Metode Penyimpanan
Pakan
Penyimpanan
dapat dilakukan dengan berbagai cara, disesuaikan dengan spesifikasi bahan
pakan dan pakan, dengan tujuan untuk mempermudah proses penyimpanan dan
pembongkaran kembali bahan pakan dan pakan tersebut. Beberapa cara penyimpanan
antara lain penyimpanan dalam kemasan karung atau kemasan lainnya, penyimpanan
dalam bentuk curah di lantai gudang penyimpanan, dalam bentuk curah di dalam tangki dan penyimpanan
dalam bentuk curah di dalam silo dan bin.
a). Penyimpanan di gudang dalam bentuk kemasan
Sebelum
disimpan di dalam gudang, bahan pakan dan pakan terlebih dahulu dikemas di
dalam karung. Untuk bahan pakan kemasannya dapat berupa karung
goni maupun karung plastik, bahkan ada yang dikemas dalam kantong yang terbuat
dari kertas. Untuk pakan biasanya digunakan karung plastik.
(1). Tata letak penempatan
Untuk
mendapatkan sistem penggudangan yang efektif
maka perlu dilakukan perencanaan tata letak penempatan bahan yang akan
disimpan. Diantara tumpukan bahan terdapat lorong-lorong. Pengaturan
lorong-lorong diantara tumpukan karung
dimaksudkan untuk memperlancar pengaturan lalu lintas bahan di dalam
gudang serta untuk peredaran udara yang memadai.
Pengaturan
tata letak penempatan bahan pakan atau pakan
erat kaitannya dengan proses pemasukan
untuk disimpan dan pengeluaran
untuk digunakan atau didistribusikan, Pemasukan dan pengeluaran ini
harus mengacu sistem FIFO (first in first out). Yang dimaksud
sistem FIFO adalah bahan yang datang terlebih dahulu harus di keluarkan/
digunakan terlebih dahulu. Pakan yang diproduksi dahulu harus didistribusikan
dahulu.
(2). Cara Penumpukan Bahan
Untuk
penyimpanan bahan pakan atau pakan dengan menggunakan karung, cara
penumpukannya dapat dilakukan
dengan sistem pallet atau staffel. Sistem pallet biasanya
digunakan cara penumpukan model kunci 5 (lima). Untuk penyimpanan dan
pembongkaran mengggunakan alat bantu (forklift).
b).
Penyimpanan dalam bentuk
curah di dalam gudang
Penyimpanan dalam bentuk curah di
dalam bin artinya bahwa pakan disimpan
dalam bentuk curah (tanpa kemasan) di dalam tangki-tangki penyimpanan
yang disebut dengan
bin,
selanjutnya didistribusikan dengan
menggunakan kendaraan khusus,
diantaranya menggunakan dum
truck.
c).
Penyimpanan dalam bentuk
curah di dalam silo
Penyimpanan
dalam bentuk curah di dalam silo artinya bahwa bahan pakan disimpan dalam
bentuk curah di lantai di dalam ruang
penyimpanan khusus yang berbentuk silinder yang disebut dengan silo. Lantai
gudang (lantai silo) membentuk kerucut dengan posisi runcing berada di bawah,
sehingga bahan pakan akan mengumpul ke bawah. Proses penyimpanan dan
pembongkaran dihubungkan dengan system transport (conveyor) yang dijalankan secara otomatis (menggunakan tenaga
listrik). Cara ini biasanya dilakukan untuk bahan pakan yang berbentuk
biji-bijian, seperti jagung.
d).
Penyimpanan dalam bentuk
curah di dalam bin
Penyimpanan
dalam bentuk curah di dalam bin dapat berupa:
·
Bahan pakan yang akan digiling
·
Bahan pakan hasil penggilingan untuk proses
pembuatan pakan selanjutnya.
· Pakan jadi yang disimpan sementara di dalam bin
sebelum proses dikemas atau didistribusikan. Proses penyimpanan dan
pembongkarannya memerlukan bantuan sistem transport (conveyor) yang dijalankan secara otomatis dengan menggunakan tenaga
listrik.
e). Penyimpanan dalam bentuk
curah di dalam tangki
Penyimpanan
cara ini digunakan untuk bahan pakan yang berbentuk cair, seperti tetes
(molasses) atau minyak nabati. Penyimpanan cara ini biasanya dilengkapi dengan
pompa untuk mempermudah proses pengeluaran bahan yang akan digunakan dalam
pembuatan pakan.
f). Penyimpanan dalam bentuk
lain
Bahan pakan
yang akan digunakan dalam pembuatan pakan tidak selamanya dalam bentuk kemasan
karung, baik karung goni, karung plastik, maupun kantong (zak) yang terbuat
dari kertas, ataupun dalam bentuk curah. Ada kalanya bahan pakan dalam bentuk
kemasan kardus, kaleng maupun drum. Bahan-bahan ini biasanya berupa
obat-obatan, vitamin, mineral dan asam
amino, dengan cara penyimpanan sama seperti penyimpanan di dalam gudang, tetapi
memerlukan persyaratan dan perlakuan khusus sesuai dengan karakteristik
bahannya, misalnya harus di ruang ber AC
2). Tata Letak Penempatan
Pakan
Untuk mendapatkan sistem penyimpanan yang efektif, maka perlu dilakukan
perencanaan tata letak penempatan penyimpanan pakan.
Diantara susunan pakan terdapat lorong-lorong, digunakan
sebagai
jalur
pemindahan pakan
menggunakan forklift, dari pengemasan
ke penyimpanan maupun dari
penyimpanan
dimuat ke kendaraan untuk didistribusikan ke
pelanggan. Pengaturan
tata letak penempatan pakan bertujuan
mempermudah proses
pemasukan untuk
disimpan dan pengeluaran untuk
didistribusikan, dengan
mengacu sistem FIFO (First in First Out). Yang dimaksud sistem FIFO adalah pakan yang diproduksi dahulu
harus didistribusikan dahulu.
a).
Cara Penyusunan Pakan
(1). Kunci Lima
Untuk penyimpanan pakan dengan kemasan, cara penyusunannya dapat dilakukan dengan sistem staffel atau kunci 5. Cara penyusunan ini
dilakukan apabila sistem penyimpanan dan pembongkaran pakan menggunakan
forklift. Penyusunan pakan dilakukan di
tempat pengemasan (bagging), selanjutnya di bawa ke tempat penyimpanan dengan bantuan
alat (forklift). Pada saat akan didistribusikan, pakan
diambil dari tempat penyimpanan juga menggunakan forklift.
(2).
Penumpukan cara staffel
Cara
penumpukan stafel digunakan jika penumpukan dan pembongkaran dilakukan dengan
tenaga manusia. Tujuan model stafel untuk mencegah agar susunan pakan tidak
mudah runtuh dan memberikan aerasi yang baik. Penumpukan dengan cara menyusun
sejajar pakan dalam karung pada lapis kesatu, kemudian lapis kedua dengan arah
yang berlawanan dengan arah karung pada lapis kesatu. Lapisan ketiga mengulangi
lepisan kesatu dan seterusnya secara bergantian. Gambar 14 dan 15 menggambarkan cara penumpukan dengan cara staffel.
1.
Jenis-jenis kerusakan
Pakan dapat mengalami
kerusakan pada waktu peyimpanan di
gudang. Kerusakan yang terjadi ada yang dapat dilihat atau tidak dapat dilihat.
Penyebabnya dapat bersifat unsur kesengajaan atau dapat timbul dengan sendirinya. Kerusakan yang dapat timbul terhadap pakan pada saat
penyimpanan
antara lain:
a.
Penyusutan atau kehilangan berat.
b.
Perubahan ukuran dan bentuk.
c.
Penurunan
mutu dan perubahan jenis mutu.
d.
Penurunan atau kehilangan
nilai gizi.
e.
Kehilangan harga / penurunan nilai ekonomi.
3). Faktor-faktor penyebab
kerusakan
Faktor penyebab kerusakan pakan dapat dibedakan menjadi faktor biotik dan
faktor abiotik.
a). Faktor
biotik
Kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik adalah kerusakan yang disebabkan oleh jazad renik (mikroorganisme), serangga, tikus, burung, serta fisiologis. Jenis
kerusakan yang terjadi digolongkan menjadi kerusakan
mikrobiologik, kerusakan biologik dan kerusakan fisiologik.
Tumbuhnya bakteri, jamur dan
kapang di dalam bahan akan menyebabkan
terjadinya perubahan mutu dan nilai gizi. Selain itu dapat juga menimbulkan
bahaya keracunan. Serangga yang merupakan hama gudang
terdiri dari dua golongan, yaitu golongan pijer (Lepidoptera) dan golongan kumbang dan
tungau (Coleoptera).
b). Kerusakan
abiotik
Kerusakan yang disebabkan oleh faktor abiotik adalah kerusakan
yang
disebabkan oleh
fisik-mekanik dan
kimiawi. Jenis kerusakan
yang terjadi dapat digolongkan
menjadi
kerusakan fisik-mekanik dan kerusakan kimiawi. Kerusakan fsik-mekanik dapat disebabkan oleh
benturan, himpitan, gesekan, turun
naiknya
suhu dan kelembaban. Suhu dan
kelembaban merupakan faktor lingkungan
fisik yang
terpenting,
sebab
kedua faktor ini mempengaruhi kadar air dan
aktifitas air.
c). Tanda-tanda kerusakan
Penentuan jenis dan penyebab kerusakan pakan didalam gudang dapat
dilakukan/diketahui apabila sebelumnya diketahui tanda-tandanya. Tanda-tanda kerusakan
fisik-mekanik dapat diketahui apabila pakan
menjadi remuk,
retak,
pecah dan sebagainya. Demikian juga jika terjadi pengembunan
pada beberapa bagian gudang dan pakan. Apabila terjadi perubahan warna,
rasa aroma, tektur,
kegiatan respirasi dan
timbulnya berbagai
macam
gas H2O, CO2, amonia
merupakan tanda-tanda kerusakan fisiologik.
Timbul bau
apek, tengik, atau bau tidak sedap lainnya, merupakan
tanda-tanda
kerusakan kemik.
Di
dalam gudang
kadang-kadang dijumpai bagian-bagian tertentu yang menjadi panas atau kenaikan suhu. Hal ini disebabkan karena adanya aktifitas
mikroorganisme di dalam bahan, selain itu juga terjadi penggumpalan, perubahan warna dan dapat dilihat tumbuhnya jamur. Serangan hama tikus
ditandai
adanya lubang, kotoran atau sarang,
dan bau urine tikus.
Pemicu kerusakan pakan di dalam gudang dapat
terjadi karena beberapa hal:
(1)
Tidak adanya pengaturan udara
(ventilasi)
yang
baik,
menyebabkan timbulnya panas (kenaikan
suhu)
dan kenaikan
kadar air yang
memungkinkan
terjadinya pengembunan pada tumpukan bahan pakan dan
pakan. Keadaan ini
mengundang serangan hama jasad renik maupun serangga.
(2)
Perlakuan yang kurang baik terhadap bahan pakan dan pakan sebelum digudangkan, seperti
pengeringan, pembersihan dan
pengemasan.
(3)
Tidak dilakukan
fumigasi
atau
cara-cara
pencegahan
lainnya
terhadap
aktifitas hama
(4)
Keadaan gudang yang kurang bersih dan kurang terawat menyebabkan
banyaknya
tikus dan berbagai hama lainnya.
d). Mengatasi kerusakan
Tindakan untuk mengatasi kerusakan
bahan pakan dan pakan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu tindakan pencegahan (preventif) dan tindakan
pemberantasan hama (kuratif).
Secara umum
untuk mengatasi kerusakan
bahan pakan dan pakan dapat dilakukan dengan cara mengatur kondisi
lingkungan
serta penggunaan insektisida/fungisida,
maupun rodentisida.
a). Mengatur kondisi
lingkungan
Pengaturan kondisi lingkungan lebih bersifat pencegahan, dengan
melakukan pengaturan
terhadap kelembaban udara, suhu udara serta
kebersihan gudang
dan lingkungannya. Kondisi
di Indonesia suhu udara berkisar 22-34ºC, kelembaban 52-89%, dengn curah hujan yang tinggi. Sementara kondisi
yang ideal untuk gudang
penyimpanan adalahpada suhu18ºC dengan
kelembaban 65%.
b). Penggunaan insektisika, fungisida, dan
rodentisida
Insektisida dan
fungisida merupakan racun untuk memberantas hama serangga dan
jamur. Racun yang digunakan dapat berupa racun kontak,
racun pencernaan dan racun pernapasan atau
fumigan. Beberapa jenis
insektisida kontak antara lain Lindane, Dichlorvos, Benzene Hexachlorida,
Dieldrin dan sebagainya. Beberapa jenis fumigan antara lain Phostoxin, Karbon
disulfida (CS2), Metilbromida, Gas hidrosianida (HCN) dan sebagainya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar