MENETAPKAN BAHAN PAKAN YANG DIPAKAI
A. Pengetahuan Yang Dibutuhkan
1. Bahan Pakan Yang Tersedia
Dilapang Dan Ketersediaannya
Kontinyu Digunakan
Pakan diperlukan oleh unggas untuk pertumbuhan dan
perkembangan selama hidupnya. Kesalahan dalam pemberian pakan, dapat
menyebabkan unggas dapat mengalami penurunan produksi, daya tahan dan kekebalan
tubuh, sehingga unggas mudah menderita berbagai macam gangguan penyakit. Unggas
yang terganggu kesehatannya, tentu saja tidak akan memberikan hasil yang
optimal. Bahkan lebih jauhnya bisa mengakibatkan kematian. Pada dasarnya,
zat-zat makanan yang mutlak dibutuhkan oleh unggas untuk tumbuh dan berkembang
adalah air, karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.
Klasifikasi
bahan pakan yang uatama sebagai sumber protein dan sumber energi. Misal kita
menyusun pakan broiler dengan kandungan protein 22% dan energi 3200 kkal/kg,
maka bahan pakan yang kandungan protein >22% dikategorikan sebagai sumber
protein dan yang engandung energi >3200 kkal/kg sebagai sumber energi. Misal
sumber protein bungkil kedelai, sember energi jagung kuning.
Dalam menyusun pakan unggas maka diperlukan data: kandungan air
bahan pakan (% bahan kering), protein kasar (%), energi metabolisme-ME
(Kkalori/kg), asam amino metionin dan
lisine (%), serat kasar (%), lemak (%), mineral Calsium dan Phospor (%) dan batas aman
penggunaan. Batas aman penggunaan ditentukan oleh sifat dari bahan tersebut dan
harga bahan baku pakan.
Beberapa sifat bahan baku:
·
Penggunaan tepung darah maksimal 2%, jika berlebih menyebabkan
ayam kanibal.
·
Minyak sawit dibatasi karena menyebabkan mudah rancid (tengik) dan energi terlalu
tinggi,
·
Beberapa bahan baku dibatas karena harganya mahal misal tepung
ikan, yang akan menyebabkan harga pakan mahal.
·
SBM (Soy bean meal) : mengandung
protease inhibitor, allergens, oligosaccharides, phytin, lipoxygenase, lectin,
saponin
·
Fish meal : mengandung
oxidized fat, high mineral, biogenic amines
·
Bungkil kopra :
mengandung fiber, mannans
·
Corn Gluten Meal (CGM) :
mengandung mycotoxins (high xanthophyll);
·
Palm Kernel Meal : mengandung serat and cangkang
keras (sharp shell), galactomannans.
a.
Mengidentifikasi Bahan Baku Pakan
Bahan pakan diklasifikasikan menjadi beberapa kategori
yaitu: sebagai sumber protein, sumber energi, mineral dan vitamin.
Pengelompokan tersebut digunakan untuk menyusun ransum dengan harga termurah (Least
cost formula). Faktor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan
pakan adalah kandungan nutrisi bahan, tingkat kecernaan, ketersediaan, kontinuitas
dan harga.
Dalam budidaya ternak unggas, baik
itu ayam pedaging mapun ayam petelur
pakan mempunyai peranan yang sangat penting. Keberhasilan usaha peternakan unggas sangat
ditentukan oleh kualitas pakan yang diberikan
Didalam proses budidaya unggas khususnya ayam biaya
produksi terbesar dikeluarkan untuk pakan, besarnya sekitar 75% - 80% dari
total biaya produksi. Hal ini berarti bahwa biaya produksi akan dapat di tekan apabila bisa
menekan biaya pakan.
1). Persyaratan
Bahan Baku
Bahan pakan unggas
harus memenuhi persyaratan–persyaratan tertentu
diantaranya:
·
Bahan pakan ternak yang dipergunakan tidak
boleh bersaing dengan bahan untuk makanan manusia. Apabila manusia banyak
membutuhkannya, maka bahan pakan tersebut jangan diberikan pada unggas
·
Bahan pakan yang dipergunakan untuk pakan
ternak unggas harus tersedia dalam waktu yang lama atau ketersediaan sepanjang
waktu bahan pakan tersebut diperlukan.
Bahan pakan yang ketersediaanya
pada suatu saat ada dan kemudian hilang atau tidak ada, harus dihindari.
·
Bahan pakan yang dipergunakan untuk pakan
ternak unggas setiap tahun bahkan setiap
bulan selalu di produksi, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pakan
tersebut secara kontinyu .
·
Harga bahan pakan, harus dinilai dari segi
manfaat bahan pakan tersebut, sehingga
dapat mencerminkan kualitas pakan yang telah disusun.
·
Kualitas gizi bahan pakan, untuk pakan ternak
unggas, batasan kualitas adalah kandungan serat kasar dari bahan pakan
tersebut. Semakin tinggi kandungan serat kasar bahan pakan, maka akan semakin
kurang berperan bahan pakan tersebut bagi unggas.
Kelengkapan asam amino, vitamin, mineral dan
energi yang dikandung memegang peranan apakah bahan pakan tersebut berperan
atau tidak. Bahan pakan yang mudah
membentuk racun atau mudah tercemar, harus disingkirkan dari campuran bahan
pakan unggas.
Pakan unggas harus memenuhi segala kebutuhan
nutrisi bagi unggas. Unggas yang
dipelihara secara intensif mulai dari DOC sampai akhir selalu berada di dalam
kandang. Oleh karena itu segala kebutuhan nutrisi unggas harus terpenuhi dalam
pakan yang diberikan. Dalam menyiapkan pakan tidak hanya mencapur bahan pakan
tetapi harus juga diketahui karakteristik unggas, serta di pahami betul bahan
pakan yang digunakan.
Produksi pakan unggas meliputi penyediaan
bahan pakan sesuai syarat teknis pakan serta syarat bahan. Inti dari produksi pakan ternak adalah
pengaturan dan pemilihan bahan pakan. Ketersediaan bahan pakan merupakan faktor
penentu dalam kelangsungan usaha pakan unggas.
Oleh karena itu dalam produksi pakan yang harus diperhatikan adalah
pengetahuan tentang seluk beluk bahan pakan sampai rantai distribusi pengadaan
bahan pakan tersebut.
2). Sumber Bahan Pakan
a). Bahan Pakan Hewani
Bahan pakan hewani adalah bahan baku pakan
yang berasal dari bagian-bagian tubuh hewan.
Bahan pakan hewani ini merupakan sumber protein. Bahan pakan asal hewan sudah sejak zaman
Belanda sudah diperkenalkan kepada para peternak. Bahan pakan hewani merupakan
inti kesempurnaan nutrisi rangsum unggas, karena kandungan asam aminonya
seimbang dan sempurna.
Beberapa bahan pakan asal hewan yang sering
digunakan untuk unggas adalah tepung ikan, tepung daging tulang, tepung kerang
dan tepung sisa rumah potong, lemak atau minyak hewan.
(1). Tepung Ikan
Tepung ikan merupakan sumber utama asam amino dalam ransum. Hal ini karena
dalam tepung ikan terdapat asam amino yang berkualitas dan seimbang. Hal yang menjadi kendala dalam pemakaian
tepung ikan adalah pengaruh baunya pada produk unggas, baik daging maupun
telurnya.
Tepung ikan berasal dari sisa-sisa pengolahan industri makanan ikan, secara
umum tepung ikan mengandung protein kasar antara 60% - 70% dan mengandung lysin
dan methionin, asam amino selalu kurang dalam bahan asal nabati.
Selain protein dan asam amino, tepung ikan juga merupakan sumber kalsium
dan phosphor. Kedua mineral ini
merupakan mineral makro yang diperlukan unggas untuk tumbuh dan bertelur.
(2). Limbah Industri Udang
Mutu tepung udang tergantung pada proses pengolahannya. Pengeringan dan bagian tubuh yang akan
diproses sangat menentukan kualitas tepung udang. Tepung udang mengandung antara 35%-45%
protein kasar. Penggunaan dalam ransum
unggas dilakukan sebagai pendamping atau dikombinasikan dengan tepung ikan atau
bahan sumber nabati. Pada unggas petelur
pemberian tepung udang maksimal 7%, sedangkan untuk ayam pedaging antara 8%
sampai 14%.
(3). Tepung Bulu.
Bulu ayam sebagai hasil sampingan pemotongan ayam potong dapat di olah
menjadi tepung bulu. Tepung bulu ini
berasal dari bulu yang dikeringkan dan kemudian digiling. Protein kasar dalam tepung bulu berkisar
antara 82%-91%. Dari kandungan yang
begitu tinggi hanya sebagian kecil saja yang dapat di manfaatkan unggas.
Tepung bulu mempunyai energi metabolik (ME) sebesar 2354 kalori /kg . 35% asam amino dalam tepung bulu tidak bisa
dimanfaatkan oleh unggas dan dikeluarkan lagi.
(4). Lemak Hewan
Untuk mencapai energi metabolis yang dikehendaki pakan unggas sering di
tambah dengan lemak selain itu bisa pula berasal dari minyak kelapa. Lemak hewan yang akan digunakan sebaiknya
dibeli dalam jumlah yang diperlukan saja, bila perlu disimpan hendaknya dalam
bentuk minyak.
Cara penggunaannya adalah dengan mencampurkan lemak atau minyak dengan
bahan terkecil dalam formula dan aduk hingga rata. Lemak dapat juga digunakan sebagai bahan
appetizer, karena lemak hewan/lemak nabati merupakan makanan yang di gemari
unggas.
(5). Tepung Darah
Darah merupakan limbah
rumah potong hewan. Kualitas tepung darah untuk pakan unggas dari segi
kesehatan tergantung pada bagaimana bahan
itu diperoleh dari rumah potong.
Bila penampungan darah bercampur dengan kotoran, maka bahan tersebut
tidak layak di untuk digunakan sebagai bahan pakan unggas dan sebaliknya bila
berasal dari tempat yang bersih maka bahan tersebut memenuhi syarat sebagai
bahan pakan unggas.
Tepung darah mengandung
80% protein kasar, tetapi kurang akan asam amino isoleusin, rendah kalsium dan
phosphor. Tepung darah mengandung 1,6%
lemak dan 1% serat kasar. Tepung darah
tidak dapat sepenuhnya dapat digunakan oleh unggas, hanya 60% asam amino yang
dapat digunakan. Tepung darah dalam
ransum maksimum 2%.
(6). Tepung daging Tulang
(Meat bone meal)
Meat Bone Meal (MBM) atau tepung daging dan tulang adalah produk olahan
pakan ternak, dengan komposisi sekitar 50% protein, 35% abu, 8 – 12 % lemak,
dengan kelembaban 4 – 7 %. Pengolahan ini, dilakukan untuk meningkatkan
stabilitas dan nilai kandungan bahan pakan, yang diambil dari limbah jaringan
tubuh ruminansia. Profil utama dari Meat Bone Meal adalah
tingkat asam amino yang lebih tinggi sebagai pakan ternak.
Meskipun diperoleh dengan daur ulang dan dihaluskan dari limbah
ruminansia, Meat and Bone Meal tidak diolah dari tanduk,
rambut, kulit, kotoran, dan isi perut. Kandungan kalsium dari Meat and
Bone Meal tidak boleh melebihi 2,2 kali lipat dari kandungan
fosfornya. Kandungan kalsium dalam Meat and Bone Meal yang
lebih tinggi menunjukkan bahwa ada tambahan bahan lain yang ditambahkan ketika
proses pengolahan Meat and Bone Meal selain dari tulang, untuk
menambahkan kalsiumnya.
(7). Tepung Kerang
Tepung Kulit Kerang laut ; adalah olahan kulit
kerang ijoan dan kerang bukur / cangkang kerang laut yang dihaluskan.Kandungan
kalsium pada tepung cangkang kerang sangat tinggi dan cocok untuk salah satu
campuran pakan ternak unggas petelur. Membentuk
dan menguatkan pertumbuhan tulang pada hewan ternak, sebagai bahan pembantu
pengolahan makanan dan bahan penguat telur itik agar menghasilkan kualitas
telur yang maksimal. Kandungan yang terdapat dalam tepung cangkang kerang bukan
hanya kalsium, tetapi vitamin, protein dan mineral-mineral lain yang dibutuhkan
oleh hewan ternak. Oleh karena itu tepung cangkang kerang laut sangat baik
digunakan untuk campuran dan tambahan pakan ternak, mengalahkan bahan-bahan
kalsium lainnya seperti tepung batu, dll.
b). Bahan Pakan Nabati.
Bahan
pakan asal tumbuhan untuk unggas dibagi atas bahan makanan yang biasa digunakan
(jagung, dedak, bungkil kacang kedelai, bungkil kelapa, minyak nabati ) dan
bahan makanan yang tidak lazim digunakan (bungkil kacang tanah, ubi kayu dan
lain-lain). Bahan pakan nabati merupakan
bahan pakan asal biji-bijian yang menjadi sumber energi bagi ternak. Bahan pakan nabati kandungan serat kasarnya
cukup tinggi. Berikut adalah beberapa
bahan pakan asal nabati :
(1). Jagung Kuning.
Jagung
kuning tidak dapat dijadikan bahan pakan sumber protein bagi unggas, karena
kandungan protein yang agak rendah dan defisiensi asam amino. Kandungan protein dan asam amino yang rendah sangat terkait dengan varietas
dan faktor lingkungannya. Kandungan asam
amino jagung belum mencukupi kebutuhan untuk unggas sehingga penggunaan jagung
kuning yang berlebihan untuk menyebabkan kebutuhan asam amino terancam. Kelebihan jagung kuning adalah kandungan
Xanthophyll yang menyebabkan warna kuning pada kaki ayam, kulit broiler dan
kuning telur.
Bahan pakan ternak, terutama bahan pakan
utama asal nabati dan hewani harus tahan lama yang berarti bahwa bila disimpan
tidak berubah bentuk fisik, tetap kuning, tidak berubah kandungan nutrisinya.
Sebagai contoh jamur, fusarium roseum yang dapat berkembang selama penyimpanan
di gudang dapat meyebabkan kualitas telur menurun.
(2). Dedak
Halus.
Dedak
halus adalah bahan pakan yang paling banyak digunakan setelah jagung. Dedak merupakan limbah proses pengolahan
gabah dan tidak dikonsumsi oleh manusia.
Dedak mempunyai kandungan serat kasar 13%,
sedangkan unggas tidak mampu mencerna serat kasar lebih dari 4%. Hal ini merupakan pembatas nutrisi yang
menyebabkan dedak halus tidak dapat digunakan secara berlebihan.
Kandungan nutrisi dedak adalah kandungan
protein kasar 13,5% dan kandungan energi metabolis sebesar 1890 kalori/kg. Sedangkan asam amino dedak memang lengkap,
tetapi tidak memenuhi kebutuhan sehingga perannya sebagai penyedia asam amino
tidak dapat diandalkan, demikian pula
vitamin dan mineral.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
dedak bukan merupakan bahan pakan sumber nabati yang andal dan hanya bersifat
pelengkap saja. Dedak dewasa ini telah
digantikan oleh limbah gandum yang mempunyai kualitas lebih baik daripada
dedak. Penggunaan
dedak lebih di karenakan oleh ketersediaan dan harga yang murah.
Pemeliharaan kualitas dedak dapat dilakukan
dengan memeriksa baunya, bila sudah tercium tengik atau bau tidak normal
lainnya tertanda bahwa dedak tersebut sudah mulai rusak. Kemudian warnanya, dedak yang normal berwarna
coklat terang, bila sudah putih atau kehijau-hijauan tertanda dedak sudah
rusak. Untuk melihat pemalsuan, dapat dilakukan dengan memasukkan sedikit dedak
kedalam segelas air bening, bila banyak yang mengambang berarti dedak telah
dicampur gilingan kulit padi.
Selain itu dapat diberikan parutan lugol 10%
pada dedak yang sudah dicampur air.
Makin berwarna merah berarti kandungan Serat Kasar-nya tinggi, maksimum
hanya 10% yang diterima.
Terakhir untuk melihat apakah dedak tersebut
banyak dicampur dengan kapur halus, maka ditambahkan larutan Hcl. Bila banyak berbuih berarti banyak campuran
kapur halusnya.
(3). Kacang Kedelai dan Limbahnya.
Syarat pakan dapat digunakan sebagai bahan
pakan unggas adalah bahan-bahan pakan tersebut tidak bersaing dengan kebutuhan
manusia. Kacang kedelai merupakan sumber
protein nabati bagi unggas. Kelemahan dari kacang kedelai adalah kesediaannya
yang kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada serta adanya kandungan “anti
tripsin” pada kedelai mentah. Kacang
kedelai masih digunakan oleh manusia untuk membuat tahu dan tempe sehingga
limbah kacang kedelai yang banyak digunakan untuk pakan unggas, berupa bungkil
kedelai sebagai pendamping tepung ikan. Bungkil kacang kedelai mengandung
protein berkisar antara 42% sampai 50%, tetapi tidak ada methionin.
Energi metabolis bungkil kacang kedelai
berkisar antara 2825 – 2890 kalori / kg.
Untuk unggas pedaging bahan ini cukup membantu sebagai sumber energi di
samping jagung kuning. Bungkil kacang
kedelai mempunyai kandungan serat kasar ± 6%, kandungan kalsium dan phosphor juga lebih baik dibanding dengan
biji-bijian bahan pakan unggas lainnya.
(4). Bungkil Kelapa/Sawit
Bungkil
kelapa merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati. Kandungan protein kasar bungkil kelapa
berkisar antara 20%-26%. Hal ini yang
menjadi dasar mengapa bungkil kelapa digunakan sebagai pendamping tepung ikan
dan jagung kuning.
Kelemahan
bungkil kelapa adalah kandungan minyaknya masih tinggi dan mudah menjadi
tengik. Ketengikkan ini akan mengganggu
selera makan unggas dan pencernaannya.
Oleh sebab itu pabrik pakan unggas jarang menggunakan bungkil kelapa
dalam komposisinya.
(5). Minyak Nabati.
Minyak
nabati merupakan salah satu bahan pakan unggas yang banyak digunakan untuk
unggas pedaging. Hal
ini karena unggas pedaging memerlukan energi tinggi yang biasanya hanya berasal
dari minyak. Minyak nabati yang sering
digunakan untuk pakan unggas adalah minyak kelapa dan sejenisnya. Selain itu minyak dalam pakan unggas juga
akan menambah selera makan, dan sifat berdebu pada pakan “all mash”.
Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak
yang berkualitas, artinya tidak mudah rusak dan tidak mudah tengik. Sebagai sumber energi pendukung, minyak bukan
bahan pakan utama sebagai sehingga persentase penggunaannya tidak baku bahkan
boleh tidak di gunakan. Di samping kelima bahan pakan nabati di atas masih
banyak bahan pakan asal nabati yang lainnya, misalnya bungkil kacang tanah, ubi
kayu dan hasil olahannya, hijauan untuk unggas dan bahan makanan lainnya.
c). Premix
Mineral
Premix mineral merupakan campuran antara vitmin, mineral mikro,
asam amino bahkan beberapa produk menambahkan antioksidan. Jenis premix mineral
bermacam-macam tergantung pabrik pembuatannya. Cara penggunaan sebaiknya
mengikuti rekomendasi pabrik pembuatnnya. Sumber mineral umumnya tepung kerang, kapur,
monokalsium dan dikalsium phospat.
3). Identifikasi Bahan Baku Pakan Konsentrat
Bahan pakan
yang baik mempunyai tekstur, aroma dan warna yang khas untuk setiap jenis. Kita
perlu mengetahui karakter masing-masing jenis bahan, agar jika membeli kita
bisa memperoleh bahan pakan sesuai dengan yang dikehendaki. Identifikasi bahan baku Pakan konsentrat terdapat pada tabel 6.
Tabel 6. Indentifikasi Pakan Konsentrat
|
No
|
Bahan
|
Tekstur
|
Aroma
|
Warna
|
|
1. |
Ampas Bir |
Tepung halus, |
Alkohol |
Coklat muda |
|
2. |
Ampas Brem |
Butiran |
alkohol |
Kekuningan |
|
3. |
Ampas Kecap |
Butiran kasar |
Kecap |
Coklat muda |
|
4. |
Ampas Tahu |
Tepung basah |
kedelai |
Putih |
|
5. |
Biji Kapas |
butiran |
Harum |
hitam |
|
6. |
Bungkil Biji Kapas (Expeller) |
Tepung kasar |
Harum |
Hitam |
|
7. |
Bungkil Kacang Tanah(Expel) |
Butiran kasar |
Kacang tanah |
Agak putih |
|
8. |
Bungkil Kedelai 44/7 |
Butiran kasar |
kedelai |
Putih kekuningan |
|
9. |
Bungkil Kelapa |
Tepung campur butiran |
Wangi minyak kelapa |
Coklat |
|
10. |
Bungkil Kopra |
Tepung campur butiran |
Wangi minyak kelapa |
Coklat |
|
11. |
Dedak Gandum |
Tepung |
Seperti gandum |
Putih kecoklatan |
|
12. |
Dedak Jagung (37% Pati) |
Tepung |
Jagung |
Putih kecoklatan |
|
13. |
Dedak Padi 15-30% Serat |
Tepung kasar |
Wangi beras |
Coklat muda |
|
14. |
Dedak Padi 1-9% Serat |
Tepung halus |
Wangi beras |
Coklat muda |
|
15. |
Dedak Padi 9-15% Serat |
Tepung agak kasar |
Wangi beras |
Coklat muda |
|
16. |
Dicalsium Pospat |
Tepung |
menyengat |
Putih |
|
17. |
Garam Dapur |
Butiran |
Khas garam |
putih |
|
18. |
Jagung Kuning |
Butiran |
Harum jagung |
Kuning |
|
19. |
Kapur |
Tepung berdebu |
Aroma Kerang |
Putih |
|
20. |
Kedelai BS |
Butiran |
Kurang segar |
Coklat kehitaman |
|
21. |
Kedelai Sangrai |
Butiran |
harum kedelai |
Coklat muda |
|
22. |
Kulit Coklat |
Potongan kulit |
Harum coklat |
Kecoklatan |
|
23. |
Kulit Kacang Tanah |
Potongan kulit |
Harum kacang |
Coklat muda |
|
24. |
Kulit Kedelai |
Potongan kulit |
Harum kedelai |
Kecoklatan |
|
25. |
Kulit Kopi |
Potongan kulit |
Harum kopi |
Kehitaman |
|
26. |
Lemak Ternak |
Padat |
Seperti daging |
Putih |
|
27. |
Lumpur Sawit |
Cair |
Harum sawit |
Kecoklatan |
|
28. |
Mineral Sapi |
Tepung |
Bau kerang |
Putih kecoklatan |
|
29. |
Minyak Sawit |
cair |
Harum sawit |
kuning |
|
30. |
Monokalsium Pospat |
Tepung |
Bau agak menyengat |
Putih |
|
31. |
Onggok |
Butiran kasar |
Apek |
Putih abu-abu |
|
32. |
Palm Kernel Meal (Expeller) |
Tepung berminyak |
Harum sawit |
coklat |
|
33. |
Palm Kernel Meal (Solvant) |
Tepung |
Harum sawit |
Coklat |
|
34. |
Premix Mineral |
Tepung |
Bau kerang |
Abu-abu |
|
35. |
Serat Sawit Fermentasi |
Serat butiran |
Harum sawit |
Coklat |
|
36. |
Singkong kering |
Batangan atau potongan |
Apek |
Putih pucat |
|
37. |
Tepung Bunga Matahari (Exp) |
Tepung |
Harum |
Kecoklatan |
|
38. |
Tepung Kerang |
Tepung berdebu |
Bau laut |
Putih pucat |
|
39. |
Tepung Tulang |
Tepung berdebu |
Bau daging |
Putih pucat |
|
40. |
Tetes Tebu |
Cair kental |
Tebu atau gula |
Kecoklatan |
|
41. |
Ubi Jalar |
Potongan |
Apek |
Putih kekuningan |
|
42. |
Urea |
Butiran |
Amoniak |
Putih |
Limbah tersebut dapat diperoleh dari pengolahan hasil
pertanian, misalnya tetes hasil limbah pabrik gula, dedak limbah pengolahan
padi dll. Bahan baku lokal dapat diperoleh dengan membeli ke sentra-sentra
penghasil bahan tersebut. Misalnya untuk bahan onggok, dapat dibeli di Lampung.
Tetes dapat dibeli dari pabrik gula di Lampung, Cirebon, Klaten, Yogya dll.
Beberapa bahan seperti bungkil kedelai, bungkil atau biji kapas, pollard, dll
masih di impor dari luar negeri. Kita dapat mengimpor bahan pakan dan
menjualnya kembali ke pasar lokal. Pemasaran bahan pakan dapat dilakukan dengan
penjualan langsung ke peternak atau perusahaan peternakan, bisa juga melalui
pengecer bahan pakan seperti poultry shop dan koperasi.
2. Kondisi Dan Kualitas Bahan Pakan Diketahui
Kualitas bahan pakan ditentukan oleh kandungan
nutrisi, ada tidaknya kontaminan. Kandungan nutrisi meliputi kadar energi,
protein, air (berat kering), mineral, serat kasar, mineral (Terutama Ca dan P),
lemak. Protein terdiri dari protein kasar (PK) yaitu diukur dari jumlah N yang
ada dalam bahan pakan. Asam amino yang dibutuhkan atau yang perlu diseimbangkan
adalah asam amino lisine dan methionin, karena kedua asam amino tsb paling
sedikit keberadaannya dalam bahan pakan. Untuk mengetahui kondisi dan kualitas
bahan pakan dapat dilakukan uji fisik dengan uji organoleptik:
- Karakteristik
bahan baku
Setiap bahan baku mempunyai karakteristik tersendiri
yaitu: bentuk, tekstur, warna, aroma. Penyimpangan karakteristik masing-masing
bahan menyebabkan menurunnya kualitas bahan pakan tersebut
- Kontaminan
Kontaminan adalah bahan yang tidak dikehendaki yang
tercampur dengan bahan pakan, misal batu, kotoran lainnya. Semakin banyak
kontaminan maka akan semakin menurunkan mutu bahan pakan.
- Kondisi
Bahan Baku
kondisi yang dimaksud adalah apakah ada jamur, penggumpalan,
kutu. Adanya kondisi tersebut akan menurunkan kualitas bahan baku. Adanya kutu
mengindikasi bahwa bahan sudah disimpan lama. Adanya jamur atau gumpalan
menunjukkan bahan terkena air.
3. Ada Tidaknya Zat Anti Nutrisi
Diidentifikasi
Anti nutrisi dapat
diartikan sebagai senyawa bersifat racun yang dapat menghambat proses pemasukan
dan pengolahan zat makanan yang ada di dalam tubuh. Antinutrisi tidak
memberikan pengaruh keracunan tersebut secara langsung melainkan dengan cara
mengakibatkan defisiensi zat makanan atau dengan cara mengganggu fungsi dan
pemanfaatan zat makanan di dalam tubuh. Bebrapa anti nutrisi antara lain:
a. Phytat
Phytat merupakan salah satu non polysaccharida dari dinding
tanaman seperti silakat dan oksalat. Asam phytat termasuk chelat (senyawa
pengikat mineral) yang kuat yang bisa mengikat ion metal divalent membentuk
phytat komplek sehingga mineral tidak bisa diserap oleh tubuh. Mineral tersebut
yaitu Ca, Zn, Cu, Mg dan Fe.
Pada sebagian besar cereal, 60-70 % phosphor terdapat sebagai asam phytat,
kecernaan molekul phytat sangat bervariasi dari 0-50 % tergantung bahan pakan
dan umur unggas. Unggas muda lebih rendah kemampuan mencerna phytat, tetapi
pada unggas dewasa 50%. Kecernaan phytat terjadi karena adanya phytase tanaman
atau sintetis phytase dari mikroba usus. Perlakuan panas pada ransum seperti
pelleting atau ekstrusi tidak terlihat memperbaiki kecernaan pospor-phytat.
Cara memecahkan masalah adanya P-phytat dalam ransum yaitu :
· Penambahan phytase:
kelemahan dari penambahan phytase ke dalam ransum akan menambah biaya ransum
dan phytase mudah rusak selama proses pelleting. Sebagian besar phytase
didenaturasi pada suhu 65°C. Sebaiknya enzym phytase ditambahkan setelah proses
pengolahan.
·
Penambahan sumber pospor lainnya kedalam ransum seperti dicalcium
pospat.
Sebagian besar biji bijian/cereal dan
suplemen protein nabati relatif rendah kandungan phytase kecuali dedak gandum,
sedangkan biji yang mengandung minyak kandungan phytat lebih tinggi.
b. Tannin
Tannin adalah senyawa phenolic yang larut
dalam air. Dengan berat molekul antara 500-3000 dapat mengendapkan protein dari
larutan. Secara kimia tannin sangat komplek dan biasanya dibagi kedalam dua
grup, yaitu hydrolizable tannin dan condensed tannin. Hydrolizable tannin mudah
dihidrolisa secara kimia atau oleh enzim dan terdapat di beberapa legume
tropika seperti Acacia Spp.
Condensed tannin atau tannin terkondensasi
paling banyak menyebar di tanaman dan dianggap sebagai tannin tanaman. Sebagian
besar biji legume mengandung tannin terkondensasi terutama pada testanya. Warna
testa makin gelap menandakan kandungan tannin makain tinggi.
Beberapa bahan pakan yang digunakan dalam
ransum unggas mengandung sejumlah condensed tannin seperti biji sorgum, millet,
rapeseed , fava bean dan beberap biji yang mengandung minyak. Bungkil biji
kapas mengandung tannin terkondensasi 1,6 % BK sedangkan barley, triticale dan
bungkil kedelai mengandung tannin 0,1 % BK. Diantara bahan pakan unggas yang
paling tinggi kandungan tannin terlihat pada biji sorgum (Sorghum bicolor).
Kandungan tannin pada varietas sorgum tannin
tinggi sebesar 2,7 dan 10,2 % catechin equivalent. Dari 24 varietas sorgum
kandungan tannin berkisar dari 0,05-3,67 % (catechin equivalent). Kandungan
tannin sorgum sering dihubungkan dengan warna kulit luar yang gelap. Peranan
tannin pada tanaman yaitu untuk melindungi biji dari predator burung,
melindungi perkecambahan setelah panen, melindungi dari jamur dan cuaca.
Sorgum bertannin tinggi bila digunakan pada
ternak akan memperlihatkan penurunan kecepatan pertumbuhan dan menurunkan
efisiensi ransum pada broiler, menurunkan produksi telur pada layer dan
meningkatnya kejadian leg abnormalitas.
Cara mengatasi pengaruh dari tannin dalam ransum yaitu dengan mensuplementasi
DL-metionin dan suplementasi agen pengikat tannin, yaitu gelatin,
polyvinylpyrrolidone (PVP) dan polyethyleneglycol yang mempunyai kemampuan
mengikat dan merusak tannin. Selain itu kandungan tannin pada bahan pakan dapat
diturunkan dengan berbagai cara seperti perendaman, perebusan, fermentasi, dan
penyosohan kulit luar biji.
c. Gossypol
Penggunaan bungkil biji kapuk (Cottonseed
meal) pada hewan monogastrik dibatasi oleh kandungan serat kasar dan senyawa
toksik yaitu tannin dan gossypol yaitu pigmen polyphenolic kuning. Konsentrasi
gossypol dalam biji bervariasi diantara spesies kapuk dan antara cultivarnya
berkisar 0,3 dan 3,4 %. Gossypol ditemukan dalam bentuk bebas, bentuk beracun
dan bentuk ikatan yang tidak toksik. Metode pengolahan biji kapuk menentukan
kandungan gosipol bebas.
Kandungan gossipol bebas pada pengolahan
menggunakan ekstrak pelarut berkisar antara 0,1-0,5 % tetapi untuk proses
expeller kandungan gossypol bebas kira-kira 0,05 %. Seluruh biji mempunyai
gossypol bentuk bebas. Broiler bisa toleran sampai level gosipol bebas 100 ppm
tanpa terlihat pengaruh merugikan pada performan.
Ransum layer mengandung < 50 ppm gossypol mencegah terjadinya green
discoloration pada kuning telur khususnya setelah penyimpanan serta dapat
menurunkan daya tetas dari telur fertile. Penambahan garam besi (ferric
sulphat) pada ransum yang biji kapuk dapat merusak gossypol yaitu dengan
mengikat grup reaktif gossipol dengan (Fe), dan kandungan protein ransum yang
tinggi juga dapat mencegah pengaruh merugikan dari gossypol.
d. Saponin
Sebagian besar saponin ditemukan pada
biji-bijian dan tanaman makanan ternak seperti alfalfa, bunga matahari,
kedelai, kacang tanah . Saponin umumnya mempunyai karakteristik yaitu rasa
pahit, sifat iritasi mucosal, sifat penyabunan, dan sifat hemolitik dan sifat
membentuk komplek dengan asam empedu dan kolesterol.
Saponin mempunyai efek menurunkan konsumsi ransum karena rasa pahit dan
terjadinya iritasi pada oral mucosa dan saluran pencernaan. Pada anak ayam yang
diberi 0,9 % triterpenoid saponin bisa menurunkan konsumsi ransum, menurunkan
pertambahan berat badan, menurunkan kecernaan lemak, meningkatkan ekskresi
cholesterol dan menurunkan absorpsi vitamin A dan D.
e. Mimosin
Tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala)
kering sama dengan tepung biji kapuk sebagai sumber protein. Penggunaan lamtoro
bisa menekan pertumbuhan broiler dan produksi telur pada layer. Nilai nutrisi
yang rendah dari lamtoro karena adanya mimosin. Lamtoro mengandung mimosin
sebesar 3-5 % BK, tetapi juga mengandung senyawa antinutrisi lain termasuk
protease inhibitor, tannin dan galactomannan.
Karena adanya mimosin ini penggunaan lamtoro dalam ransum non ruminansia
sebesar 5-10 % tanpa menimbulkan gejala toxicosis. Efek yang merugikan dari
mimosin, yaitu menurunkan pertumbuhan dan menurunkan produksi telur. Ayam muda
lebih sensitif dari pada ayam dewasa.
f. Protease Inhibitor
Protease inhibitor adalah senyawa yang bisa
menghambat trypsin dan chymotripsin dan umumnya pada tanaman mengandung
konsentrasi yang rendah kecuali kedelai. Kedelai cenderung mengandung protease
inhibitor tinggi dan pada cereal lainnya rendah. Memakan kedelai mentah
mengakibatkan meningkatnya berat pankreas.
Penghambatan aktivitas trypsin berpengaruh pada pencernaan protein, karena
tripsin adalah activator dari semua enzim yang dikeluarkan oleh pankreas yaitu
zymogen termasuk trypsinogen, chymotripsinogen, proelastase dan
carboxypeptidase. Pengaruh utama dari tripsin inhibitor bukan menggangu
pencernaaan protein tetapi sekresi berlebihan dari pankreas.
Cholecystokinin adalah peptide yang
merangsang sekresi enzim pankreas dikeluarkan oleh bagian proximal usus halus
yang dikontrol oleh aktivitas umpan balik negatif. Meningkatnya kadar
tripsin di lumen usus akan menurunkan sekresi cholecystokinin. Sekresi
cholecystokinin oleh mucosa usus karena adanya monitor peptide yaitu sebuah
peptide yang disekresikan kedalam getah pankreas.
Apabila pencernaan protein selesai maka
monitor peptide dirusak oleh trypsin dan sekresi cholecystokinin berhenti.
Adanya inhibitor trypsin dalam ransum, pankreas secara terus menerus merangsang
cholecystokinin sebab monitor peptide tidak dirusak oleh trypsin. Kelebihan
rangsangan ini menyebabkan terjadi hyperthrophy dan hyperplasia dari pankreas
yang terlihat dari berat pankreas meningkat.
Protease inhibitor mudah dinetralkan dengan pemanasan. Kerusakan ini tergantung
dari suhu, waktu pemanasan, ukuran partikel dan kandungan air. Pengolahan untuk
menetralkan trypsin inhibitor harus dipertimbangkan jangan sampai merusak nilai
nutrisi dari kedelai. Itulah mengapa kedelai harus disangrai dulu untuk
menghilangkan antitripsin, atau diambil minyaknya menjadi bungkil kedelai.
g. Cyanogenic glycoside
(Cyanogen)
Cyanogenic glycoside, cyanoglycosida atau
cyanogen adalah senyawa yang apabila diperlakukan asam dan diikuti dengan
hidrolisis oleh enzim tertentu akan melepaskan hydrogen cyanida (HCN).
Cyanoglycosida terdapat lebih dari 2000 spesies tanaman. Singkong (cassava)
adalah hasil panen utama yang mengandung cyanogen dalam jumlah tinggi.
Pengolahan singkong secara tradisional yaitu
umbi dipotong-potong dibawah air mengalir untuk mencuci cyanogen. Alternatif
lain yaitu umbi singkong dipotong-potong, dihancurkan dan dikeringkan
dibawah sinar matahari sampai HCN menguap. HCN setelah dilepas dengan cepat
diabsorpsi dari saluran gastro intestinal masuk ke dalam darah. Ion Cianida
(CN-) berikatan dengan Fe heme dan beraksi dengan ferric (oxidasi) dalam
mitokondria membentuk cytochrome oxidase di dalam mitokondria, membentuk
komplek stabil dan menahan jalur pernafasan. Akibatnya hemoglobin tidak bisa
melepas oxygen dalam system transport electron dan terjadi kematian akibat
hypoxia seluler.
Beberapa cara mengurangi cyanogenic glycoside yaitu :
·
Proses pembuatan pati menghilangkan cyanogen.
·
Pencacahan, dikeringkan atau sebelumnya disimpan lebih dulu dalam
keadaan basah bisa mengurangi 2/3 cyanogen
dari segar.
h. Non- starch
Polysaccharide
Non-starch polysaccharide (NSP) adalah
karbohidrat komplek yang terlihat di endosperm dinding sel dari biji cereal.
Karbohidrat ini sukar dicerna sehingga lolos dari saluran pencernaan dan
mengikat air sehingga viscositas cairan di saluran pencernaan tinggi.
Viscositas di saluran pencernaan meningkat menyebabkan transport nutrient
menurun dan absorpsi menurun. Kedelai mengandung NSP dalam bentuk
oligosaccharide.
Kedelai yang berasal dari berbagai negara
mengandung oligosaccharida berbeda-beda. Pengaruh negatif dari NSP yaitu :
·
Excreta lengket dan kadar air tinggi sehingga menimbulkan masalah
litter.
·
Menurunkan energi tersedia pada burung.
·
Mempengaruhi mikroflora di saluran pencernaan.
Sumber : http://fapet.ipb.ac.id
4. Kandungan Zat Makanan Dari Bahan Pakan Yang
Digunakan Diketahui
Untuk mengetahui kandungan nutrisi bahan
pakan dapat dilakukan dengan mencari pada tabel kandungan nutrisi dari sumber
yang kredible misalnya NRC, manual produsen DOC dan dengan melakukan uji secara
kimia misalnya analisis proximat dan nutrien.
Analisi proximat digunakan untuk menguji
kadar air, lemak, protein, serat kasar,kadar abu. Analisis nutrien misalnya gas
chromatografi dapat menguji asam amino, mineral, asam lemak dan vitamin. Kalori
bom dapat digunakan untuk uji kadar energi bahan pakan. Tabel kandungan nutrisi
bahan pakan tertera pada tabel 7.
5. Batasan
Aman Penggunaan
Masing-Masing Bahan Pakan
Diketahui
Batasan aman penggunaan bahan pakan dalam formulasi pakan unggas disebabkan
beberpa hal:
a.
Anti Nutrisi
Anti nutrisi dalam bahan pakan akan membatasi penggunaan
bahan tersebut. Misal kedelai utuh banyak mengandung anti tripsin, jika terlalu
banyak akan menghambat tubh ayam menyerap asam amino tripsin.
b.
Kandungan Serat Kasar
Kadar serat yang tinggi misal dalam dedak padi akan
membatasi penggunaannya, karena kandungan serat kasar pakan menjadi tinggi.
c.
Defisensi Nutrisi Bahan
Rendahnya kandungan nutrisi tertentu akan membatasi
penggunaan bahan tersebut. Misal tepung darah, defisiensi asam amino.....
menyebabkan ayam kanibal jika diberikan lebih dari 2% dalam pakan.
d.
Kandungan Nurtisi Tertentu Yang Tinggi
Kandungan nutrisi tertentu yang tinggi dapat membatasi
penggunaan bahan tersebut. Misal tepung ikan mengandung mineral dan lemak yang
tinggi, sehingga disarankan penggunaanya maksimum 10%. Bungkil sawit menganfung
serat kasar tinggi dan kulit yang keras, sehingga penggunaan dibatasi maksimum
10%. Dll
e.
Kandungan Nutrisi Yang Tinggi
Jagung kuning kandungan energinya tinggi, walaupun tidak
ada efek samping pada pemberian 100%, namun akan mneyulitkan dan keseimbangan
nutrisi lainnya, sehingga jagung disarankan maksimum 60% dalam pakan.
Penggunaan minyak dalam pakan broiler dibatasi maksimum 8%, penggunaan berlebih
akan menyebabkan pakan mudah tengik, palatabilaitas menurun dan kadar lemak
pakan melebihi kebutuhan maksimal.
Tabel.
7. maksimum penggunaan bahan pakan untuk unggas
|
|||||
|
Bahan
Pakan |
Petelur |
Pedaging |
|||
|
|
Starter |
Grower |
Layer |
Starter |
Finisher |
|
Jagung |
60 |
60 |
70 |
60 |
70 |
|
Sorgum |
25 |
40 |
40 |
25 |
40 |
|
Bekatul |
10 |
15 |
30 |
10 |
10 |
|
Menir |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
|
Tepung
gaplek |
8 |
10 |
10 |
8 |
10 |
|
Pollard |
5 |
15 |
30 |
15 |
20 |
|
Gandum |
10 |
20 |
40 |
10 |
30 |
|
Lemak/minyak
|
5 |
6 |
7 |
5 |
7 |
|
Tetes |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
Tp.
daun lamtoro |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
|
Kapur |
5 |
5 |
5 |
5 |
5 |
|
Kulit
kerang |
2 |
3 |
5 |
1 |
3 |
|
Limbah
udang |
5 |
5 |
8 |
5 |
5 |
|
Bungkil
kedele |
30 |
30 |
40 |
30 |
40 |
|
Bungkil
kacang |
5 |
7.5 |
15 |
5 |
7.5 |
|
Bungkil
kelapa |
10 |
15 |
25 |
15 |
15 |
|
Bungkil
biji kapas |
5 |
5 |
10 |
2.5 |
5 |
|
Tepung
ikan |
7 |
8 |
10 |
7 |
10 |
|
Tepung
bulu |
2 |
5 |
5 |
5 |
5 |
|
Tepung
daging |
7 |
7 |
7 |
7 |
7 |
|
Tepung
bekicot |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
Sumber: Teori Dan Aplikasi Pembuatan Pakan Ternak Ayam Dan Itik, Oleh : Eko
Widodo, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang
Tabel 8. Batas aman penggunaan bahan baku
|
No |
BAHAN PAKAN |
BROILER |
LAYER |
|
1 |
Jagung |
100 |
100 |
|
2 |
Sorghum |
40 |
40 |
|
3 |
Tapioka |
15 |
10 |
|
4 |
Molasses |
1 |
2 |
|
5 |
Corn Gluten Feed, 22% |
3 |
5 |
|
6 |
Wheat Bran |
10 |
15 |
|
7 |
Bekatul |
3 |
3 |
|
8 |
Rice Bran |
10 |
10 |
|
9 |
Bungkil Kacang |
10 |
10 |
|
10 |
Bungkil Kapas |
2 |
3 |
|
11 |
Corn Gluten, 60% |
8 |
5 |
|
12 |
Bungkil Kedele |
100 |
100 |
|
13 |
Bungkil Bunga Matahari |
5 |
5 |
|
14 |
Yeast |
3 |
3 |
|
15 |
Feather Meal |
2 |
2 |
|
16 |
Blood Meal |
2 |
2 |
|
17 |
Mbm, 45% |
10 |
10 |
|
18 |
Mbm, 50% |
10 |
10 |
|
19 |
Skimmed Milk |
10 |
10 |
|
20 |
Fish Meal |
10 |
10 |
|
21 |
Tallow |
7 |
5 |
|
22 |
Calsium Carbonat |
10 |
10 |
|
23 |
Dicalsium Phosphat |
10 |
10 |
|
24 |
Tepung Tulang |
10 |
10 |
6. Harga Masing-Masing Bahan Pakan Diperhatikan
Pada saat menyusun fromula pakan, kita harus mempertimbangkan harga bahan
pakan. Harga dimaksud bukan harga per kilogram bahan, tetapi
dipertimbangkan harga per persen protein
untuk bahan sumber protein, dan harga per energi untuk bahan sumber energi.
Misal:
- Sumber
protein
Harga tepung ikan protein 63%, RP22.500,
Harga bungkil kedelai kadar protein 36%, Rp 6500.
Maka harga per % protein tepung ikan =22500/63 = Rp. 357,
sedang harga per % protein bungkil kedelai = 6500/36 = Rp. 180
- Sumber
energi
Jagung kuning harga Rp.4500, kandungan energi 3350 kkal/kg
Dedak padi harga Rp3000, kandungan energi
2950 kkal/kg
Harga per ME jagung = 4500/3350 = 1,34
Harga per ME dedak = 3000/2950 = 1,017
7. Pengaturan Pengunaan Bahan Pakan Diperhatikan
a. bahan pakan
diklasifikasikan menjadi sumber mineral, sumber protein, sumber energi, asam
amino.
1) Sumber
mineral bisa tepung kerang, kapur, premix mineral. Mineral tersut utamanya
untuk menaikkan kandungan Ca dan P. pada premix mineral sering sudah dicampur
dengan vitamin.
2) Sumber
protein adalah bahan pakan yang kandungan proteinnya lebih tinggi dari
kebutuhan protein pada formula yang akan kita susun. Misal kita akan menyusun
pakan ayam broiler dengan kandungan protein 22%, maka bahan baku yang kandungan
proteinnya>22% kita klasifikasikan sebagai sumber protein contoh: tepung
ikan, tepung kedelai dll
3) Sumber
energi, bahan pakan dengan kandungan energi lebih tinggi dari energi pada pakan
yang kita susun, kita klasifikasikan menjadi sumber energi. Misalnya kita
menyusun pakan broiler dengan kandungan energi 2800 kkal/kg, maka bahan pakan
yang kandungan energinya > dari 2800 kita klasifikasikan sebagai sumber
energi, contoh: jagung, dedak, minyak dll
4) Sumber
asam amino
Pada saat formulasi kadang formula kita defisien asam amino tertentu,
umumnya methionin dan lisin. Untuk mengatasi hal tersbut bisa kita tambahkan
asam amino tunggal sesuai kebutuhan.
5) Bahan
perekat
Jika kita membuat pakan dalam bentuk pellet, maka harus ditambahkan bahan
perekat agar pelet tidak mudah pecah. Bahan yang lazim digunakan adalah tepung
gaplek.
6) Antibiotik
perangsang pertumbuhan
Pakan jadi atau buatan pabrikan umumnya ditambahkan antibiotik sebagai
perangsang pertumbuhan. Walau peraturan laranggan penggunaan antoibotik sebagai
pemacu pertumbuhan sudah keluar tetapi sampai sekarang pakan masing diberi
antibiotika. Contoh : salinomycin, monensin, colistin, virginiamycin dll
7) Anti
oksidan
Beberapa bahan pakan sepeti bunkil kedelai, dedak padi kandungan minyaknya
agak tinggi. Kadungan minyak akan menyebabkan pakan mudh rancid atau tengik.
Untuk mengatasi hal tersebut ditambahkan bahan anti oksidan. Anti oksidan
meurut referensi adalah vitamin E/C, namun yang digunakan secara masal belum
diketahui.
b.
Pengaturan Penggunaan Bahan Pakan
Pada formulasi pakan, kita menggunakan prinsip least cost
formula, artinya kita akan menyusun pakan dengan biaya/harga termurah. Buatlah
tabel bahan pakan lenglap dengan kandungan nutrisi, harga per kg, harga per % protein, harga per
ME, batas aman maskimum. Gunakan program excell untuk membuat tabel kandungan
nutrisi bahan pakan.
1) Tetapkan ransum yang akan dibuat fromulasinya. Pilih kebutuhan nutrisi pkan
yang akan dibuat
2) Cadangkan 1-2% untuk premix mineral
3) Pilih bahan pakan sumber protein yang harganya termurah. Urutkan bahan
pakan berdasarkan harga termurah ke harga termahal. Gunakan bahan sebanyak
mungkin sampai batas aman maksimum.
4) Urutkan harga per unit ME. Pilih bahan pakan dengan harga per ME termurah,
gunakan sampai batas aman maksimum
5) Urutkan bahan pakan berdasarkan harga per % protein termurah. Pilih bahan
pakan sumber protein berikutnya, harga per% ME lebih mahal dari 1). Gunakan
sampai batah aman maksimum.
6) Urutkan bahan pakan berdasarkan harga per ME dari murah ke mahal, pilih
bahan pakan dengan harga per ME termurah setelah 2). Gunakan bahan pakan
tersebut sampai batas aman maksimum.
7) Demikian seterusnya tambahkan bahan pakan sumber protein dan energi
bergantian sampai mencari 100%.
8) Periksa kandungan nutrisi setelah 100%. Jika masih ada nutrisi yang kurang
atau berlebih, ganti sebagian bahan pakan dengan bahan pakan yang lain sampai
komposisi mendekati kebutuhan nutrisi dalam ransum.
9) Jika setelah 100% kandungan nutrisinya
masih kekurangan asam amino, ganti sebagian bahan pakan dengan asam
amino tunggal sesuai kebutuhan.
Tabel 8. Komposisi Nutrisi Bahan Pakan Ternak
Unggas dan harga per Kg
|
No |
Bahan Pakan |
harga/kg |
BK (%) |
ME Kkal/kg |
Harga /ME |
PK (%) |
harga per PK |
Lisin (%) |
Meth (%) |
SK (%) |
Lemak (%) |
Ca (%) |
P (%) |
batas aman (%) |
|
1 |
Kapur |
1,500 |
99 |
0 |
0.00 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
38 |
0 |
7 |
|
2 |
MonoCalsium Phospat |
2,000 |
99 |
0 |
0.00 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
16 |
22.5 |
7 |
|
3 |
Dedak padi 9-15% serat |
2,000 |
89.2 |
2,200 |
0.91 |
13.3 |
150.4 |
0.63 |
0.27 |
11.9 |
10.2 |
2.35 |
1.58 |
30 |
|
4 |
Onggok |
2,000 |
90.1 |
2950 |
0.68 |
2.8 |
714.3 |
0 |
0 |
8.26 |
0.67 |
0.2 |
0.16 |
5 |
|
5 |
Dedak padi 1-9% serat |
2,500 |
89.9 |
2,950 |
0.85 |
13.6 |
183.8 |
0.65 |
0.27 |
6.1 |
15.6 |
2.33 |
1.57 |
30 |
|
6 |
Biji kapas |
3,000 |
92 |
2,920 |
1.03 |
23 |
130.4 |
0 |
0 |
19.1 |
21.3 |
0.2 |
0.73 |
5 |
|
7 |
Dedak gandum |
3,000 |
86.6 |
1,710 |
1.75 |
15.2 |
197.4 |
0.61 |
0.25 |
9.2 |
3.6 |
0.11 |
1.15 |
30 |
|
8 |
Dedak jagung (37% pati) |
3,000 |
89 |
2,520 |
1.19 |
12 |
250 |
0.49 |
0.23 |
6 |
5.8 |
0.1 |
0.5 |
30 |
|
9 |
Jagung kuning |
3,250 |
89 |
3,350 |
0.97 |
8.5 |
382.4 |
0.22 |
0.2 |
2.1 |
3.8 |
0.02 |
0.28 |
50 |
|
10 |
Bungkil inti sawit |
3,500 |
89 |
3,128 |
1.12 |
15.3 |
228.8 |
0.52 |
0.34 |
17.2 |
6 |
0.47 |
0.72 |
5 |
|
11 |
bungkil kacang tanah |
4,000 |
90 |
2,500 |
1.60 |
42 |
95.24 |
1.26 |
0.45 |
12 |
7.3 |
0.16 |
0.56 |
5 |
|
12 |
Bungkil biji kapas |
5,000 |
93 |
2,320 |
2.16 |
40.9 |
122.2 |
1.59 |
0.55 |
12 |
3.9 |
0.2 |
1.05 |
5 |
|
13 |
Bungkil kedelai 44/7 |
6,500 |
86.6 |
2,120 |
3.07 |
43 |
151.2 |
2.75 |
0.65 |
6.5 |
1.8 |
0.3 |
0.65 |
40 |
|
14 |
Mineral premix |
7,000 |
98 |
0 |
0.00 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
48 |
15 |
15 |
|
15 |
tepung darah |
7,000 |
90.6 |
3,020 |
2.32 |
87.5 |
80 |
1.14 |
2.27 |
0 |
0.6 |
0.17 |
0.17 |
2 |
|
16 |
Kedelai sangrai |
7,000 |
88.5 |
3,300 |
2.12 |
37 |
189.2 |
2.27 |
0.51 |
5.8 |
18.8 |
0.23 |
0.52 |
7 |
|
17 |
Minyak sawit |
10,000 |
76.6 |
8,600 |
1.16 |
15.3 |
653.6 |
0 |
0 |
0 |
57.2 |
0 |
0 |
7 |
|
18 |
tepung ikan |
14,000 |
92 |
2820 |
4.96 |
65 |
215.4 |
7.5 |
2.8 |
2.36 |
5,6 |
6 |
14,5 |
15 |
|
19 |
L Lisine |
200,000 |
98.5 |
3,730 |
53.62 |
94.5 |
2116 |
78 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
3 |
|
20 |
DL Methionine |
200,000 |
99.7 |
2,360 |
84.75 |
58 |
3448 |
0 |
99 |
0 |
0 |
0 |
0 |
3 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar