. Bungkil sawit menganfung serat kasar tinggi dan kulit yang keras, sehingga penggunaan dibatasi maksimum 10%. Dll

e.   Kandungan Nutrisi Yang Tinggi

Jagung kuning kandungan energinya tinggi, walaupun tidak ada efek samping pada pemberian 100%, namun akan mneyulitkan dan keseimbangan nutrisi lainnya, sehingga jagung disarankan maksimum 60% dalam pakan. Penggunaan minyak dalam pakan broiler dibatasi maksimum 8%, penggunaan berlebih akan menyebabkan pakan mudah tengik, palatabilaitas menurun dan kadar lemak pakan melebihi kebutuhan maksimal.

Tabel. 7. maksimum penggunaan bahan pakan untuk unggas

Bahan Pakan

Petelur

Pedaging

 

Starter

Grower

Layer

Starter

Finisher

Jagung

60

60

70

60

70

Sorgum

25

40

40

25

40

Bekatul

10

15

30

10

10

Menir

40

40

40

40

40

Tepung gaplek

8

10

10

8

10

Pollard

5

15

30

15

20

Gandum

10

20

40

10

30

Lemak/minyak

5

6

7

5

7

Tetes

2

2

2

2

2

Tp. daun lamtoro

5

5

5

5

5

Kapur

5

5

5

5

5

Kulit kerang

2

3

5

1

3

Limbah udang

5

5

8

5

5

Bungkil kedele

30

30

40

30

40

Bungkil kacang

5

7.5

15

5

7.5

Bungkil kelapa

10

15

25

15

15

Bungkil biji kapas

5

5

10

2.5

5

Tepung ikan

7

8

10

7

10

Tepung bulu

2

5

5

5

5

Tepung daging

7

7

7

7

7

Tepung bekicot

3

3

3

3

3

Sumber: Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam Dan Itik, Oleh : Eko Widodo, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang

 

Tabel 8. Batas aman penggunaan bahan baku

No

BAHAN PAKAN

BROILER

LAYER

1

Jagung

100

100

2

Sorghum

40

40

3

Tapioka

15

10

4

Molasses

1

2

5

Corn Gluten Feed, 22%

3

5

6

Wheat Bran

10

15

7

Bekatul

3

3

8

Rice Bran

10

10

9

Bungkil Kacang

10

10

10

Bungkil Kapas

2

3

11

Corn Gluten, 60%

8

5

12

Bungkil Kedele

100

100

13

Bungkil  Bunga Matahari

5

5

14

Yeast

3

3

15

Feather Meal

2

2

16

Blood Meal

2

2

17

Mbm, 45%

10

10

18

Mbm, 50%

10

10

19

Skimmed Milk

10

10

20

Fish Meal

10

10

21

Tallow

7

5

22

Calsium Carbonat

10

10

23

Dicalsium Phosphat

10

10

24

Tepung Tulang

10

10

 

6. Harga Masing-Masing Bahan Pakan Diperhatikan

 

Pada saat menyusun fromula pakan, kita harus mempertimbangkan harga bahan pakan. Harga dimaksud bukan harga per kilogram bahan, tetapi dipertimbangkan  harga per persen protein untuk bahan sumber protein, dan harga per energi untuk bahan sumber energi.

Misal: 

  • Sumber protein

Harga tepung ikan protein 63%, RP22.500,

Harga bungkil kedelai kadar protein 36%, Rp 6500.

Maka harga per % protein tepung ikan =22500/63 = Rp. 357,

sedang harga per % protein bungkil kedelai = 6500/36 = Rp. 180

  • Sumber energi

Jagung kuning harga Rp.4500, kandungan energi 3350 kkal/kg

Dedak padi harga Rp3000, kandungan energi  2950 kkal/kg

Harga per ME jagung = 4500/3350 = 1,34

Harga per ME dedak = 3000/2950 = 1,017

 

7. Pengaturan Pengunaan Bahan Pakan Diperhatikan

a. bahan pakan diklasifikasikan menjadi sumber mineral, sumber protein, sumber energi, asam amino.

1)   Sumber mineral bisa tepung kerang, kapur, premix mineral. Mineral tersut utamanya untuk menaikkan kandungan Ca dan P. pada premix mineral sering sudah dicampur dengan vitamin.

2)   Sumber protein adalah bahan pakan yang kandungan proteinnya lebih tinggi dari kebutuhan protein pada formula yang akan kita susun. Misal kita akan menyusun pakan ayam broiler dengan kandungan protein 22%, maka bahan baku yang kandungan proteinnya>22% kita klasifikasikan sebagai sumber protein contoh: tepung ikan, tepung kedelai dll

3)   Sumber energi, bahan pakan dengan kandungan energi lebih tinggi dari energi pada pakan yang kita susun, kita klasifikasikan menjadi sumber energi. Misalnya kita menyusun pakan broiler dengan kandungan energi 2800 kkal/kg, maka bahan pakan yang kandungan energinya > dari 2800 kita klasifikasikan sebagai sumber energi, contoh: jagung, dedak, minyak dll

4)   Sumber asam amino

Pada saat formulasi kadang formula kita defisien asam amino tertentu, umumnya methionin dan lisin. Untuk mengatasi hal tersbut bisa kita tambahkan asam amino tunggal sesuai kebutuhan.

5)   Bahan perekat

Jika kita membuat pakan dalam bentuk pellet, maka harus ditambahkan bahan perekat agar pelet tidak mudah pecah. Bahan yang lazim digunakan adalah tepung gaplek.

6)   Antibiotik perangsang pertumbuhan

Pakan jadi atau buatan pabrikan umumnya ditambahkan antibiotik sebagai perangsang pertumbuhan. Walau peraturan laranggan penggunaan antoibotik sebagai pemacu pertumbuhan sudah keluar tetapi sampai sekarang pakan masing diberi antibiotika. Contoh : salinomycin, monensin, colistin, virginiamycin dll

7)   Anti oksidan

Beberapa bahan pakan sepeti bunkil kedelai, dedak padi kandungan minyaknya agak tinggi. Kadungan minyak akan menyebabkan pakan mudh rancid atau tengik. Untuk mengatasi hal tersebut ditambahkan bahan anti oksidan. Anti oksidan meurut referensi adalah vitamin E/C, namun yang digunakan secara masal belum diketahui.

b.   Pengaturan Penggunaan Bahan Pakan

Pada formulasi pakan, kita menggunakan prinsip least cost formula, artinya kita akan menyusun pakan dengan biaya/harga termurah. Buatlah tabel bahan pakan lenglap dengan kandungan nutrisi,  harga per kg, harga per % protein, harga per ME, batas aman maskimum. Gunakan program excell untuk membuat tabel kandungan nutrisi bahan pakan.

1)   Tetapkan ransum yang akan dibuat fromulasinya. Pilih kebutuhan nutrisi pkan yang akan dibuat

2)   Cadangkan 1-2% untuk premix mineral

3)   Pilih bahan pakan sumber protein yang harganya termurah. Urutkan bahan pakan berdasarkan harga termurah ke harga termahal. Gunakan bahan sebanyak mungkin sampai batas aman maksimum.

4)   Urutkan harga per unit ME. Pilih bahan pakan dengan harga per ME termurah, gunakan sampai batas aman maksimum

5)   Urutkan bahan pakan berdasarkan harga per % protein termurah. Pilih bahan pakan sumber protein berikutnya, harga per% ME lebih mahal dari 1). Gunakan sampai batah aman maksimum.

6)   Urutkan bahan pakan berdasarkan harga per ME dari murah ke mahal, pilih bahan pakan dengan harga per ME termurah setelah 2). Gunakan bahan pakan tersebut sampai batas aman maksimum.

7)   Demikian seterusnya tambahkan bahan pakan sumber protein dan energi bergantian sampai mencari 100%.

8)   Periksa kandungan nutrisi setelah 100%. Jika masih ada nutrisi yang kurang atau berlebih, ganti sebagian bahan pakan dengan bahan pakan yang lain sampai komposisi mendekati kebutuhan nutrisi dalam ransum.

9)   Jika setelah 100% kandungan nutrisinya  masih kekurangan asam amino, ganti sebagian bahan pakan dengan asam amino tunggal sesuai kebutuhan.


Tabel 8. Komposisi Nutrisi Bahan Pakan Ternak Unggas dan harga per Kg

No

Bahan Pakan

harga/kg

BK (%)

ME Kkal/kg

Harga /ME

PK (%)

harga per PK

Lisin (%)

Meth (%)

SK (%)

Lemak (%)

Ca (%)

P (%)

batas aman (%)

1

Kapur

1,500

99

0

0.00

0

0

0

0

0

0

38

0

7

2

MonoCalsium Phospat

2,000

99

0

0.00

0

0

0

0

0

0

16

22.5

7

3

Dedak padi 9-15% serat

2,000

89.2

2,200

0.91

13.3

150.4

0.63

0.27

11.9

10.2

2.35

1.58

30

4

Onggok

2,000

90.1

2950

0.68

2.8

714.3

0

0

8.26

0.67

0.2

0.16

5

5

Dedak padi 1-9% serat

2,500

89.9

2,950

0.85

13.6

183.8

0.65

0.27

6.1

15.6

2.33

1.57

30

6

Biji kapas

3,000

92

2,920

1.03

23

130.4

0

0

19.1

21.3

0.2

0.73

5

7

Dedak gandum

3,000

86.6

1,710

1.75

15.2

197.4

0.61

0.25

9.2

3.6

0.11

1.15

30

8

Dedak jagung (37% pati)

3,000

89

2,520

1.19

12

250

0.49

0.23

6

5.8

0.1

0.5

30

9

Jagung kuning

3,250

89

3,350

0.97

8.5

382.4

0.22

0.2

2.1

3.8

0.02

0.28

50

10

Bungkil inti sawit

3,500

89

3,128

1.12

15.3

228.8

0.52

0.34

17.2

6

0.47

0.72

5

11

bungkil kacang tanah

4,000

90

2,500

1.60

42

95.24

1.26

0.45

12

7.3

0.16

0.56

5

12

Bungkil biji kapas

5,000

93

2,320

2.16

40.9

122.2

1.59

0.55

12

3.9

0.2

1.05

5

13

Bungkil kedelai 44/7

6,500

86.6

2,120

3.07

43

151.2

2.75

0.65

6.5

1.8

0.3

0.65

40

14

Mineral premix

7,000

98

0

0.00

0

0

0

0

0

0

48

15

15

15

tepung darah

7,000

90.6

3,020

2.32

87.5

80

1.14

2.27

0

0.6

0.17

0.17

2

16

Kedelai sangrai

7,000

88.5

3,300

2.12

37

189.2

2.27

0.51

5.8

18.8

0.23

0.52

7

17

Minyak sawit

10,000

76.6

8,600

1.16

15.3

653.6

0

0

0

57.2

0

0

7

18

tepung ikan

14,000

92

2820

4.96

65

215.4

7.5

2.8

2.36

5,6

6

14,5

15

19

L Lisine

200,000

98.5

3,730

53.62

94.5

2116

78

0

0

0

0

0

3

20

DL Methionine

200,000

99.7

2,360

84.75

58

3448

0

99

0

0

0

0

3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERENCANAAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS

MERENCANAKAN KEGIATAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS PERENCANAAN KEGIATAN USAHA AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS Perencanaan   ( Planning )   ad...